Jumat, 05 Juni 2015

Perjalanan Sebuah Harap.

"Selamat siang pak"
"Hehehehe ini masih pagi dek"
--
Jam menunjukkan pukul sepuluh, beberapa orang masih menganggapnya pagi, demikian juga seorang bapak yang duduk di bangku depanku ini. "Ah, perjalanan dimulai". batinku berkecamuk memikirkan perasaan cemas yang tak kunjung hilang. "Ada masalah apa Dek? kok roman-romannya sedang gelisah?" Bapak yang duduknya berhadapan denganku ini kepo mulai bertanya-tanya masalah orang lain dalam kasus ini,masalahku. "Oh, tidak ada apa-apa pak" Jawabku sambil mencoba tersenyum ramah. Roda-roda besi ini merambat dan berdetak seolah ramai padahal senyap. Alur lambat dan sepoi angin menelisik melalui jendela menambah syahdu perjalanan ini, sejenak membuatku lebih tenang. Hutan jati dan siluet Gunung Lawu nampak tersusun manis menghiasi horizon. Ketenangan ini mengantarku menuju lelap.
--
Sinar mentari menelisik selaput kelopak mataku, membuatku terjaga. Stasiun Lempuyangan telah terlewati giliran siluet Pegunungan Menoreh yang kali ini memamerkan tubuh agung dengan kokohnya. "Nuwunsewu, Bapak makan siang dulu ya dek". Bapak di depanku ini tiba-tiba sudah membuka nasi bungkusan sepertinya berisi nasi dan lauk suwiran ayam, dihiasi sambal apa adanya. "imjih,monggo Pak" sambil tersenyum kucoba ramah dengan bapak itu. "Sudah bekerja Dek?". "Belum pak". "Oh, lha ini tujuannya kemana?". "Bandung pak" interogasi bapak ini sebenarnya membuatku tidak nyaman. Penampilannya ya tipikal bapak-bapak, mengenakan baju batik bermotif mega mendung yang lusuh. bercelana kain biru dongker... oh bukan,ketika cahaya mentari mengenai celananya ternyata berwarna maroon gelap. kumisnya tebal, alis matanya tebal, bibirnya tebal, ah... rambutnya tipis. Semerbak wangi tembakau kering mengitarinya, sesekali kacamata tebalnya memantulkan cahaya mentari ke wajahku.Lama bapak itu terdiam, sesaat kemudian dia memejamkan matanya dan sesekali mengambil nafas panjang. "Perjalanan ini akan menjadi sebuah titik balik hidupmu Dek". "Ha? malsud Bapak?" aku tercengang dengan perkataan bapak itu... "Apa maksdunya Pak?" aku mengulang lagi pertanyaanku bak beo yang belum bisa mencerna keadaan dengan logis. Bapak itu hanya tersenyum tipis, atau entahlah, aku tak bisa membaca senyum dari kumis tebal itu."Oh sebentar lagi stasiun Tasikmalaya, maaf Dek,Bapak harus turun, jaga diri baik-baik ya". Sesaat sang Kahuripan berhenti di stasiun Tasikmalaya, bapak itu bergegas turun. Aku terus memandanginya penuh tanda tanya. "Apa maksud bapak itu?" Tak lama aku meneliti lagi undangan yang kupegang, sebiah kartu aneh hanya bertuliskan "Selamat Bergabung, Ibumu menunggumu".
---
"Buanaputri sudah diamankan, Regu Parahyanganm segera jemput dia di extraction point". Bapak itu mematikan kominikasi radionya, "Semoga kamu adalah jawaban atas segala keresahan kami," Hela nafas panjang mengiringi bisikan kecil "Ratriwardhani, semoga anakmu bisa meneruskan jejakmu sebagai Penjaga Trah Bahureksa Pertiwi Nusantara". terduduklah dengan pasrah ia mencabut kumis palsunya dan mulai menghirup asap kretek cengkihnya dalam-dalam. lalu menerawang langit.
--
Stasiun Tasikmalaya, 1992.

Kamis, 04 Juni 2015

Terukir Nama

Beberapa hari ini Raka mengalami mimpi buruk yang sama, dia dihantui bayang-bayang kematian yang pedih, tubuhnya menjadi renta dan dia mati tersayat oleh sesuatu yang begitu raksasa, keras dan masif, bayangan itu tak berbentuk manusia hanya sebuah bayangan hitam tanpa wujud yang jelas, dan ukurannya yang menjulang besar ke langit membuatnya tak terlihat seperti makhluk apapun, bukan makhluk supernatural yang selama ini dia ketahui dari buku maupun film. Banyak orang pintar yang mengaku takut dan angkat tangan kala ditanya apa solusi dari mimpi Raka tersebut selama kurun waktu lima hari terakhir ini. "Maaf mas 'Ka itu di luar kemampuanku, sehebat apapun aku, aku hanya manusia biasa yang tak bisa menangkal apapun itu yang terus membayangi jiwamu" adalah kata seorang ahli supernatural sekaligus kerabat terdekat Raka, seorang ahli spiritual terakhir yang Raka tanyai.  Mimpi-mimpi buruk itu membebani Raka di setiap tidurnya, belum hilang duka akan kematian kekasihnya Rara, diikuti wabah penyakit demam aneh yang melanda teman-temannya, kenapa masih harus ditambah dengan mimpi buruk itu berulang kali diputar dalam tidurnya.

Hingga pada suatu hari ketika ia mencoba mengenang kekasihnya dengan memandangi foto-nya di laptop miliknya dia tersadar, tepat ketika dia menghentikan untuk menekan next pada track pad. Sebuah imaji digital yang diambil sekitar tiga bulan yang lalu, mungkin kurang, terdapat fotonya didepan sebuah ukiran besar yang dia buat dengan alat seadanya di sebuah batu aneh di puncak gunung tertua di dataran Jawa. Dia mengukir namanya dan nama kekasihnya di sebuah batu besar di puncak gunung tersebut. Dengan bangga ia meminta kawan-kawannya untuk mengabadikan dirinya di depan ukiran nama tersebut. Dia terhenyak sekejap, keringat dingin mulai menetes melalui pelipisnya, tunggu dulu, itu bukan keringat, ketika dia mengusapnya... itu... Diiringi dengan suara gemuruh panjang dan gempa berskala 5 SR, sebuah rumah mewah di kawasan elit Jakarta rata dengan tanah dan diantara puing-puing tersebut seperti ada yang menulis diatas pasir pantai dengan jari, terbaca Mahameru.

- terinspirasi dari lagu berjudul Batu Tua - Tiga Pagi.

Rabu, 12 November 2014

Setelah Kebekuan

Kau tak tahu apa yang telah terjadi padamu setelah seribu tahun dibekukan dalam sebuah tabung cryogenic. Ketika kau telah tiba di sebuah peradaban asing tanpa mengenal satupun orang-orang disekitarmu, ketika kau pulang dan yang kau temukan hanya sebuah reruntuhan yang tak layak lagi kau sebut rumah, ketika kau masuk, tak ada lagi benda familiar yang bisa kau lihat. Tak ada lagi sanak famili yang kau kenal, kau menyusuri sebuah kota lama dengan segala wajah baru. Kau sendirian. Berjuang melawan keterasingan dirimu sendiri. Marah dengan keadaan yang ada.

"kenapa kalian membekukanku?", "apa gunanya aku disini, ketika apa yang kuketahui sudah tak ada lagi?". Lelah kau berjalan, kau tertidur di bangku taman. Lelap kau bermimpi. Tak nyenyak kau terbangun. Kau melihat sebuah patung raksasa di tengah taman, kau mendekatinya. Kau mengusap matamu perlahan, lalu kau membaca tulisan di bagian bawah patung itu. "Untuk anakku, Semoga kau senang dengan kado ulang tahunmu hari ini, tepat seribu tahun setelah invasi extraterrestrial itu, ketika kau membaca ini, kami berbahagia, kau telah kembali, dari ayahmu, Rayleigh Fransworth". dan ketika kau membaca keterangan di bawahnya, kau tahu, bahwa ayahmulah pemimpin regu perlawanan terhadap invasi itu. kau kemudian larut dalam hening, dan berucap syukur. Terima kasih ayah.

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Rabu, 08 Oktober 2014

Kaira.

Gawat kompetisi sudah dimulai, para pangeran dari segala penjuru pangea berkumpul untuk beradu kekuatan demi menjadi yang terpilih untuk audisi calon suami dari puteri sang kaisar. Tema kali ini adalah turnamen duel yang diselenggarakan di stadion sentral kekaisaran ibukota pangea timur. Kaira bukanlah seorang anak raja, dia hanya seorang pedagang asongan yang selalu memutari stadion untuk menjajakan sekadar minuman ringan dan minuman dingin. dia sangat mengagumi sang puteri. terkadang dia berhenti sebentar bersandar pada pilar besar stadion sambil memandangi wajah sang putri "Ah Puteri Zelian, parasmu rupawan menawan setiap insan, tak peduli pria ataupun sesama".

Setelah berlangsung selama lima belas jam, turnamen itu memasuki babak semifinal dimana pangeran negeri utara melawan pangeran negeri pulau seberang, mereka beradu kesaktian, pangeran negeri utara mampu mengeluarkan sihir es dari tongkatnya, sedangkan pangeran negeri pulau seberang mampu berselancar di udara. Pangeran utara melancarkan serangan balok-balok es raksasa berbentuk seperti stalagtit mengarah ke segala penjuru, pangeran pulau seberang dengan lincah menghindari semua serangan itu. Namun nahas, beberapa balok es itu menukik tajam ke arah balkon keluarga kaisar, dan tepat mengarah ke Puteri Zelian. penonton hening beberapa saat, kedua pangeran pun menghentikan aksinya.

Balok es yang terbang itu tertahan oleh tubuh kurus Kaira yang telah melompat heroik menuju balkon kekaisaran. Puteri Zelina tersentak dan memandang dengan penuh diam, kemudian kiara bergetar, "tuan puteri maafkan hamba yang sudah kurang ajar, melompat menuju balkon ini, tapi ini semua murni karena hamba sayang paduka dan tak ingin paduka tuan puteri terluka". sang kaisar yang mendengar kata-kata itu langsung berwajah merah padam, dia murka, "Hai kamu anak kaum jelata, pergi jauh-jauh meskipun kau telah menyelamatkan puteriku bukan berarti kau bisa menyatakan perasaanmu padanya...".

Perkataan kasar sang kaisar membuat Kaira tersinggung, dengan cepat ia merangkul sang puteri dan melompat turun dari balkon. "hey kamu memang kaisar tapi kamu tak berhak menyinggung perasaan orang lain... sekarang tangkap aku kalau kau bisa". Kaira berlari sangat cepat dan menhilang ke dalam hutan.

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Jumat, 16 Mei 2014

chocomaniac

Hai namaku dinda, aku bekerja sebagai seorang copywriter di sebuah agensi periklanan yang cukup dikenal di jakarta. Setiap kali aku bekerja aku selalu diantar jemput oleh pacarku, aku suka aroma pacarku, salah satu moodbooster setiap kali menikmati perjalanan panjang menuju tempat kerjaku, salah satu pelepas stress di kala macet, aku memanggil pacarku dengan panggilan sayang, kakao. Karena kalian tahu kenapa? Karena aroma cokelat yang selalu saja merasuk di kedua rongga hidungku ketika menghirupnya. Pernah sesekali dia tak memakai pewangi itu di tubuhnya, aku ngambek, marah, seharian emosiku tak terarah. Hal lain yang memberiku semangat dan inspirasi dalam bekerja adalah, segelas cokelat hangat bermerek Enervaltine. Cokelat hangat racikanku sendiri yang selalu aku seduh setiap sampai di kantor, tanpa meminum itu, kinerjaku bisa melorot tak terkendali. Aku tak pernah sarapan, aku selalu menyiapkan brunch di istirahat siangku, beberapa butir ferrero rocher yang kubalut dengan selai nutella. Cukup mengantarkanku ke ujung gerbang nirwana, dan energiku pun terisi kembali. Pernah sekali aku tak membawa kotak brunch ku, aku memilih tidur di mushalla kantor dan tidak melanjutkan pekerjaan meskipun itu hampir tenggat waktu proyek.

Hai namaku dinda, kini aku sedang kehabisan cokelat. Aku malas bertemu pacarku dan tidak mood berangkat bekerja.  Apa aku sudah gila?

Rabu, 12 Februari 2014

Terlambat

Bulu-bulu itu berserakan, beterbangan…

Halo namaku Kinai, aku seharusnya tidak disini, kamar ini terlalu sempit untukku, lantainya masih berupa tanah keras yang suhunya bisa turun drastis saat malam hari, dindingnya terbuat dari anyaman rotan tua yang sudah lapuk dimakan usia, belum lagi lubang di sini-sana. Di ruangan berukuran tiga kali tiga meter ini aku merenung telentang diatas sealas tikar plastik usang yang entah sudah terpakai berapa kali, hingga warnanya begitu kusam dan berdebu. Dalam hati aku bertanya, bagaimana bisa aku disini?, dimanakah aku sebelumnya?

Debu-debu menyeruak di udara….

Semakin tak kumengerti, semua bukti mengarah ke tempat itu, gubuk tua di atas bukit gelap. Hanya saja ketika aku menyelidiki dan menginvestigasi tempat itu, tak kutemukan Kinai. Ah, aku belum mengenalkan diri, namaku Albatross, seorang pemuda yang sangat mungkin mencintai Kinai. Pesan-pesan berantai itu tepat dikirim padaku, hanya saja aku tak begitu menganggapnya penting, dan hanya perbuatan iseng belaka. Aku menyangka itu hanya keisengan mantan Kinai yang cemburu padaku, gara-gara dirikulah Kinai putus dengan Elang. Seluruh pesan-pesan berisi ancaman, dan teror, bahwa Kinai diculik. Pertamanya aku hanya tergelak, namun semua berubah ketika tiga hari yang lalu, aku tak menemukan Kinai lagi, dan tak ada satupun pesan darinya padaku. Namaku Albatross, aku belum yakin apa aku benar-benar mencintai Kinai, akupun belum menyatakan perasaanku.

Hutan berselimut kabut…


Aku Elang. Sekarang berada tujuh kaki di bawah tanah, bersama mantan kekasihku Kinai. Dalam hati sebenarnya aku menyesal, kenapa tak kulepaskan saja Kinai, toh mungkin aku bukanlah lelaki terbaik untuknya.

ff2in1 : The Passenger - Let Her Go

Sabtu, 18 Januari 2014

Membebaskanmu

Desing suara meriam foton begitu bising di telinga hanuman. Sambil memanggul shinta di bahu kanannya, hanuman meloncat lincah di antara bangunan-bangunan megah negeri alengka, tak satupun sinar foton meriam melukai tubuh mutant bertipe kera itu. Tak lama atap istana megah berbentuk kubah raksasa sebagai simbol sentral negeri alengka terbuka, tampak kaisar ravana melompat menuju puncak atap yang terbuka itu, kemudian terdengar deru mesin raksasa menggema dari atap istana yang terbuka. Kaisar Ravana yang sedang melayang di angkasa tertawa lebar. “kau mungkin bisa mengalahkan semua prajuritku, menghindari serangan meriamku, tapi setelah ini  aku tak bisa menjamin keselamatanmu wahai kera!” tetiba asap mengepul memenuhi istana Kaisar Ravana. Tampak bayangan hitam muncul dari kepulan asap itu. Hanuman tak menghiraukan sama sekali Kaisar Ravana atau apapun yang ada di belakangnya, ia terus menerjang maju menuju pintu gerbang istana. Kepulan asap menghilang perlahan, bayangan hitam menutup sebagian area istana, di angkasa tampak sesuatu mengerikan namun begitu agung. Sebuah kendaraan robotik berwajah sepuluh, dengan satu wajah besar di dadanya, satu di bagian kepala, tiap pasang di kedua kepala dan kakinya. “Hanuman bersiaplah!! Hadapi ini Dasamuka X-99!“. dari setiap mulut wajah robot itu terlihat mengisi energi, kemudian BLAM! sepuluh mulutnya mengeluarkan misil sinar menuju Hanuman. “Kanjeng Nyai Shinta, hamba mohon tahan nafas paduka”. Hanuman melakukan manuver-manuver luar biasa untuk menghindari tembakan sinar itu. Akhirnya Hanuman telah sampai di bagian luar gerbang Alengka. “Paduka Prabu Rama sudah menunggu di atas bukit, beliau tak berhenti menembakkan panah energi ke arah istana, hamba masih punya urusan disini” Lalu Hanuman memalingkan tubuhnya dan melompat melampaui gerbang Alengka kembali ke dalam. “Hati-hati Hanuman” Shinta berbisik lirih, lalu pergi berlari menuju Prabu Rama. Hanuman melompat tinggi “Aku tak takut akan kendaraanmu Prabu Ravana, HEAAAHHH!!”. Hanuman melepaskan gelombang energi yang sangat besar kemudian mengeluarkan gada sepi angin sebagai materialisasi energi yang ada di tubuhnya. Dasamuka X-99 pun melepaskan enrgi yang sangat besar. Tak ada yang tahu apa yang terjadi ketika dua energ I besar itu saling bertumbukan yang terlihat hanya sinar putih berkilat disusul sebuah ledakan besar yang menggetarkan dunia. 

Rabu, 01 Januari 2014

Jauh

Pesawat lintas nebula Galeon 170x sudah lepas landas dari pangkalan pusat studi antariksa IGRA (International  Galactic Research Association). Aku sendiri sudah sangat-sangat cemas apa benar image yang ditangkap oleh teleskop pindai itu bukan ilusi. Banyak foto yang sudah dikirim oleh drone dari stasiun luar angkasa milik GRAI, banyak bukti sudah dikirim dari foto beresolusi sepuluh ribu megapixel tersebut. Semua rover juga telah membuktikan kalau planet tersebut memiliki permukaan yang stabil dan ramah untuk dihuni. Perasaan bersemangat dan cemas campur aduk di dalam diriku. Banyak sekali ekspektasi yang mungkin belum tentu terjadi, tapi aku sendiri yakin dan optimis semua yang akan terjadi adalah hal-hal positif.
Galeon 170x sudah menempuh separuh jarak dari total empat juta tahun cahaya. Dan warp state nya masih akan terus berlangsung. Kulihat bahan bakar sepuluh roket booster nya juga masih cukup. Ah sebentar lagi kawanku, mimpi kita akan terwujud. Aku memeluk erat foto kawanku satu itu. Kita selalu bersama ketika project planet scolia xj78, hanya saja hal itu belum sempat dapat dirasakan kawanku, di sudah lebih dulu menghadap Sang Kuasa. Dia terkena radiasi polutan yang mulai merasuki dome koloni kami.  Tak lama planet scolia sudah nampak di monitor. Sebuah planet yang sedikit lebih besar dari planet kami Gaea.
Monitor telah menunjukkan kalau pesawat kami sudah mendekati atmosfir planet scolia. Ah ya aku telah melihat permukaan planet scolia xj78. Sungguh lanskap yang indah.
Tak lama kujejakkan kakiku keluar dari kapsul awak pesawat lintas nebula. Sebuah bayangan mendekatiku dari belakang, kemudian menepuk bahuku. “akhirnya kau sampai juga kawanku”. Aku menoleh dan tak lama senyum dan airmata mulai nampak dari sisi wajahku. “hai kawan, lama sekali kita tak bersua”. Aku memeluknya erat. “mari kita mulai peradaban baru dari sini”.

ff2in1 

Ello;Barry;Ipank;Lala Karmela - Buka Semangat Baru

Warp

“Terlambat, terlambat”  Helen melihat arlojinya yang basah terkena rintik hujan hari itu. Helen terus berlari melalui jalan setapak berpaving batu sedimen yang berpola art deco. Di sepanjang jalanan kampung kecil Heisenberg. Aku dari tadi mengikutinya dengan rasa penasaran, apa yang hendak dia lakukan di malam yang dingin di tengah gerimis salju tipis ini? Saat ini adalah malam terpanjang di musim dingin. Hari ke dua puluh tujuh di bulan ke enam penanggalan Raja Metatron. “semoga masih sempat ya” ujar Helen sambil memandangku. “sempat apa sih sebenernya len?” tanyaku yang hanya dibalas senyum manis Helen. Aku semakin tidak paham sikap Helen saat ini. “kita hampir sampai, kamu udah siapin semua yang aku brief kemaren malam kan?” Helen memelankan langkahnya dan merapikan mantel bulu merioaknya. Aku hanya menjawabnya dengan angggukan, karena aku benar-benar tidak tahu apa-apa tentang apa yang akan dilakukannya malam ini. Kamu melanjutkan perjalanan melalui serangkaian hutan oak, dan sampailah di penghujungnya, sebuah stepa luas yang tertutup salju, jenna steepe.
“itu dia, kamu lihat kan?” Helen menunjuk ke sebuah lumbung tua di ujung padang rumput. “Lumbung gandum tuan jeoffrey?” Helen mengangguk mantap dan senyumnya mengembang, lalu tangannya menarik lenganku dan berlari dengan sangat terburu-buru. Sesampainya di lumbung tua itu Helen mengambil tas ranselku dan aku disuruh Helen untuk menunggu di luar. “jangan kemana-mana ya? Tolong dengar aba-abaku”.  Pintu lumbung kayu itu terkunci dari dalam. “hoi, mulai hitung mundur dari sepuluh ya?”  teriak Helen dari atap lumbung. “untuk apa? Dan kamu kok bisa secepat iru berada di atas?”. “sudahlah jangan tanya hitung aja, mulai ya!!” “10….9…8…7…6…5…4…3…2…1 “
Hanya itu yang kuingat, berikutnya tiba-tiba aku berada di ruangan kosong ini dengan sebuah catatan kecil di tanganku bertuliskan, “selamat ulang tahun masehi.”

ff2in1 nulisbuku "Auld Lang Syne" - Mariah Carey

Jumat, 27 Desember 2013

Abadi

Langkah kaki Srindit secepat kilat dan sehening angin. Para pengantar pesan Adipati Maesa terhenyak dan tersentak, mana mungkin ada manusia bias amemiliki ilmu kanuragan setinggi itu di tanah setinggil ini. dalam sekali hentak mereka terhempas oleh ilmu kanuragan Srindit yang luar biasa itu. "katakan pada Adipati Maesa kalau desa ini sudah dikuasai oleh Srindit, jangan harap kami mau membayar upeti lebih tinggi lagi". para pesuruh it tentu saja lari tunggang langgang.

sesampainya di bale joglo Adipati Maesa sudah menduga ini terjadi. kemudian ketiga pesuruh itu disuruhnya beristirahat di bale joglo itu. "adipati? jangan lakukan ini, berbahaya sekali Srindit itu" adipati  mesa diam dan tersenyum kecil melihat salah satu pesuruhnya itu berkeringat dingin setelah bertemu Srindit. "sudahlah tole aku tahu siapa yang aku hadapi"

di lereng gunung selogede itu angin bertiup lebih dingin dan lebih kencang dari biasanya, seorang resi merasa akan terjadi pertemuan dua kekuatan besar yang luar biasa. resi itu kemudian pergi mendelati lereng itu. dia melihat Srindit sudah berdiri tegak berdiam diri, di batas cakrawala terlihat pohon-pohon condong ke arah Srindit. 

sang resi bersembunyi diantara bebatuan, sembari melihat apa yang terjadi. tak lama gemuruh itu menjadi suara derap kaki. "sugeng rawuh Adipati Maesa" sambut Srindit dengan sinis. "aku tahu maksud tujuanmu kemari Srindit". lalu Adipati Maesa menyerang Srindit dengan kanuragan tertingginya, Srindit pun sama. sebuah ledakan besar terjadi. lalu sekelebat memori merasuki sang resi yang melihat cahaya itu. ternyata Adipati Maesa dan Srindit tak pernah bisa terpisah, sejak awal mula jagad ini ditemukan mereka selalu menemukan cara untuk bertemu dan bertarung. ada yang bilang mereka adalah musuh abadai, yang lain bilang mereka adalah kekasih. 

kemudian resi itu berajak menuju reruntuhan longsor lereng gunung itu, Srindit dan Adipati Maesa sudah lenyap. sang resi itu kemudian duduk bersila dan berdoa.



#FF2in1 nulisbuku "Dancing in the Rain, Women in seat 27a" - Mattias IA Eklundh

Senja Merona

“Kalem Boy!” teriakannya menggema di sepanjang gang sempit pinggiran kota surabaya. Boy yang diteriaki malah kegirangan meskipun pukulan bertubi-tubi menghujam punggungnya. Sepeda kumbang reot itu dikayuh tanpa jeda, terus berdecit hingga mereka berdua sampai pada rumah bercat putih yang begitu asri, berada sekitar dua blok dari pemukiman mereka, itu adalah rumah felly, salah satu teman sekelas Boy. Mereka berhenti di seberang jalan rumah itu, tepat berada di bawah pohon mangga besar, “Sebentar lagi ren, tunggu disini, jaga dulu sepedaku ya”. “Boy? kamu akhir-akhir ini sering  sekali ketemu felly, kamu naksir felly ya?”. “hehehe”. Boy tidak menjawab pertanyaan itu, hanya meringis sebentar kemudian melengos pergi. Dia sebenarnya tidak suka kalau Boy selalau berdekatan dengan felly. Bisa dikatakan cemburu itu ada dan bercokol di dalam dirinya, hanya saja dia terlalu sabar untuk mengakuinya.
“lama banget sih, kalian ngapain aja tadi di dalem? Terus aku Cuma kamu jadiin tukang parkir penitipan sepeda?”. Bersungut-sungut ia memandang Boy. “maaf ya ren, pulang yuk?”. Dia berdiam mematung belum ingin beranjak dari tenpatnya berdiri. “Boy tau nggak sih, aku kepanasan, terus aku liat kamu enak-enakan di dalem rumah sama felly” giliran Boy yang terdiam, dia enggan mengatakan apapun. “kalian berdua sebenernya ngapain sih? Ngapain juga ngajakin aku kalau kamu sebenernya mau menghabisakan waktu sama felly?”. “kamu mau pulang gak sih ren?” Boy mulai menaikkan nada bicaranya. “kalau gak mau pulang ya udah aku pulang sendiri” lanjut Boy. Lalu boy pun menaiki sepeda kumbangnya dan berlalu.
Dia pulang berjalan kaki sembari menahan sesak yang menghujam jantungnya saat itu. “seharusnya aku jujur sama boy. Tuh kan, dia akhirnya suka sama felly, aduh bodoh banget sih aku… padahal kita lebih sering bersama, apa dia nggak sadar kalo kita ini sebenernya saling melengkapi?”. Terus ia berjalan pelan sambil menundukkan kepala dan berbicara pada dirinya sendiri. “saat kamu Boy, berkeliling mengantarkan koran, aku kan selalu ada di belakangmu, aku yang ngelemparin koran-korannya ke rumah orang-orang… pas kamu lagi sakit boy, kan aku juga yang gantiin kamu nganterin koran… boy..”
Kemudian bayangan itu muncul, dari belakang Boy memeluknya, “selamat ulang tahun Rena, ini kado buat kamu…”. Sebuah perhiasan handcraft sudah berada di dua telapak boy. “aku buat ini diajarin felly”.

Senja itu terlihat merona di matanya.

entry #FF2in1 nulisbuku.com 

Rabu, 04 Desember 2013

Oblivion

Dingin, dia tak lagi berbicara padaku, tak lagi menyapaku. Sejenak ku melihat wajahnya yang damai itu, senyumnya menyiratkan sesuatu, hanya saja matanya tak tertuju padaku. "Naila,.... " bisikkan lirihku mungkin tak akan pernah terdengar olehnya. " Aku memang sangat mencintaimu, bahkan mungkin terlalu mencintaimu ". Di sisi gelap kamar Naila, aku berdiri terpaku. Di dadanya ada bekas tujuh tusukan. Di tangan kiriku, kugenggam erat pisau penuh darah.

" Dok, lakukan sekarang... ". Anestesi itu membuatku tenang dan sangat damai, bahkan aku sudah tak ingat. apa-apa lagi semenjak memasuki asilum ini, yang kuingat hanya nama yang kubaca di papan nama ranjangku " Aku Naila ".

Selasa, 19 November 2013

Chronicles of Vania : chapter 00 - Prelude

Pukulan-pukulan maut Fafnir menghantam telak tubuh King Vossler. Kini Sang Raja hanya bisa terbaring lemah meregang nyawa. “maaf yang mulia, waktumu sudah habis, biarlah semua lenyap bersama dengan supernova, penjuru bumi ini sudah tua, tak kuat lagi menahan apapun”. Fafnir sang ketua pemberontak pergi beranjak meninggalkan Raja Vossler. Dengan suara parau raja vossler membisikkan pesan kepada seekor maeth  yang telah beliau simpan di sela mahkotanya. Maeth itu pun terbang meninggalkan jasad Sang Raja.
Anak buah Fafnir telah mengepung seluruh lorong dan bilik kerajaan. Semua anggota kerajaan sudah dibantai. Hanya saja mereka belum menemukan Ratu Valeria.
Di lorong rahasia bawah tanah sang Ratu Capital Kingdom Of Hashmal Valeria Von Vosslerberg bersama tiga pengawal elit sang raja, Brunderbanch Von Baurm, Maridrersch Von Fitch, Lucidronbauch Von Rorsteinn dan sang puteri kerajaan Vania Von Vosslerberg. Mereka mengendap-endap menuju kapsul terakhir kerajaan. Ratu valeria melepaskan gendongannya, dan mena ruh puteri Vania ke dalam kapsul penyelamat. Hanya sajja Fafnir telah sampai ke gerbang rahasia menuju kapsul terakhir. Brund, Marid, dan Lucid bersikukuh untuk menahannya, hanya saja Ratu tak mau beradu argumen dengan mereka bertiga. Ratu memilih menyegel mereka ke dalam tiga roket booster kapsul terakhir. Lalu sang Ratu mulai mengaktifkan hitungan mundur peluncuran kapsul tersbut. Fafnir telah sampai di tempat peluncuran, namun sang Ratu dengan sigap menghalangi Fafnir. Sang Ratu melepaskan segel terkuat kerajaan, Derr Destraktaad. Ledakan besar tepat terjadi setelah kapsul terakhir kerajaan Van Der Allez menembus atmosfir planet Fridgaea.
…
“kawan,  kurasa sudah saatnya”. Suara berat dan parau itu adalah Bruno. Seekor german shepherd raksasa berwarna cokelat burgundy. Dari ujung bukit. Melompatlah seekor kelinci putih dengan ukuran tak jauh berbeda dari Bruno. Kelinci itu adalah Lucio. Tak lama disusul suara gemuruh yang menggema dari tempurung Mario. Seekor kura-kura slider manggelinding turun dari bukit. Di punggungnya yang super besar itu seorang gadis remaja duduk dengan tenang. Tak terbersit sedikitpun rasa takut akan ketiga binatang raksasa itu.

“Bruno, Lucio, Mario… terima kasih” gadis itu tersenyum.  “sama-sama tuan puteri Vania” Lalu mereka ber empat beranjak menuju sebuah aerodrome.


-dedicated to my dearest friend.. happy birthday :)


Rabu, 29 Mei 2013

Beyond After


"Selamat Datang Rivera " mesin penjawab di pintu depan ini menyapaku, selalu saja menyapaku, ah aku bahkan tek pernah mengenalnya, kenapa dia sok akrab sekali, beberapa orang bilang itu sudah tugasnya, tapi tetap saja tidak nyaman mendengarnya. Aku terus saja berjalan tak memandanginya, tak membalas tegurannya, terus berjalan melewati lobby, memasuki elevator, memilih lantai -2351. Ada 17 rekan kerjaku saat itu di dalam elevator, namun kami tak bertegur sapa, bahkan tak sekalipun kami bertegur sapa, meskipun kami saling mengenal, karena berada dalam team yang sama. Elevator supercepat itu turun menembus lapisan kerak bumi dalam beberapa detik. Sesekali berhenti dan memuntahkan beberapa rekan kami di lapisan-lapisan tempat mereka bekerja, tidak ada salam hangat, ucapan selamat bekerja, dingin, diam, tanpa suara, hanya derap langkah mereka yang terdengar kian menjauh.

lantai -2351, tempatku bekerja sebagai anggota team penggali, kami menggali semakin dalam karena permukaan bumi sudah tak bisa digunakan lagi, tanah-tanah menghitam, udara memanaas, langit merah, samudera menghijau... asam. Tak ada lagi tempat untuk berkehidupan layak di permukaan. Kami terus berusaha hidup di dalam tanah. menghindari hujan asam, badai ultraviolet, badai pasir magnetik dan banyak lagi bencana alam yang sangat berbahaya.

Kami hampir menyerah, lapisan dalam bumi memadat, inilah yang kutakutkan... aku menggali terlalu dalam... ya, aku menggali hingga inti bumi. "peeeeppp peeeeeeppp" seketika itu pula alarm berbunyi, ternyata tim penggali lain juga telah menggali sampai inti bumi, sekitar 7,8 skala richter getaran terjadi. aku beserta tim ku hanya bisa pasrah. Tanpa suara kami saling memandang satu sama lain. aku melihat cahaya mata mereka yang meredup. dalam hatiku bergumam "ternyata kami tak ada bedanya dengan manusia, peradaban manusia sudah kami musnahkan, ternyata kami pun juga harus punah, revolusi kami berakhir pedih, seandainya kami memusnahkan manusia dua puluh millenium lebih awal mungkin ini semua tak akan terjadi ". Lengan bor kami saling bersentuhan, kami memang tak bisa bersuara, tapi frekuensi gelombang kepasrahan kami telah menyatu... biarlah bumi menelan kami, seperti kaum-kaum sebelum kami.

- diambil dari microchip memori internal Rivera GX-Driller 896, planet 3 tata surya solar. tahun 23980 AD

Selasa, 30 April 2013

Stellated Heartburning


Terengah-engah, berlumuran darah. Perisai pusaran masih aktif di kedua tanganku. Air mata belum kering mengalir sudah tertimpa air mata baru. Sebuah aliran dendam rindu yang tergenggam dan terpadu, menyeruak di genggaman kepalanku. Di hadapanku berdiri gadis yang begitu aku cintai. Ya cinta yang tertahan selama sewindu karena tak terbalas. “Twistar hentikan, aku tak ingin melukaimu...” Violena... dia berteriak serak, memandang nanar dengan isakan tangis yang bersimpuh memohon ini semua berakhir, atau lebih kepada ingin menghentikan dendam dalam jiwaku. Ekor beracun berayun lagi. Kali ini aku memutuskan untuk menerjang. Kibasan dan tusukan ekor Vio tidak ada yang bisa mengenaiku, ketika aku sepenuhnya menggunakan terjangan angin. Hentakan besar terjadi. Pukulan uppercut perisaiku telak mengenainya. Vio melesat jauh ke langit. Aku meloncat menyusulnya. Seketika itu aku melayang berada di hadapannya. “maaf, mungkin seharusnya aku tetap jadi sahabatmu”. Aku memeluknya di angkasa dan terjatuh bersama. Pusaran angin menyelamatkan kami dari hempasan penuh di atas tanah. “aku memaafkanmu, syukurlah kau bisa menerima keadaan” Vio tersenyum, bersama-sama kami menuju Gill, kekasih Vio yang kutawan.
Aku melepaskan mantra tornado pengikatku, Gill melompat turun lalu memeluk Vio. Mereka berdua memandangku dengan senyum mafhum. Hati kecilku tak terima kebersamaan mereka, akupun menarik ekor Vio lalu menghujamkannya ke dadaku sendiri. Dalam semenit racun itu meluruhkan nadiku. Namaku Twistar, ksatria angin rasi libra, terima kasih, aku pamit.

[inspired by M83 featuring Susanne Sundfor – Oblivion]

Sabtu, 09 Maret 2013

Bittersweet


“ selamat malam, mas che ada? “ terlihat siluet seorang  perempuan yang tampak begitu familiar, aku sudah lama tidak pernah bertemu dengannya. Yah tidak pernah lagi tepatnya setelah kita putus. Aku terdiam terkejut sejenak “ iya masuk aja nad, ada apa, malam-malam gini datang ke kost? “. Aku segera membuatkan cokelat panas, karena kondisi suhu di luar begitu dingin dan hujan rintik kecil sedang bersemangat-semangatnya menetes. “ oh, gini mas che, aku ini tadi dari dinas malam di rumah sakit deket sini, kebetulan kalau pulang kejauhan, jadi aku mampir ke sini aja hehehe “. Wah gila, emang ada apa di pikrannya, sebelumnya di begitu membenci aku pasca putus, tapi sekarang dia bisa melempar tertawa kecil kepadaku. Nadia tahukah kamu sudah setahun lebih inni aku selalu gagal untuk move on, atau lebih tepatnya diriku tidak menginginkan untuk move on, karena semua pemberianmu saat kita masih memadu kasih terlalu berharga untuk ditinggalkan.
Malam menuju larut, kami mengobrolkan apa yang kami lakukan selama ini, kemudian kami semakin mendekat. Perasaan itu muncul lagi, kupu-kupu yang seharusnya sudah mati, tiba-tiba seperti di hidupkan kembali dan terbang menabraki dinding perutku. Nafas ini menjadi berat, dan aliran darah berdesir cepat. Berikutnya yang aku tahu, bibir kami sudah menyatu, dilanjutkan oleh tarian malam yang begitu syahdu. Temperatur tubuh kami sudah naik, dan kulihat nadia sudah menanggalkan jaket dan seragamnya, kemudian yang aku tahu dia pun sudah dalam fase yang disebut plain naked.  Dengan posisi favoritmu ketika kita berasyik masyuk di jaman indah itu, namun yang kali ini berbeda adalah keberanianmu untuk lebih jauh dengan menanggalkan seluruh pakaianmu. Semakin syahdu kami memadu kasih. Jiwaku sudah tidak ada di bumi lagi.
Namun tidak lama kami mendengar suara langkah kaki. Aku mengintip keluar kamar sejenak, ternyata ibu kost sedang melakukan sweeping, aku meminta nadia untuk segera mengenakan pakainnya dan bersembunyi. Aku memasukkan sandal nadia yang ada di luar kost, dan tentu saja itu yang membuat kamarku luput dari pengecekan.
Setelah Nadia selesai mengenakan pakaiannya, aku mencari sebuah buku antologi. Di buku antologi tersebut beberapa karya nadia terpajang bersama 35 penulis lain. “ Tunggu dulu nad, nanti kamu aku antar pulang, sebelumnya aku masih mencari coffee shop chronicle, di situ ada tulisanmu kan, yang someone like you… aku suka membacanya nad, aku sebenarnya ingin meminta tanda tanganmu untuk bukuku.. tapi di mana ya? “ “ nggak usah mas che, aku nggak ikut nulis kok? “ aku terhenayak “ha?” padahal jelas-jelas namanya tercantum disana dan aku juga sudah memata-matai beberapa akunnya, someone like you pernah di tulis di blognya, tapi kenapa dia tidak mau mengakuinya?
Kemudian kami berdua meninggalkan kamar, di ujung lorong kamar kost, sudah ada ibu kost dengan memasang wajah seram berteriak-teriak. Aku dan Nadia berlari tanpa aba-aba, meloncati portal dan menerobos warung kopi. Kemudian kami beristirahat sejenak di salah satu warung kopi di seberang jalan. “kamu nggak laper nad?”. “ nggak mas che, kita langsung cabut aja, udah malem banget ini, keburu dini hari”. Aku segera menghabiskan teh hangatku dan segera mengambil sepeda motor di kos. Disitu tentu saja masih dijaga, tapi aku segera menjelaskan, ah mungkin keberuntungan atau apa, ibu kost masih memberi kesempatan, tapi kalau lain kali terjadi lagi, aku langsung di polisikan.
Seperti biasa perjalanan kutempuh selama 90 menit, dari daerah suburban Surabaya menuju ke tengah pemukiman kota sidoarjo. Namun kali ini  ada yang tidak biasa. Lingkungan rumah Nadia menjadi tidak familiar. Kali ini aku disuruh melewati jalan kecil dengan semak hitam di sisi kiri dan kanan. Ujungnya adalah rumah besar yang sangat gelap dan mencekam, mungkin mansion  lebih tepatnya. Setelah melewati pagar luar, Nadia memintaku untuk terus berjalan di atas motor, bahkan diminta untuk menabarak pintu kaca depan rumah. *BRANG!!* aku menabrakkan motorku di pintu kaca mansion itu. Anehnya diikuti dengan pecahnya seluruh bagian depan mansion itu.
Waktu menunjukkan pukul setengah tiga malam. Aku menjauhkan kaos hitam penutup mataku. Mengucek-ngucek mata. “ah…. Mimpi yang indah… namun di satu sisi beitu pahit” aku terduduk diam begitu lama di atas kasurku.


[ mono - legend ]

Sabtu, 02 Maret 2013

Semua Begitu Kejam Namun Benderang


“Kamu bilang semuanya akan berakhir sempurna?”. Piring hadiah mie instant itu melayang akurat ke dahiku, untungnya refleksku jauh lebih cepat, kalau tidak bisa dapat sepuluh jahitan di bagian alis, “Bersabarlah, ini semua belum berakhir, lihat jiwa kita masih berada dalam jasadnya belum lepas” aku terengah-engah, kau mulai mengambil piring ketigamu dengan sesenggukan. Lemparan ketiga pun berlangsung kali ini piring mahal Chinese dish yang kau lempar. Aku sudah berlari menjauh dari ruang makan. “apa guna kesakitan ini mas? Apa gunanya? Apa kau tak tahu sebegitu inginnya aku melepas putaran kesengsaraan ini…” kau tertunduk, hanya lesakan nafas yang terdengar, sesekali terdengar raungan lemah, “maafkan aku Nadine, sepertinya kau harus diam sebentar disini, aku harus mengurus sesuatu”. “ tunggu mas, ini belum selesai, mas.. berani sekali kau pergi, tunggu!! “ aku tak melihat ke belakang, aku memantapkan langkahku menuju ruang tamu. “apabila pintu ini terbuka, aku akan terlepas dari semuanya”. aku menekan kenop pintu utama rumah ini. Sebuah rumah dimana aku akan selalu terikat oleh dunia, dimana aku tidak akan pernah tenang, ah… maafkan aku Nadine aku telah berbohong padamu. Tapi kau harus kuat demi janin yang kau kandung, maafkan aku harus berbohong padamu…. Aku tak pernah lagi berada dalam jasadku, ya aku telah terlepas lebih dulu. Sedangkan kau masih memiliki tanggungan membesarkan anak itu. Kau harus tetap hidup. Sampai berjumpa di lingkaran kosmik sayang, aku akan selalu mengawasimu dari sana.
“Maaf mas, kamu benar, aku tahu maksudmu meninggalkanku…. Anak ini tidak boleh tahu siapa dirimu tapi aku yakin, anak ini adalah harapan terakhir bumi…. Kelak, kaulah yang akan menyelamatkan kita dari para raksasa bermata satu itu” Nadine mengelus perutnya dengan penuh kasih sayang, senyumnya terkembang lamat diiring sesekali tetesan air matanya. Sejenak cahaya matahari menyinarinya dari jendela dapur, “ah sinar matahari, sudah berapa lama aku tak merasakan hangatnya”. Nadine menoleh melihat kearah jendela. Ya, hanya puing dan reruntuhan disana, tapi kelak, selama harapan manusia tak berakhir, mereka bisa bngkit kembali.


[30 days 30 song to prose : All is Violent All is Bright by God Is An Astronaut]

Jumat, 01 Maret 2013

Be Mine


Sudah aku pertaruhkan semuanya, aku manjakan dirimu dengan apa yang aku punya, akankah kamu meyakiniku sebagai pasanganmu? Harus, tidak bisakah kamu lihat semua harta yang kuhabiskan untuk membelikanmu sekadar hadiah kecil untuk momen-momen berhargamu? Waktuku untuk setiap peristiwa dukamu? Aku merelakan diriku untukmu, bahkan andai bintang-bintang yang berkilauan dan tergantung di atasku ini adalah milikku, aku mengikhlaskan kau ambil. Tapi satu hal, aku ingin kau jadi milikku.
Aku hanyalah seorang karyawan kantoran biasa yang bahkan seringkali susah mengatur laju keuanganku. Kamu seorang gadis yang mesih menghabiskan waktumu bersenang-senang bersama teman-temanmu dan kuliahmu. Meskipun dengan harta yang pas-pasan aku merelakan penghasilanku untuk mentraktirmu makan, mengajakmu nonton, membelikanmu pulsa, bahkan aku selalu membelikan belanja bulanan untuk persediaanmu di kost. Aku juga selalau ada untukmu, aku mempersilakan dirimu untuk meminta bantuanku tanpa harus ada rasa sungkan. Hampir setiap hari aku mengantar jemput dirimu dari kampus ke rumah kostmu, aku ada di setiap galaumu, memberimu semangat, bahkan  kalau perlu aku juga selalu mengejekmu hamu sekedar untuk becanda, tiap malam tubuhku terasa lelah sekali. Sepulang kerja terkadang kau membutuhkan sesuatu, yah tapi semuamu itu kulakukan dengan sepenuh hati, ya, karena aku menyukaimu.
Rayuanku tak pernah masuk ke dalam dirimu, kenapa denganmu? Aku sudah merelakan diriku sepenuhnya untukmu, tapi responmu terhadap rayuanku selalu saja negatif, kau hanya suka bahan obrolan ringan seolah aku ini seorang teman biasamu. Tapi kadang aku berpikir, ya ini sebuah tahap, dan suatu saat aku pasti bisa menuju tahap berikutmu. Aku tetap berusaha optimis suatu saat kau bersedia untuk jadi milikku.
Malam itu adalah puncaknya, malam itu adalah tanggal dimana aku bertemu denganmu, aku memberanikan diriku untuk mengatakannya padamu, dengan sekotak cincin emas bermata berlian di dalam saku celanaku. Aku sudah memesan tempat di restoran premium yang bahkan kita tak pernah sama sekali kesana. Kamu sudah menghabiskan dessertmu namun ternyata kamu memiliki pertanyaan yang mengganjal semenjak kita berdua memasuki restoran ini. “Katamu ini acara kantor, dimana teman-teman dan bosmu?” kamu bingung sembari celingukan melihat meja-meja lain tanpa seorang pun rekan kerjaku. “ah, aku sudah terlanjur mengenakan gaun prom ku, ternyata kau berbohong, sebenarnya ada apa sih?”
Aku terdiam, menunduk, mengambil nafas dalam-dalam.
Aku mengambil kotak cincin itu dari saku celanaku
“Nay, kita sudah saling mengenal selama sepuluh tahun, kita bersahabat semenjak kita berdua masih remaja, namun kamu mungkin tidak mengetahui bahwa sebenarnya aku menyayangimu lebih dari sekedar sahabat, atau bahkan lebih dari sekedar ‘abang’, karena itu maukah kau menjadi lebih dari sekedar sahabatku, rekanku, kekasihku, …. Istriku, I love you nay, please be mine “
Dia tersenyum, kulihat pula basah di tepi matanya.

[Fiction from a song day 1 : The Heavy - Be Mine]

Rabu, 13 Februari 2013

Nadia dan Supernova


Aku bertemu Nadia lagi dalam mimpiku. Dia datang kepadaku ingin minta bantuanku untuk ikut repot di sebuah pementasan menyambut event... ah lupa, event apa saat itu... Setelah melewati masa putus selama satu setengah tahun. aku hanya bisa canggung. Bingung mau berkata apa. Nadia yang terus mengambil inisiatif pembicaraan, mengenai rencana seperti apa pementasan tersebut. Kami berjalan berdua menyusuri sekolah nadia, saat itu Nadia berseragam osis putih abu-abu. Pertama kami membicarakan pementasan itu di kantin sembari makan siang lalu berpindah ke sebuah pohon besar dekat lapangan basket sekolah. Sesekali aku melihat raut wajahnya yang penuh semangat menyampaikan gagasan-gagaasan kreatifnya. aku hanya bisa berucap dalam hati "hai nad" "apa kabar?" "ngapain aja kamu selama satu setengah tahun ini setelah berpisah denganku?" "apa kamu sekarang punya pacar baru?". Tak fokus aku dengan gagasan yang dia sampaikan aku hanya memandangnya nanar. mencoba mencari jawaban atas pertanyaan dalam bathinku itu. Aku lebih tua dari nadia dua tahun, nadia saat ini kelas tiga SMA sedangkan aku sudah berkuliah semester dua di salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Kita dulu bertemu di facebook, bermula dari curhat kecil Nadia yang sedang di stalking mantannya, aku mencoba membantu sebisaku, dan berakhir dengan berpacaran. Kisah kasih itupun hanya berlangsung selama satu setengah tahun, entah mungkin karena sindrom inferioritas yang aku miliki dan Nadia yang terlalu jenius yang membuatku merasa inferior.

Sekarang kami berdua berada di depan ruang baca sekolah Nadia. tetap saja aku tidak menghiraukan yang dibicarakannya. aku hanya terus memandanginya berceloteh. Memandangi dengan nanar. Pertanyaan dalam hatiku masih tidak terjawab. Entahlah, pada akhirnya aku membantu pementasan itu. Candaan kecil dan tawanya yang khas, sudah lama sekali aku tak mendengarnya, kangen sekali mendengarnya. Aku suka suaranya, ketika dia bersenandung, dia memiliki suara yang renyah namun indah, maklum dia adalah anggota paduan suara di sekolah, selain itu setelah lulus dia juga ingin menjadi seorang penyiar radio. "Gimana mas che?" tanyanya membuyarkan lamunanku tentangnya "ha? ya gitu aja udah bagus" aku terhenyak dan menjawab sebisaku. Ah tersenyum, aku selalu menyukai senyumnya yang lebar, tampak begitu optimis, seolah masa depan cerah menanti kita.


Malam itu aku keluar dari bumi, menuju sebuah panggung raksasa di perbatasan luar tata surya matahari. Aku berada di panggung tersebut, melihat-lihat, sebuah panggung yang begitu besar, dengan screen putih, korden merah besar yang terbuka, dan lantai kayu jati yang kokoh. aku terduduk di ujung panggung. terdiam dalam lamunan melihat perputaran planet tata surya. namun tiba-tiba aku terkejut. Matahari mati, terjadi supernova dahsyat yang membakar permukaan seluruh planet yang ada di tata surya. aku tak kuat menahan silaunya. dan tekanan dari ledakannya mendorongku beberapa mil dari ujung panggung. aku membesarkan ukuran tubuhku, mendekati bumi, berjalan pulang. Ketika aku samapi di dekatnya bumi sudah separuh dihisap oleh black hole sisa ledakan matahari. aku mengecil dan mencoba masuk ke dalam bumi. tidak ada yang tersisa semua musnah jadi abu. Tidak ada lagi udara, aku melayang mengelilingi bumi tapi tak ada siapapun disana. aku memutuskan untuk keluar dari bumi. kembali membesar aku memeluk bumi, dan menitikkan air mata. aku berjalan mundur, membiarkan lubang hitam itu menghisap bumi seluruhnya. setelah semuanya kosong aku berjalan menelusuri berbagai galaksi, hingga pada akhirnya aku terhenti pada tata surya yang mirip sekali dengan tata surya milik matahari, hanya saja yang ini lebih besar dengan susunan planet yang lebih banyak. aku menemukan planet mirip sekali dengan bumi, hanya saja ukuran planetnya lebih besar dua atau empat kali dari bumi. aku masuk kedalam, aku bertemu sebuah keluarga, mereka menerimaku dengan baik, saat makan malam tiba  aku menceritakan asal-usulku dan planet yang aku diami. mereka tampak begitu antusias mendengarkan ceritaku. akupun tak menghentikan ceritaku meskipun sudah empat jam berlalu.

Kamis, 31 Januari 2013

Akhir Bulan di Awal Tahun

Dia masih terkapar di sudut kamarnya yang dipenuhi bau busuk makanan basi, pakaian kotor, dan berbagai macam tumpahan cairan tak jelas yang mulai mengering dan berkerak. "Mau kuambilkan makanan?" sepertinya aku mulai terbiasa bau kamarnya, karena sekarang aku sudah berada di dalamnya dan menawarkan diri mencoba menolong sebisaku. Sepintas ia melirikku dengan lesu, kemudian menggeleng semampunya. Kemudian aku mendekatinya dan duduk di sebelahnya, dia menyandarkan kepalanya ke bahuku. "Januari sudah hampir berakhir... besok aku gajian, ke Mbok Nah yuk.. mungkin nasi pecelnya bisa merecharge semangatmu?" aku mengelus rambut maroonnya yang acak-acakan. Dia hanya mendesis. "Kamu benar-benar ingin pulang sekarang?" aku mulai memberanikan diri menanyakannya langsung. Jeda diam yang lama. Sudah sepuluh menit berlalu pertanyaanku tak terjawab. Kulirik sejenak dia sudah terlelap di bahuku. Tak lama kemudian aku menyusulnya.


Pintu apartemenku terbuka, sebuah cahaya benderang menyilaukan menelusup masuk dan sebentuk siluet sudah berada di depanku. "Kenapa kau lama sekali... apa yang menahanmu.... " Aku menahan haruku, setetes airmata melaju pelan dari sudut mataku. "Aeon... ibumu sudah datang menjemputmu, ayo bangun" Aku mencoba membangunkan makhluk cantik yang melelehkan salivanya di bahuku itu. Sosok siluet itu kemudian mendekat "Etherion, lihatlah anakmu ini, dia begitu merindukanmu, sudah berhari-hari ini semangatnya hilang". Mata berbinar itu melirik ke arahku kemudian sepotong senyum sangat indah kuterima darinya. "Terima Kasih Chintya, telah merawat anakku selama ini" Suara Etherion yang indah itu, lama sekali tak mendengarnya, "Kapan aku bisa bertemu denganmu dan Aeon lagi Etherion?" Aku mengangkat sedikit tubuh Aeon dan menyerahkannya ke pelukan Etherion. Etherion hanya tersenyum penuh makna, kemudian dia menaruh telunjuknya ke dahiku.

...

31 Januari 2213
"Ah pertemuan itu seperti mimpi... " sembari kulihat lagi foto itu. Tak terasa sudah dua ratus tahun aku berada disini. Seberkas aroma manis menelisik dari arah belakang. "Jadi hari ini kita sarapan energi kosmik supernova lagi ya". Etherion kembali menaruh telunjuknya di dahiku... Damai sekali rasanya.

[che,31113]

Galau

: " moving my f**ing ass right now hap hap hap " ~me

Blogroll

: " we were slave of modernization and machine civilization " ~me