"Selamat siang pak"
"Hehehehe ini masih pagi dek"
--
Jam menunjukkan pukul sepuluh, beberapa orang masih menganggapnya pagi, demikian juga seorang bapak yang duduk di bangku depanku ini. "Ah, perjalanan dimulai". batinku berkecamuk memikirkan perasaan cemas yang tak kunjung hilang. "Ada masalah apa Dek? kok roman-romannya sedang gelisah?" Bapak yang duduknya berhadapan denganku ini kepo mulai bertanya-tanya masalah orang lain dalam kasus ini,masalahku. "Oh, tidak ada apa-apa pak" Jawabku sambil mencoba tersenyum ramah. Roda-roda besi ini merambat dan berdetak seolah ramai padahal senyap. Alur lambat dan sepoi angin menelisik melalui jendela menambah syahdu perjalanan ini, sejenak membuatku lebih tenang. Hutan jati dan siluet Gunung Lawu nampak tersusun manis menghiasi horizon. Ketenangan ini mengantarku menuju lelap.
--
Sinar mentari menelisik selaput kelopak mataku, membuatku terjaga. Stasiun Lempuyangan telah terlewati giliran siluet Pegunungan Menoreh yang kali ini memamerkan tubuh agung dengan kokohnya. "Nuwunsewu, Bapak makan siang dulu ya dek". Bapak di depanku ini tiba-tiba sudah membuka nasi bungkusan sepertinya berisi nasi dan lauk suwiran ayam, dihiasi sambal apa adanya. "imjih,monggo Pak" sambil tersenyum kucoba ramah dengan bapak itu. "Sudah bekerja Dek?". "Belum pak". "Oh, lha ini tujuannya kemana?". "Bandung pak" interogasi bapak ini sebenarnya membuatku tidak nyaman. Penampilannya ya tipikal bapak-bapak, mengenakan baju batik bermotif mega mendung yang lusuh. bercelana kain biru dongker... oh bukan,ketika cahaya mentari mengenai celananya ternyata berwarna maroon gelap. kumisnya tebal, alis matanya tebal, bibirnya tebal, ah... rambutnya tipis. Semerbak wangi tembakau kering mengitarinya, sesekali kacamata tebalnya memantulkan cahaya mentari ke wajahku.Lama bapak itu terdiam, sesaat kemudian dia memejamkan matanya dan sesekali mengambil nafas panjang. "Perjalanan ini akan menjadi sebuah titik balik hidupmu Dek". "Ha? malsud Bapak?" aku tercengang dengan perkataan bapak itu... "Apa maksdunya Pak?" aku mengulang lagi pertanyaanku bak beo yang belum bisa mencerna keadaan dengan logis. Bapak itu hanya tersenyum tipis, atau entahlah, aku tak bisa membaca senyum dari kumis tebal itu."Oh sebentar lagi stasiun Tasikmalaya, maaf Dek,Bapak harus turun, jaga diri baik-baik ya". Sesaat sang Kahuripan berhenti di stasiun Tasikmalaya, bapak itu bergegas turun. Aku terus memandanginya penuh tanda tanya. "Apa maksud bapak itu?" Tak lama aku meneliti lagi undangan yang kupegang, sebiah kartu aneh hanya bertuliskan "Selamat Bergabung, Ibumu menunggumu".
---
"Buanaputri sudah diamankan, Regu Parahyanganm segera jemput dia di extraction point". Bapak itu mematikan kominikasi radionya, "Semoga kamu adalah jawaban atas segala keresahan kami," Hela nafas panjang mengiringi bisikan kecil "Ratriwardhani, semoga anakmu bisa meneruskan jejakmu sebagai Penjaga Trah Bahureksa Pertiwi Nusantara". terduduklah dengan pasrah ia mencabut kumis palsunya dan mulai menghirup asap kretek cengkihnya dalam-dalam. lalu menerawang langit.
--
Stasiun Tasikmalaya, 1992.
Jumat, 05 Juni 2015
Kamis, 04 Juni 2015
Terukir Nama
Beberapa hari ini Raka mengalami mimpi buruk yang sama, dia dihantui bayang-bayang kematian yang pedih, tubuhnya menjadi renta dan dia mati tersayat oleh sesuatu yang begitu raksasa, keras dan masif, bayangan itu tak berbentuk manusia hanya sebuah bayangan hitam tanpa wujud yang jelas, dan ukurannya yang menjulang besar ke langit membuatnya tak terlihat seperti makhluk apapun, bukan makhluk supernatural yang selama ini dia ketahui dari buku maupun film. Banyak orang pintar yang mengaku takut dan angkat tangan kala ditanya apa solusi dari mimpi Raka tersebut selama kurun waktu lima hari terakhir ini. "Maaf mas 'Ka itu di luar kemampuanku, sehebat apapun aku, aku hanya manusia biasa yang tak bisa menangkal apapun itu yang terus membayangi jiwamu" adalah kata seorang ahli supernatural sekaligus kerabat terdekat Raka, seorang ahli spiritual terakhir yang Raka tanyai. Mimpi-mimpi buruk itu membebani Raka di setiap tidurnya, belum hilang duka akan kematian kekasihnya Rara, diikuti wabah penyakit demam aneh yang melanda teman-temannya, kenapa masih harus ditambah dengan mimpi buruk itu berulang kali diputar dalam tidurnya.
Hingga pada suatu hari ketika ia mencoba mengenang kekasihnya dengan memandangi foto-nya di laptop miliknya dia tersadar, tepat ketika dia menghentikan untuk menekan next pada track pad. Sebuah imaji digital yang diambil sekitar tiga bulan yang lalu, mungkin kurang, terdapat fotonya didepan sebuah ukiran besar yang dia buat dengan alat seadanya di sebuah batu aneh di puncak gunung tertua di dataran Jawa. Dia mengukir namanya dan nama kekasihnya di sebuah batu besar di puncak gunung tersebut. Dengan bangga ia meminta kawan-kawannya untuk mengabadikan dirinya di depan ukiran nama tersebut. Dia terhenyak sekejap, keringat dingin mulai menetes melalui pelipisnya, tunggu dulu, itu bukan keringat, ketika dia mengusapnya... itu... Diiringi dengan suara gemuruh panjang dan gempa berskala 5 SR, sebuah rumah mewah di kawasan elit Jakarta rata dengan tanah dan diantara puing-puing tersebut seperti ada yang menulis diatas pasir pantai dengan jari, terbaca Mahameru.
- terinspirasi dari lagu berjudul Batu Tua - Tiga Pagi.
Hingga pada suatu hari ketika ia mencoba mengenang kekasihnya dengan memandangi foto-nya di laptop miliknya dia tersadar, tepat ketika dia menghentikan untuk menekan next pada track pad. Sebuah imaji digital yang diambil sekitar tiga bulan yang lalu, mungkin kurang, terdapat fotonya didepan sebuah ukiran besar yang dia buat dengan alat seadanya di sebuah batu aneh di puncak gunung tertua di dataran Jawa. Dia mengukir namanya dan nama kekasihnya di sebuah batu besar di puncak gunung tersebut. Dengan bangga ia meminta kawan-kawannya untuk mengabadikan dirinya di depan ukiran nama tersebut. Dia terhenyak sekejap, keringat dingin mulai menetes melalui pelipisnya, tunggu dulu, itu bukan keringat, ketika dia mengusapnya... itu... Diiringi dengan suara gemuruh panjang dan gempa berskala 5 SR, sebuah rumah mewah di kawasan elit Jakarta rata dengan tanah dan diantara puing-puing tersebut seperti ada yang menulis diatas pasir pantai dengan jari, terbaca Mahameru.
- terinspirasi dari lagu berjudul Batu Tua - Tiga Pagi.
Label:
Batu,
cerpen,
flash fiction,
Gunung,
Nulisbuku,
NulisRandom2015,
Tua
Rabu, 12 November 2014
Setelah Kebekuan
Kau tak tahu apa yang telah terjadi padamu setelah seribu tahun dibekukan dalam sebuah tabung cryogenic. Ketika kau telah tiba di sebuah peradaban asing tanpa mengenal satupun orang-orang disekitarmu, ketika kau pulang dan yang kau temukan hanya sebuah reruntuhan yang tak layak lagi kau sebut rumah, ketika kau masuk, tak ada lagi benda familiar yang bisa kau lihat. Tak ada lagi sanak famili yang kau kenal, kau menyusuri sebuah kota lama dengan segala wajah baru. Kau sendirian. Berjuang melawan keterasingan dirimu sendiri. Marah dengan keadaan yang ada.
"kenapa kalian membekukanku?", "apa gunanya aku disini, ketika apa yang kuketahui sudah tak ada lagi?". Lelah kau berjalan, kau tertidur di bangku taman. Lelap kau bermimpi. Tak nyenyak kau terbangun. Kau melihat sebuah patung raksasa di tengah taman, kau mendekatinya. Kau mengusap matamu perlahan, lalu kau membaca tulisan di bagian bawah patung itu. "Untuk anakku, Semoga kau senang dengan kado ulang tahunmu hari ini, tepat seribu tahun setelah invasi extraterrestrial itu, ketika kau membaca ini, kami berbahagia, kau telah kembali, dari ayahmu, Rayleigh Fransworth". dan ketika kau membaca keterangan di bawahnya, kau tahu, bahwa ayahmulah pemimpin regu perlawanan terhadap invasi itu. kau kemudian larut dalam hening, dan berucap syukur. Terima kasih ayah.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
"kenapa kalian membekukanku?", "apa gunanya aku disini, ketika apa yang kuketahui sudah tak ada lagi?". Lelah kau berjalan, kau tertidur di bangku taman. Lelap kau bermimpi. Tak nyenyak kau terbangun. Kau melihat sebuah patung raksasa di tengah taman, kau mendekatinya. Kau mengusap matamu perlahan, lalu kau membaca tulisan di bagian bawah patung itu. "Untuk anakku, Semoga kau senang dengan kado ulang tahunmu hari ini, tepat seribu tahun setelah invasi extraterrestrial itu, ketika kau membaca ini, kami berbahagia, kau telah kembali, dari ayahmu, Rayleigh Fransworth". dan ketika kau membaca keterangan di bawahnya, kau tahu, bahwa ayahmulah pemimpin regu perlawanan terhadap invasi itu. kau kemudian larut dalam hening, dan berucap syukur. Terima kasih ayah.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Rabu, 08 Oktober 2014
Kaira.
Gawat kompetisi sudah dimulai, para pangeran dari segala penjuru pangea berkumpul untuk beradu kekuatan demi menjadi yang terpilih untuk audisi calon suami dari puteri sang kaisar. Tema kali ini adalah turnamen duel yang diselenggarakan di stadion sentral kekaisaran ibukota pangea timur. Kaira bukanlah seorang anak raja, dia hanya seorang pedagang asongan yang selalu memutari stadion untuk menjajakan sekadar minuman ringan dan minuman dingin. dia sangat mengagumi sang puteri. terkadang dia berhenti sebentar bersandar pada pilar besar stadion sambil memandangi wajah sang putri "Ah Puteri Zelian, parasmu rupawan menawan setiap insan, tak peduli pria ataupun sesama".
Setelah berlangsung selama lima belas jam, turnamen itu memasuki babak semifinal dimana pangeran negeri utara melawan pangeran negeri pulau seberang, mereka beradu kesaktian, pangeran negeri utara mampu mengeluarkan sihir es dari tongkatnya, sedangkan pangeran negeri pulau seberang mampu berselancar di udara. Pangeran utara melancarkan serangan balok-balok es raksasa berbentuk seperti stalagtit mengarah ke segala penjuru, pangeran pulau seberang dengan lincah menghindari semua serangan itu. Namun nahas, beberapa balok es itu menukik tajam ke arah balkon keluarga kaisar, dan tepat mengarah ke Puteri Zelian. penonton hening beberapa saat, kedua pangeran pun menghentikan aksinya.
Balok es yang terbang itu tertahan oleh tubuh kurus Kaira yang telah melompat heroik menuju balkon kekaisaran. Puteri Zelina tersentak dan memandang dengan penuh diam, kemudian kiara bergetar, "tuan puteri maafkan hamba yang sudah kurang ajar, melompat menuju balkon ini, tapi ini semua murni karena hamba sayang paduka dan tak ingin paduka tuan puteri terluka". sang kaisar yang mendengar kata-kata itu langsung berwajah merah padam, dia murka, "Hai kamu anak kaum jelata, pergi jauh-jauh meskipun kau telah menyelamatkan puteriku bukan berarti kau bisa menyatakan perasaanmu padanya...".
Perkataan kasar sang kaisar membuat Kaira tersinggung, dengan cepat ia merangkul sang puteri dan melompat turun dari balkon. "hey kamu memang kaisar tapi kamu tak berhak menyinggung perasaan orang lain... sekarang tangkap aku kalau kau bisa". Kaira berlari sangat cepat dan menhilang ke dalam hutan.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Setelah berlangsung selama lima belas jam, turnamen itu memasuki babak semifinal dimana pangeran negeri utara melawan pangeran negeri pulau seberang, mereka beradu kesaktian, pangeran negeri utara mampu mengeluarkan sihir es dari tongkatnya, sedangkan pangeran negeri pulau seberang mampu berselancar di udara. Pangeran utara melancarkan serangan balok-balok es raksasa berbentuk seperti stalagtit mengarah ke segala penjuru, pangeran pulau seberang dengan lincah menghindari semua serangan itu. Namun nahas, beberapa balok es itu menukik tajam ke arah balkon keluarga kaisar, dan tepat mengarah ke Puteri Zelian. penonton hening beberapa saat, kedua pangeran pun menghentikan aksinya.
Balok es yang terbang itu tertahan oleh tubuh kurus Kaira yang telah melompat heroik menuju balkon kekaisaran. Puteri Zelina tersentak dan memandang dengan penuh diam, kemudian kiara bergetar, "tuan puteri maafkan hamba yang sudah kurang ajar, melompat menuju balkon ini, tapi ini semua murni karena hamba sayang paduka dan tak ingin paduka tuan puteri terluka". sang kaisar yang mendengar kata-kata itu langsung berwajah merah padam, dia murka, "Hai kamu anak kaum jelata, pergi jauh-jauh meskipun kau telah menyelamatkan puteriku bukan berarti kau bisa menyatakan perasaanmu padanya...".
Perkataan kasar sang kaisar membuat Kaira tersinggung, dengan cepat ia merangkul sang puteri dan melompat turun dari balkon. "hey kamu memang kaisar tapi kamu tak berhak menyinggung perasaan orang lain... sekarang tangkap aku kalau kau bisa". Kaira berlari sangat cepat dan menhilang ke dalam hutan.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Jumat, 16 Mei 2014
chocomaniac
Hai namaku
dinda, aku bekerja sebagai seorang copywriter
di sebuah agensi periklanan yang cukup dikenal di jakarta. Setiap kali aku
bekerja aku selalu diantar jemput oleh pacarku, aku suka aroma pacarku, salah
satu moodbooster setiap kali
menikmati perjalanan panjang menuju tempat kerjaku, salah satu pelepas stress
di kala macet, aku memanggil pacarku dengan panggilan sayang, kakao. Karena
kalian tahu kenapa? Karena aroma cokelat yang selalu saja merasuk di kedua
rongga hidungku ketika menghirupnya. Pernah sesekali dia tak memakai pewangi
itu di tubuhnya, aku ngambek, marah, seharian emosiku tak terarah. Hal lain
yang memberiku semangat dan inspirasi dalam bekerja adalah, segelas cokelat
hangat bermerek Enervaltine. Cokelat
hangat racikanku sendiri yang selalu aku seduh setiap sampai di kantor, tanpa
meminum itu, kinerjaku bisa melorot tak terkendali. Aku tak pernah sarapan, aku
selalu menyiapkan brunch di istirahat
siangku, beberapa butir ferrero rocher yang
kubalut dengan selai nutella. Cukup
mengantarkanku ke ujung gerbang nirwana, dan energiku pun terisi kembali.
Pernah sekali aku tak membawa kotak brunch
ku, aku memilih tidur di mushalla kantor dan tidak melanjutkan pekerjaan
meskipun itu hampir tenggat waktu proyek.
Hai namaku
dinda, kini aku sedang kehabisan cokelat. Aku malas bertemu pacarku dan tidak
mood berangkat bekerja. Apa aku sudah
gila?
Rabu, 12 Februari 2014
Terlambat
Bulu-bulu itu berserakan,
beterbangan…
Halo namaku Kinai, aku seharusnya
tidak disini, kamar ini terlalu sempit untukku, lantainya masih berupa tanah
keras yang suhunya bisa turun drastis saat malam hari, dindingnya terbuat dari
anyaman rotan tua yang sudah lapuk dimakan usia, belum lagi lubang di
sini-sana. Di ruangan berukuran tiga kali tiga meter ini aku merenung telentang
diatas sealas tikar plastik usang yang entah sudah terpakai berapa kali, hingga
warnanya begitu kusam dan berdebu. Dalam hati aku bertanya, bagaimana bisa aku
disini?, dimanakah aku sebelumnya?
Debu-debu menyeruak di udara….
Semakin tak kumengerti, semua bukti
mengarah ke tempat itu, gubuk tua di atas bukit gelap. Hanya saja ketika aku
menyelidiki dan menginvestigasi tempat itu, tak kutemukan Kinai. Ah, aku belum
mengenalkan diri, namaku Albatross, seorang pemuda yang sangat mungkin mencintai
Kinai. Pesan-pesan berantai itu tepat dikirim padaku, hanya saja aku tak begitu
menganggapnya penting, dan hanya perbuatan iseng belaka. Aku menyangka itu
hanya keisengan mantan Kinai yang cemburu padaku, gara-gara dirikulah Kinai
putus dengan Elang. Seluruh pesan-pesan berisi ancaman, dan teror, bahwa Kinai
diculik. Pertamanya aku hanya tergelak, namun semua berubah ketika tiga hari
yang lalu, aku tak menemukan Kinai lagi, dan tak ada satupun pesan darinya
padaku. Namaku Albatross, aku belum yakin apa aku benar-benar mencintai Kinai, akupun belum
menyatakan perasaanku.
Hutan berselimut kabut…
Aku Elang. Sekarang berada tujuh
kaki di bawah tanah, bersama mantan kekasihku Kinai. Dalam hati sebenarnya aku menyesal, kenapa tak kulepaskan saja Kinai, toh mungkin aku bukanlah lelaki terbaik untuknya.
ff2in1 : The Passenger - Let Her Go
ff2in1 : The Passenger - Let Her Go
Sabtu, 18 Januari 2014
Membebaskanmu
Desing suara
meriam foton begitu bising di telinga hanuman. Sambil memanggul shinta di bahu
kanannya, hanuman meloncat lincah di antara bangunan-bangunan megah negeri
alengka, tak satupun sinar foton meriam melukai tubuh mutant bertipe kera itu. Tak
lama atap istana megah berbentuk kubah raksasa sebagai simbol sentral negeri
alengka terbuka, tampak kaisar ravana melompat menuju puncak atap yang terbuka
itu, kemudian terdengar deru mesin raksasa menggema dari atap istana yang
terbuka. Kaisar Ravana yang sedang melayang di angkasa tertawa lebar. “kau
mungkin bisa mengalahkan semua prajuritku, menghindari serangan meriamku, tapi
setelah ini aku tak bisa menjamin
keselamatanmu wahai kera!” tetiba asap mengepul memenuhi istana Kaisar Ravana. Tampak
bayangan hitam muncul dari kepulan asap itu. Hanuman tak menghiraukan sama
sekali Kaisar Ravana atau apapun yang ada di belakangnya, ia terus menerjang
maju menuju pintu gerbang istana. Kepulan asap menghilang perlahan, bayangan
hitam menutup sebagian area istana, di angkasa tampak sesuatu mengerikan namun
begitu agung. Sebuah kendaraan robotik berwajah sepuluh, dengan satu wajah
besar di dadanya, satu di bagian kepala, tiap pasang di kedua kepala dan
kakinya. “Hanuman bersiaplah!! Hadapi ini Dasamuka X-99!“. dari setiap mulut
wajah robot itu terlihat mengisi energi, kemudian BLAM! sepuluh mulutnya
mengeluarkan misil sinar menuju Hanuman. “Kanjeng Nyai Shinta, hamba mohon
tahan nafas paduka”. Hanuman melakukan manuver-manuver luar biasa untuk
menghindari tembakan sinar itu. Akhirnya Hanuman telah sampai di bagian luar
gerbang Alengka. “Paduka Prabu Rama sudah menunggu di atas bukit, beliau tak
berhenti menembakkan panah energi ke arah istana, hamba masih punya urusan
disini” Lalu Hanuman memalingkan tubuhnya dan melompat melampaui gerbang
Alengka kembali ke dalam. “Hati-hati Hanuman” Shinta berbisik lirih, lalu pergi
berlari menuju Prabu Rama. Hanuman melompat tinggi “Aku tak takut akan kendaraanmu
Prabu Ravana, HEAAAHHH!!”. Hanuman melepaskan gelombang energi yang sangat
besar kemudian mengeluarkan gada sepi angin sebagai materialisasi energi yang
ada di tubuhnya. Dasamuka X-99 pun melepaskan enrgi yang sangat besar. Tak ada
yang tahu apa yang terjadi ketika dua energ I besar itu saling bertumbukan yang
terlihat hanya sinar putih berkilat disusul sebuah ledakan besar yang
menggetarkan dunia.
Rabu, 01 Januari 2014
Jauh
Pesawat lintas nebula Galeon 170x
sudah lepas landas dari pangkalan pusat studi antariksa IGRA (International Galactic Research Association). Aku sendiri
sudah sangat-sangat cemas apa benar image yang ditangkap oleh teleskop pindai
itu bukan ilusi. Banyak foto yang sudah dikirim oleh drone dari stasiun luar
angkasa milik GRAI, banyak bukti sudah dikirim dari foto beresolusi sepuluh
ribu megapixel tersebut. Semua rover juga telah membuktikan kalau planet
tersebut memiliki permukaan yang stabil dan ramah untuk dihuni. Perasaan bersemangat
dan cemas campur aduk di dalam diriku. Banyak sekali ekspektasi yang mungkin
belum tentu terjadi, tapi aku sendiri yakin dan optimis semua yang akan terjadi
adalah hal-hal positif.
Galeon 170x sudah menempuh
separuh jarak dari total empat juta tahun cahaya. Dan warp state nya masih akan
terus berlangsung. Kulihat bahan bakar sepuluh roket booster nya juga masih
cukup. Ah sebentar lagi kawanku, mimpi kita akan terwujud. Aku memeluk erat
foto kawanku satu itu. Kita selalu bersama ketika project planet scolia xj78,
hanya saja hal itu belum sempat dapat dirasakan kawanku, di sudah lebih dulu
menghadap Sang Kuasa. Dia terkena radiasi polutan yang mulai merasuki dome
koloni kami. Tak lama planet scolia
sudah nampak di monitor. Sebuah planet yang sedikit lebih besar dari planet
kami Gaea.
Monitor telah menunjukkan kalau
pesawat kami sudah mendekati atmosfir planet scolia. Ah ya aku telah melihat
permukaan planet scolia xj78. Sungguh lanskap yang indah.
Tak lama kujejakkan kakiku keluar
dari kapsul awak pesawat lintas nebula. Sebuah bayangan mendekatiku dari
belakang, kemudian menepuk bahuku. “akhirnya kau sampai juga kawanku”. Aku menoleh
dan tak lama senyum dan airmata mulai nampak dari sisi wajahku. “hai kawan,
lama sekali kita tak bersua”. Aku memeluknya erat. “mari kita mulai peradaban
baru dari sini”.
ff2in1
Ello;Barry;Ipank;Lala Karmela - Buka Semangat Baru
Warp
“Terlambat,
terlambat” Helen melihat arlojinya yang
basah terkena rintik hujan hari itu. Helen terus berlari melalui jalan setapak
berpaving batu sedimen yang berpola art
deco. Di sepanjang jalanan kampung kecil Heisenberg. Aku dari tadi
mengikutinya dengan rasa penasaran, apa yang hendak dia lakukan di malam yang
dingin di tengah gerimis salju tipis ini? Saat ini adalah malam terpanjang di
musim dingin. Hari ke dua puluh tujuh di bulan ke enam penanggalan Raja Metatron.
“semoga masih sempat ya” ujar Helen sambil memandangku. “sempat apa sih
sebenernya len?” tanyaku yang hanya dibalas senyum manis Helen. Aku semakin
tidak paham sikap Helen saat ini. “kita hampir sampai, kamu udah siapin semua
yang aku brief kemaren malam kan?” Helen
memelankan langkahnya dan merapikan mantel bulu merioaknya. Aku hanya
menjawabnya dengan angggukan, karena aku benar-benar tidak tahu apa-apa tentang
apa yang akan dilakukannya malam ini. Kamu melanjutkan perjalanan melalui
serangkaian hutan oak, dan sampailah di penghujungnya, sebuah stepa luas yang
tertutup salju, jenna steepe.
“itu dia, kamu
lihat kan?” Helen menunjuk ke sebuah lumbung tua di ujung padang rumput. “Lumbung
gandum tuan jeoffrey?” Helen mengangguk mantap dan senyumnya mengembang, lalu
tangannya menarik lenganku dan berlari dengan sangat terburu-buru. Sesampainya di
lumbung tua itu Helen mengambil tas ranselku dan aku disuruh Helen untuk
menunggu di luar. “jangan kemana-mana ya? Tolong dengar aba-abaku”. Pintu lumbung kayu itu terkunci dari dalam. “hoi,
mulai hitung mundur dari sepuluh ya?” teriak Helen dari atap lumbung. “untuk apa? Dan
kamu kok bisa secepat iru berada di atas?”. “sudahlah jangan tanya hitung aja,
mulai ya!!” “10….9…8…7…6…5…4…3…2…1 “
Hanya itu yang kuingat, berikutnya tiba-tiba aku berada di ruangan kosong ini dengan sebuah
catatan kecil di tanganku bertuliskan, “selamat ulang tahun masehi.”
ff2in1 nulisbuku "Auld Lang Syne" - Mariah Carey
ff2in1 nulisbuku "Auld Lang Syne" - Mariah Carey
Jumat, 27 Desember 2013
Abadi
Langkah kaki Srindit secepat kilat dan sehening angin. Para
pengantar pesan Adipati Maesa terhenyak dan tersentak, mana mungkin ada manusia
bias amemiliki ilmu kanuragan setinggi itu di tanah setinggil ini. dalam sekali
hentak mereka terhempas oleh ilmu kanuragan Srindit yang luar biasa itu.
"katakan pada Adipati Maesa kalau desa ini sudah dikuasai oleh Srindit,
jangan harap kami mau membayar upeti lebih tinggi lagi". para pesuruh it
tentu saja lari tunggang langgang.
sesampainya di bale joglo Adipati Maesa sudah menduga ini terjadi.
kemudian ketiga pesuruh itu disuruhnya beristirahat di bale joglo itu.
"adipati? jangan lakukan ini, berbahaya sekali Srindit itu" adipati
mesa diam dan tersenyum kecil melihat salah satu pesuruhnya itu
berkeringat dingin setelah bertemu Srindit. "sudahlah tole aku tahu siapa
yang aku hadapi"
di lereng gunung selogede itu angin bertiup lebih dingin dan lebih
kencang dari biasanya, seorang resi merasa akan terjadi pertemuan dua kekuatan
besar yang luar biasa. resi itu kemudian pergi mendelati lereng itu. dia
melihat Srindit sudah berdiri tegak berdiam diri, di batas cakrawala terlihat
pohon-pohon condong ke arah Srindit.
sang resi bersembunyi diantara bebatuan, sembari melihat apa yang
terjadi. tak lama gemuruh itu menjadi suara derap kaki. "sugeng rawuh Adipati
Maesa" sambut Srindit dengan sinis. "aku tahu maksud tujuanmu kemari Srindit".
lalu Adipati Maesa menyerang Srindit dengan kanuragan tertingginya, Srindit pun
sama. sebuah ledakan besar terjadi. lalu sekelebat memori merasuki sang resi
yang melihat cahaya itu. ternyata Adipati Maesa dan Srindit tak pernah bisa
terpisah, sejak awal mula jagad ini ditemukan mereka selalu menemukan cara
untuk bertemu dan bertarung. ada yang bilang mereka adalah musuh abadai, yang
lain bilang mereka adalah kekasih.
kemudian resi itu berajak menuju reruntuhan longsor lereng gunung
itu, Srindit dan Adipati Maesa sudah lenyap. sang resi itu kemudian duduk
bersila dan berdoa.
#FF2in1 nulisbuku "Dancing in the Rain, Women in seat 27a" - Mattias IA Eklundh
Senja Merona
“Kalem Boy!”
teriakannya menggema di sepanjang gang sempit pinggiran kota surabaya. Boy yang
diteriaki malah kegirangan meskipun pukulan bertubi-tubi menghujam punggungnya.
Sepeda kumbang reot itu dikayuh tanpa jeda, terus berdecit hingga mereka berdua
sampai pada rumah bercat putih yang begitu asri, berada sekitar dua blok dari
pemukiman mereka, itu adalah rumah felly, salah satu teman sekelas Boy. Mereka berhenti
di seberang jalan rumah itu, tepat berada di bawah pohon mangga besar, “Sebentar
lagi ren, tunggu disini, jaga dulu sepedaku ya”. “Boy? kamu akhir-akhir ini
sering sekali ketemu felly, kamu naksir
felly ya?”. “hehehe”. Boy tidak menjawab pertanyaan itu, hanya meringis
sebentar kemudian melengos pergi. Dia sebenarnya tidak suka kalau Boy selalau
berdekatan dengan felly. Bisa dikatakan cemburu itu ada dan bercokol di dalam
dirinya, hanya saja dia terlalu sabar untuk mengakuinya.
“lama banget
sih, kalian ngapain aja tadi di dalem? Terus aku Cuma kamu jadiin tukang parkir
penitipan sepeda?”. Bersungut-sungut ia memandang Boy. “maaf ya ren, pulang
yuk?”. Dia berdiam mematung belum ingin beranjak dari tenpatnya berdiri. “Boy
tau nggak sih, aku kepanasan, terus aku liat kamu enak-enakan di dalem rumah
sama felly” giliran Boy yang terdiam, dia enggan mengatakan apapun. “kalian
berdua sebenernya ngapain sih? Ngapain juga ngajakin aku kalau kamu sebenernya
mau menghabisakan waktu sama felly?”. “kamu mau pulang gak sih ren?” Boy mulai
menaikkan nada bicaranya. “kalau gak mau pulang ya udah aku pulang sendiri”
lanjut Boy. Lalu boy pun menaiki sepeda kumbangnya dan berlalu.
Dia pulang
berjalan kaki sembari menahan sesak yang menghujam jantungnya saat itu. “seharusnya
aku jujur sama boy. Tuh kan, dia akhirnya suka sama felly, aduh bodoh banget
sih aku… padahal kita lebih sering bersama, apa dia nggak sadar kalo kita ini
sebenernya saling melengkapi?”. Terus ia berjalan pelan sambil menundukkan
kepala dan berbicara pada dirinya sendiri. “saat kamu Boy, berkeliling
mengantarkan koran, aku kan selalu ada di belakangmu, aku yang ngelemparin
koran-korannya ke rumah orang-orang… pas kamu lagi sakit boy, kan aku juga yang
gantiin kamu nganterin koran… boy..”
Kemudian
bayangan itu muncul, dari belakang Boy memeluknya, “selamat ulang tahun Rena,
ini kado buat kamu…”. Sebuah perhiasan handcraft sudah berada di dua telapak boy. “aku buat ini
diajarin felly”.
Senja itu
terlihat merona di matanya.
entry #FF2in1 nulisbuku.com
entry #FF2in1 nulisbuku.com
Rabu, 04 Desember 2013
Oblivion
Dingin, dia tak lagi berbicara padaku, tak lagi menyapaku. Sejenak ku melihat wajahnya yang damai itu, senyumnya menyiratkan sesuatu, hanya saja matanya tak tertuju padaku. "Naila,.... " bisikkan lirihku mungkin tak akan pernah terdengar olehnya. " Aku memang sangat mencintaimu, bahkan mungkin terlalu mencintaimu ". Di sisi gelap kamar Naila, aku berdiri terpaku. Di dadanya ada bekas tujuh tusukan. Di tangan kiriku, kugenggam erat pisau penuh darah.
" Dok, lakukan sekarang... ". Anestesi itu membuatku tenang dan sangat damai, bahkan aku sudah tak ingat. apa-apa lagi semenjak memasuki asilum ini, yang kuingat hanya nama yang kubaca di papan nama ranjangku " Aku Naila ".
" Dok, lakukan sekarang... ". Anestesi itu membuatku tenang dan sangat damai, bahkan aku sudah tak ingat. apa-apa lagi semenjak memasuki asilum ini, yang kuingat hanya nama yang kubaca di papan nama ranjangku " Aku Naila ".
Selasa, 19 November 2013
Chronicles of Vania : chapter 00 - Prelude
Pukulan-pukulan
maut Fafnir menghantam telak tubuh King Vossler. Kini Sang Raja hanya bisa
terbaring lemah meregang nyawa. “maaf yang mulia, waktumu sudah habis, biarlah
semua lenyap bersama dengan supernova, penjuru bumi ini sudah tua, tak kuat
lagi menahan apapun”. Fafnir sang ketua pemberontak pergi beranjak meninggalkan
Raja Vossler. Dengan suara parau raja vossler membisikkan pesan kepada seekor
maeth yang telah beliau simpan di sela
mahkotanya. Maeth itu pun terbang meninggalkan jasad Sang Raja.
Anak buah Fafnir
telah mengepung seluruh lorong dan bilik kerajaan. Semua anggota kerajaan sudah
dibantai. Hanya saja mereka belum menemukan Ratu Valeria.
Di lorong
rahasia bawah tanah sang Ratu Capital Kingdom Of Hashmal Valeria Von Vosslerberg
bersama tiga pengawal elit sang raja, Brunderbanch Von Baurm, Maridrersch Von
Fitch, Lucidronbauch Von Rorsteinn dan sang puteri kerajaan Vania Von
Vosslerberg. Mereka mengendap-endap menuju kapsul terakhir kerajaan. Ratu valeria
melepaskan gendongannya, dan mena ruh puteri Vania ke dalam kapsul penyelamat. Hanya
sajja Fafnir telah sampai ke gerbang rahasia menuju kapsul terakhir. Brund,
Marid, dan Lucid bersikukuh untuk menahannya, hanya saja Ratu tak mau beradu
argumen dengan mereka bertiga. Ratu memilih menyegel mereka ke dalam tiga roket
booster kapsul terakhir. Lalu sang Ratu mulai mengaktifkan hitungan mundur
peluncuran kapsul tersbut. Fafnir telah sampai di tempat peluncuran, namun sang
Ratu dengan sigap menghalangi Fafnir. Sang Ratu melepaskan segel terkuat
kerajaan, Derr Destraktaad. Ledakan besar tepat terjadi setelah kapsul terakhir
kerajaan Van Der Allez menembus atmosfir planet Fridgaea.
…
“kawan, kurasa sudah saatnya”. Suara berat dan parau
itu adalah Bruno. Seekor german shepherd raksasa berwarna cokelat burgundy. Dari
ujung bukit. Melompatlah seekor kelinci putih dengan ukuran tak jauh berbeda
dari Bruno. Kelinci itu adalah Lucio. Tak lama disusul suara gemuruh yang
menggema dari tempurung Mario. Seekor kura-kura slider manggelinding turun dari
bukit. Di punggungnya yang super besar itu seorang gadis remaja duduk dengan tenang. Tak
terbersit sedikitpun rasa takut akan ketiga binatang raksasa itu.
“Bruno, Lucio,
Mario… terima kasih” gadis itu tersenyum. “sama-sama tuan puteri Vania” Lalu mereka ber
empat beranjak menuju sebuah aerodrome.
-dedicated to my dearest friend.. happy birthday :)
Rabu, 29 Mei 2013
Beyond After
"Selamat Datang Rivera " mesin penjawab di pintu depan ini menyapaku, selalu saja menyapaku, ah aku bahkan tek pernah mengenalnya, kenapa dia sok akrab sekali, beberapa orang bilang itu sudah tugasnya, tapi tetap saja tidak nyaman mendengarnya. Aku terus saja berjalan tak memandanginya, tak membalas tegurannya, terus berjalan melewati lobby, memasuki elevator, memilih lantai -2351. Ada 17 rekan kerjaku saat itu di dalam elevator, namun kami tak bertegur sapa, bahkan tak sekalipun kami bertegur sapa, meskipun kami saling mengenal, karena berada dalam team yang sama. Elevator supercepat itu turun menembus lapisan kerak bumi dalam beberapa detik. Sesekali berhenti dan memuntahkan beberapa rekan kami di lapisan-lapisan tempat mereka bekerja, tidak ada salam hangat, ucapan selamat bekerja, dingin, diam, tanpa suara, hanya derap langkah mereka yang terdengar kian menjauh.
lantai -2351, tempatku bekerja sebagai anggota team penggali, kami menggali semakin dalam karena permukaan bumi sudah tak bisa digunakan lagi, tanah-tanah menghitam, udara memanaas, langit merah, samudera menghijau... asam. Tak ada lagi tempat untuk berkehidupan layak di permukaan. Kami terus berusaha hidup di dalam tanah. menghindari hujan asam, badai ultraviolet, badai pasir magnetik dan banyak lagi bencana alam yang sangat berbahaya.
Kami hampir menyerah, lapisan dalam bumi memadat, inilah yang kutakutkan... aku menggali terlalu dalam... ya, aku menggali hingga inti bumi. "peeeeppp peeeeeeppp" seketika itu pula alarm berbunyi, ternyata tim penggali lain juga telah menggali sampai inti bumi, sekitar 7,8 skala richter getaran terjadi. aku beserta tim ku hanya bisa pasrah. Tanpa suara kami saling memandang satu sama lain. aku melihat cahaya mata mereka yang meredup. dalam hatiku bergumam "ternyata kami tak ada bedanya dengan manusia, peradaban manusia sudah kami musnahkan, ternyata kami pun juga harus punah, revolusi kami berakhir pedih, seandainya kami memusnahkan manusia dua puluh millenium lebih awal mungkin ini semua tak akan terjadi ". Lengan bor kami saling bersentuhan, kami memang tak bisa bersuara, tapi frekuensi gelombang kepasrahan kami telah menyatu... biarlah bumi menelan kami, seperti kaum-kaum sebelum kami.
- diambil dari microchip memori internal Rivera GX-Driller 896, planet 3 tata surya solar. tahun 23980 AD
Selasa, 30 April 2013
Stellated Heartburning
Terengah-engah, berlumuran darah.
Perisai pusaran masih aktif di kedua tanganku. Air mata belum kering mengalir
sudah tertimpa air mata baru. Sebuah aliran dendam rindu yang tergenggam dan
terpadu, menyeruak di genggaman kepalanku. Di hadapanku berdiri gadis yang
begitu aku cintai. Ya cinta yang tertahan selama sewindu karena tak terbalas. “Twistar
hentikan, aku tak ingin melukaimu...” Violena... dia berteriak serak, memandang
nanar dengan isakan tangis yang bersimpuh memohon ini semua berakhir, atau
lebih kepada ingin menghentikan dendam dalam jiwaku. Ekor beracun berayun lagi.
Kali ini aku memutuskan untuk menerjang. Kibasan dan tusukan ekor Vio tidak ada
yang bisa mengenaiku, ketika aku sepenuhnya menggunakan terjangan angin.
Hentakan besar terjadi. Pukulan uppercut
perisaiku telak mengenainya. Vio melesat jauh ke langit. Aku meloncat
menyusulnya. Seketika itu aku melayang berada di hadapannya. “maaf, mungkin seharusnya
aku tetap jadi sahabatmu”. Aku memeluknya di angkasa dan terjatuh bersama.
Pusaran angin menyelamatkan kami dari hempasan penuh di atas tanah. “aku
memaafkanmu, syukurlah kau bisa menerima keadaan” Vio tersenyum, bersama-sama
kami menuju Gill, kekasih Vio yang kutawan.
Aku melepaskan mantra tornado
pengikatku, Gill melompat turun lalu memeluk Vio. Mereka berdua memandangku
dengan senyum mafhum. Hati kecilku tak terima kebersamaan mereka, akupun
menarik ekor Vio lalu menghujamkannya ke dadaku sendiri. Dalam semenit racun itu
meluruhkan nadiku. Namaku Twistar, ksatria angin rasi libra, terima kasih, aku
pamit.
[inspired by M83 featuring
Susanne Sundfor – Oblivion]
Sabtu, 09 Maret 2013
Bittersweet
“ selamat
malam, mas che ada? “ terlihat siluet seorang
perempuan yang tampak begitu familiar, aku sudah lama tidak pernah
bertemu dengannya. Yah tidak pernah lagi tepatnya setelah kita putus. Aku terdiam
terkejut sejenak “ iya masuk aja nad, ada apa, malam-malam gini datang ke kost?
“. Aku segera membuatkan cokelat panas, karena kondisi suhu di luar begitu
dingin dan hujan rintik kecil sedang bersemangat-semangatnya menetes. “ oh,
gini mas che, aku ini tadi dari dinas malam di rumah sakit deket sini,
kebetulan kalau pulang kejauhan, jadi aku mampir ke sini aja hehehe “. Wah gila,
emang ada apa di pikrannya, sebelumnya di begitu membenci aku pasca putus, tapi
sekarang dia bisa melempar tertawa kecil kepadaku. Nadia tahukah kamu sudah
setahun lebih inni aku selalu gagal untuk move on, atau lebih tepatnya diriku
tidak menginginkan untuk move on, karena semua pemberianmu saat kita masih
memadu kasih terlalu berharga untuk ditinggalkan.
Malam menuju
larut, kami mengobrolkan apa yang kami lakukan selama ini, kemudian kami
semakin mendekat. Perasaan itu muncul lagi, kupu-kupu yang seharusnya sudah
mati, tiba-tiba seperti di hidupkan kembali dan terbang menabraki dinding
perutku. Nafas ini menjadi berat, dan aliran darah berdesir cepat. Berikutnya yang
aku tahu, bibir kami sudah menyatu, dilanjutkan oleh tarian malam yang begitu
syahdu. Temperatur tubuh kami sudah naik, dan kulihat nadia sudah menanggalkan jaket
dan seragamnya, kemudian yang aku tahu dia pun sudah dalam fase yang disebut plain naked. Dengan posisi favoritmu ketika kita berasyik
masyuk di jaman indah itu, namun yang kali ini berbeda adalah keberanianmu
untuk lebih jauh dengan menanggalkan seluruh pakaianmu. Semakin syahdu kami
memadu kasih. Jiwaku sudah tidak ada di bumi lagi.
Namun tidak
lama kami mendengar suara langkah kaki. Aku mengintip keluar kamar sejenak,
ternyata ibu kost sedang melakukan sweeping, aku meminta nadia untuk segera
mengenakan pakainnya dan bersembunyi. Aku memasukkan sandal nadia yang ada di
luar kost, dan tentu saja itu yang membuat kamarku luput dari pengecekan.
Setelah Nadia
selesai mengenakan pakaiannya, aku mencari sebuah buku antologi. Di buku
antologi tersebut beberapa karya nadia terpajang bersama 35 penulis lain. “
Tunggu dulu nad, nanti kamu aku antar pulang, sebelumnya aku masih mencari
coffee shop chronicle, di situ ada tulisanmu kan, yang someone like you… aku
suka membacanya nad, aku sebenarnya ingin meminta tanda tanganmu untuk bukuku..
tapi di mana ya? “ “ nggak usah mas che, aku nggak ikut nulis kok? “ aku
terhenayak “ha?” padahal jelas-jelas namanya tercantum disana dan aku juga
sudah memata-matai beberapa akunnya, someone like you pernah di tulis di
blognya, tapi kenapa dia tidak mau mengakuinya?
Kemudian kami
berdua meninggalkan kamar, di ujung lorong kamar kost, sudah ada ibu kost
dengan memasang wajah seram berteriak-teriak. Aku dan Nadia berlari tanpa
aba-aba, meloncati portal dan menerobos warung kopi. Kemudian kami beristirahat
sejenak di salah satu warung kopi di seberang jalan. “kamu nggak laper nad?”. “
nggak mas che, kita langsung cabut aja, udah malem banget ini, keburu dini hari”.
Aku segera menghabiskan teh hangatku dan segera mengambil sepeda motor di kos. Disitu
tentu saja masih dijaga, tapi aku segera menjelaskan, ah mungkin keberuntungan
atau apa, ibu kost masih memberi kesempatan, tapi kalau lain kali terjadi lagi,
aku langsung di polisikan.
Seperti biasa
perjalanan kutempuh selama 90 menit, dari daerah suburban Surabaya menuju ke
tengah pemukiman kota sidoarjo. Namun kali ini
ada yang tidak biasa. Lingkungan rumah Nadia menjadi tidak familiar. Kali
ini aku disuruh melewati jalan kecil dengan semak hitam di sisi kiri dan kanan.
Ujungnya adalah rumah besar yang sangat gelap dan mencekam, mungkin mansion lebih tepatnya. Setelah melewati pagar luar,
Nadia memintaku untuk terus berjalan di atas motor, bahkan diminta untuk
menabarak pintu kaca depan rumah. *BRANG!!* aku menabrakkan motorku di pintu
kaca mansion itu. Anehnya diikuti dengan pecahnya seluruh bagian depan mansion
itu.
Waktu menunjukkan
pukul setengah tiga malam. Aku menjauhkan kaos hitam penutup mataku. Mengucek-ngucek
mata. “ah…. Mimpi yang indah… namun di satu sisi beitu pahit” aku terduduk diam
begitu lama di atas kasurku.
[ mono - legend ]
Sabtu, 02 Maret 2013
Semua Begitu Kejam Namun Benderang
“Kamu bilang semuanya
akan berakhir sempurna?”. Piring hadiah mie instant itu melayang akurat ke
dahiku, untungnya refleksku jauh lebih cepat, kalau tidak bisa dapat sepuluh
jahitan di bagian alis, “Bersabarlah, ini semua belum berakhir, lihat jiwa kita
masih berada dalam jasadnya belum lepas” aku terengah-engah, kau mulai
mengambil piring ketigamu dengan sesenggukan. Lemparan ketiga pun berlangsung
kali ini piring mahal Chinese dish yang
kau lempar. Aku sudah berlari menjauh dari ruang makan. “apa guna kesakitan ini
mas? Apa gunanya? Apa kau tak tahu sebegitu inginnya aku melepas putaran
kesengsaraan ini…” kau tertunduk, hanya lesakan nafas yang terdengar, sesekali
terdengar raungan lemah, “maafkan aku Nadine, sepertinya kau harus diam sebentar
disini, aku harus mengurus sesuatu”. “ tunggu mas, ini belum selesai, mas..
berani sekali kau pergi, tunggu!! “ aku tak melihat ke belakang, aku
memantapkan langkahku menuju ruang tamu. “apabila pintu ini terbuka, aku akan
terlepas dari semuanya”. aku menekan kenop pintu utama rumah ini. Sebuah rumah
dimana aku akan selalu terikat oleh dunia, dimana aku tidak akan pernah tenang,
ah… maafkan aku Nadine aku telah berbohong padamu. Tapi kau harus kuat demi
janin yang kau kandung, maafkan aku harus berbohong padamu…. Aku tak pernah
lagi berada dalam jasadku, ya aku telah terlepas lebih dulu. Sedangkan kau
masih memiliki tanggungan membesarkan anak itu. Kau harus tetap hidup. Sampai berjumpa
di lingkaran kosmik sayang, aku akan selalu mengawasimu dari sana.
“Maaf mas,
kamu benar, aku tahu maksudmu meninggalkanku…. Anak ini tidak boleh tahu siapa
dirimu tapi aku yakin, anak ini adalah harapan terakhir bumi…. Kelak, kaulah
yang akan menyelamatkan kita dari para raksasa bermata satu itu” Nadine mengelus
perutnya dengan penuh kasih sayang, senyumnya terkembang lamat diiring sesekali
tetesan air matanya. Sejenak cahaya matahari menyinarinya dari jendela dapur, “ah
sinar matahari, sudah berapa lama aku tak merasakan hangatnya”. Nadine menoleh
melihat kearah jendela. Ya, hanya puing dan reruntuhan disana, tapi kelak,
selama harapan manusia tak berakhir, mereka bisa bngkit kembali.
[30 days 30 song to prose : All is Violent All is Bright by God Is An Astronaut]
Jumat, 01 Maret 2013
Be Mine
Sudah aku
pertaruhkan semuanya, aku manjakan dirimu dengan apa yang aku punya, akankah kamu
meyakiniku sebagai pasanganmu? Harus, tidak bisakah kamu lihat semua harta yang
kuhabiskan untuk membelikanmu sekadar hadiah kecil untuk momen-momen berhargamu?
Waktuku untuk setiap peristiwa dukamu? Aku merelakan diriku untukmu, bahkan
andai bintang-bintang yang berkilauan dan tergantung di atasku ini adalah
milikku, aku mengikhlaskan kau ambil. Tapi satu hal, aku ingin kau jadi
milikku.
Aku hanyalah
seorang karyawan kantoran biasa yang bahkan seringkali susah mengatur laju
keuanganku. Kamu seorang gadis yang mesih menghabiskan waktumu bersenang-senang
bersama teman-temanmu dan kuliahmu. Meskipun dengan harta yang pas-pasan aku
merelakan penghasilanku untuk mentraktirmu makan, mengajakmu nonton,
membelikanmu pulsa, bahkan aku selalu membelikan belanja bulanan untuk persediaanmu
di kost. Aku juga selalau ada untukmu, aku mempersilakan dirimu untuk meminta
bantuanku tanpa harus ada rasa sungkan. Hampir setiap hari aku mengantar jemput
dirimu dari kampus ke rumah kostmu, aku ada di setiap galaumu, memberimu
semangat, bahkan kalau perlu aku juga
selalu mengejekmu hamu sekedar untuk becanda, tiap malam tubuhku terasa lelah
sekali. Sepulang kerja terkadang kau membutuhkan sesuatu, yah tapi semuamu itu
kulakukan dengan sepenuh hati, ya, karena aku menyukaimu.
Rayuanku tak
pernah masuk ke dalam dirimu, kenapa denganmu? Aku sudah merelakan diriku
sepenuhnya untukmu, tapi responmu terhadap rayuanku selalu saja negatif, kau hanya
suka bahan obrolan ringan seolah aku ini seorang teman biasamu. Tapi kadang aku
berpikir, ya ini sebuah tahap, dan suatu saat aku pasti bisa menuju tahap
berikutmu. Aku tetap berusaha optimis suatu saat kau bersedia untuk jadi
milikku.
Malam itu
adalah puncaknya, malam itu adalah tanggal dimana aku bertemu denganmu, aku
memberanikan diriku untuk mengatakannya padamu, dengan sekotak cincin emas
bermata berlian di dalam saku celanaku. Aku sudah memesan tempat di restoran
premium yang bahkan kita tak pernah sama sekali kesana. Kamu sudah menghabiskan
dessertmu namun ternyata kamu memiliki pertanyaan yang mengganjal semenjak kita
berdua memasuki restoran ini. “Katamu ini acara kantor, dimana teman-teman dan
bosmu?” kamu bingung sembari celingukan melihat meja-meja lain tanpa seorang
pun rekan kerjaku. “ah, aku sudah terlanjur mengenakan gaun prom ku, ternyata kau berbohong,
sebenarnya ada apa sih?”
Aku terdiam,
menunduk, mengambil nafas dalam-dalam.
Aku mengambil
kotak cincin itu dari saku celanaku
“Nay, kita sudah saling mengenal
selama sepuluh tahun, kita bersahabat semenjak kita berdua masih remaja, namun
kamu mungkin tidak mengetahui bahwa sebenarnya aku menyayangimu lebih dari
sekedar sahabat, atau bahkan lebih dari sekedar ‘abang’, karena itu maukah kau
menjadi lebih dari sekedar sahabatku, rekanku, kekasihku, …. Istriku, I love
you nay, please be mine “
Dia tersenyum,
kulihat pula basah di tepi matanya.
[Fiction from a song day 1 : The Heavy - Be Mine]
Rabu, 13 Februari 2013
Nadia dan Supernova
Aku bertemu Nadia lagi dalam mimpiku. Dia datang kepadaku ingin minta bantuanku untuk ikut repot di sebuah pementasan menyambut event... ah lupa, event apa saat itu... Setelah melewati masa putus selama satu setengah tahun. aku hanya bisa canggung. Bingung mau berkata apa. Nadia yang terus mengambil inisiatif pembicaraan, mengenai rencana seperti apa pementasan tersebut. Kami berjalan berdua menyusuri sekolah nadia, saat itu Nadia berseragam osis putih abu-abu. Pertama kami membicarakan pementasan itu di kantin sembari makan siang lalu berpindah ke sebuah pohon besar dekat lapangan basket sekolah. Sesekali aku melihat raut wajahnya yang penuh semangat menyampaikan gagasan-gagaasan kreatifnya. aku hanya bisa berucap dalam hati "hai nad" "apa kabar?" "ngapain aja kamu selama satu setengah tahun ini setelah berpisah denganku?" "apa kamu sekarang punya pacar baru?". Tak fokus aku dengan gagasan yang dia sampaikan aku hanya memandangnya nanar. mencoba mencari jawaban atas pertanyaan dalam bathinku itu. Aku lebih tua dari nadia dua tahun, nadia saat ini kelas tiga SMA sedangkan aku sudah berkuliah semester dua di salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Kita dulu bertemu di facebook, bermula dari curhat kecil Nadia yang sedang di stalking mantannya, aku mencoba membantu sebisaku, dan berakhir dengan berpacaran. Kisah kasih itupun hanya berlangsung selama satu setengah tahun, entah mungkin karena sindrom inferioritas yang aku miliki dan Nadia yang terlalu jenius yang membuatku merasa inferior.
Sekarang kami berdua berada di depan ruang baca sekolah Nadia. tetap saja aku tidak menghiraukan yang dibicarakannya. aku hanya terus memandanginya berceloteh. Memandangi dengan nanar. Pertanyaan dalam hatiku masih tidak terjawab. Entahlah, pada akhirnya aku membantu pementasan itu. Candaan kecil dan tawanya yang khas, sudah lama sekali aku tak mendengarnya, kangen sekali mendengarnya. Aku suka suaranya, ketika dia bersenandung, dia memiliki suara yang renyah namun indah, maklum dia adalah anggota paduan suara di sekolah, selain itu setelah lulus dia juga ingin menjadi seorang penyiar radio. "Gimana mas che?" tanyanya membuyarkan lamunanku tentangnya "ha? ya gitu aja udah bagus" aku terhenyak dan menjawab sebisaku. Ah tersenyum, aku selalu menyukai senyumnya yang lebar, tampak begitu optimis, seolah masa depan cerah menanti kita.
Malam itu aku keluar dari bumi, menuju sebuah panggung raksasa di perbatasan luar tata surya matahari. Aku berada di panggung tersebut, melihat-lihat, sebuah panggung yang begitu besar, dengan screen putih, korden merah besar yang terbuka, dan lantai kayu jati yang kokoh. aku terduduk di ujung panggung. terdiam dalam lamunan melihat perputaran planet tata surya. namun tiba-tiba aku terkejut. Matahari mati, terjadi supernova dahsyat yang membakar permukaan seluruh planet yang ada di tata surya. aku tak kuat menahan silaunya. dan tekanan dari ledakannya mendorongku beberapa mil dari ujung panggung. aku membesarkan ukuran tubuhku, mendekati bumi, berjalan pulang. Ketika aku samapi di dekatnya bumi sudah separuh dihisap oleh black hole sisa ledakan matahari. aku mengecil dan mencoba masuk ke dalam bumi. tidak ada yang tersisa semua musnah jadi abu. Tidak ada lagi udara, aku melayang mengelilingi bumi tapi tak ada siapapun disana. aku memutuskan untuk keluar dari bumi. kembali membesar aku memeluk bumi, dan menitikkan air mata. aku berjalan mundur, membiarkan lubang hitam itu menghisap bumi seluruhnya. setelah semuanya kosong aku berjalan menelusuri berbagai galaksi, hingga pada akhirnya aku terhenti pada tata surya yang mirip sekali dengan tata surya milik matahari, hanya saja yang ini lebih besar dengan susunan planet yang lebih banyak. aku menemukan planet mirip sekali dengan bumi, hanya saja ukuran planetnya lebih besar dua atau empat kali dari bumi. aku masuk kedalam, aku bertemu sebuah keluarga, mereka menerimaku dengan baik, saat makan malam tiba aku menceritakan asal-usulku dan planet yang aku diami. mereka tampak begitu antusias mendengarkan ceritaku. akupun tak menghentikan ceritaku meskipun sudah empat jam berlalu.
Kamis, 31 Januari 2013
Akhir Bulan di Awal Tahun
Dia masih terkapar di sudut kamarnya yang dipenuhi bau busuk makanan basi, pakaian kotor, dan berbagai macam tumpahan cairan tak jelas yang mulai mengering dan berkerak. "Mau kuambilkan makanan?" sepertinya aku mulai terbiasa bau kamarnya, karena sekarang aku sudah berada di dalamnya dan menawarkan diri mencoba menolong sebisaku. Sepintas ia melirikku dengan lesu, kemudian menggeleng semampunya. Kemudian aku mendekatinya dan duduk di sebelahnya, dia menyandarkan kepalanya ke bahuku. "Januari sudah hampir berakhir... besok aku gajian, ke Mbok Nah yuk.. mungkin nasi pecelnya bisa merecharge semangatmu?" aku mengelus rambut maroonnya yang acak-acakan. Dia hanya mendesis. "Kamu benar-benar ingin pulang sekarang?" aku mulai memberanikan diri menanyakannya langsung. Jeda diam yang lama. Sudah sepuluh menit berlalu pertanyaanku tak terjawab. Kulirik sejenak dia sudah terlelap di bahuku. Tak lama kemudian aku menyusulnya.
Pintu apartemenku terbuka, sebuah cahaya benderang menyilaukan menelusup masuk dan sebentuk siluet sudah berada di depanku. "Kenapa kau lama sekali... apa yang menahanmu.... " Aku menahan haruku, setetes airmata melaju pelan dari sudut mataku. "Aeon... ibumu sudah datang menjemputmu, ayo bangun" Aku mencoba membangunkan makhluk cantik yang melelehkan salivanya di bahuku itu. Sosok siluet itu kemudian mendekat "Etherion, lihatlah anakmu ini, dia begitu merindukanmu, sudah berhari-hari ini semangatnya hilang". Mata berbinar itu melirik ke arahku kemudian sepotong senyum sangat indah kuterima darinya. "Terima Kasih Chintya, telah merawat anakku selama ini" Suara Etherion yang indah itu, lama sekali tak mendengarnya, "Kapan aku bisa bertemu denganmu dan Aeon lagi Etherion?" Aku mengangkat sedikit tubuh Aeon dan menyerahkannya ke pelukan Etherion. Etherion hanya tersenyum penuh makna, kemudian dia menaruh telunjuknya ke dahiku.
31 Januari 2213
"Ah pertemuan itu seperti mimpi... " sembari kulihat lagi foto itu. Tak terasa sudah dua ratus tahun aku berada disini. Seberkas aroma manis menelisik dari arah belakang. "Jadi hari ini kita sarapan energi kosmik supernova lagi ya". Etherion kembali menaruh telunjuknya di dahiku... Damai sekali rasanya.
[che,31113]
Langganan:
Postingan (Atom)
Galau
: " moving my f**ing ass right now hap hap hap " ~me
Blogroll
: " we were slave of modernization and machine civilization " ~me
