Beberapa hari ini Raka mengalami mimpi buruk yang sama, dia dihantui bayang-bayang kematian yang pedih, tubuhnya menjadi renta dan dia mati tersayat oleh sesuatu yang begitu raksasa, keras dan masif, bayangan itu tak berbentuk manusia hanya sebuah bayangan hitam tanpa wujud yang jelas, dan ukurannya yang menjulang besar ke langit membuatnya tak terlihat seperti makhluk apapun, bukan makhluk supernatural yang selama ini dia ketahui dari buku maupun film. Banyak orang pintar yang mengaku takut dan angkat tangan kala ditanya apa solusi dari mimpi Raka tersebut selama kurun waktu lima hari terakhir ini. "Maaf mas 'Ka itu di luar kemampuanku, sehebat apapun aku, aku hanya manusia biasa yang tak bisa menangkal apapun itu yang terus membayangi jiwamu" adalah kata seorang ahli supernatural sekaligus kerabat terdekat Raka, seorang ahli spiritual terakhir yang Raka tanyai. Mimpi-mimpi buruk itu membebani Raka di setiap tidurnya, belum hilang duka akan kematian kekasihnya Rara, diikuti wabah penyakit demam aneh yang melanda teman-temannya, kenapa masih harus ditambah dengan mimpi buruk itu berulang kali diputar dalam tidurnya.
Hingga pada suatu hari ketika ia mencoba mengenang kekasihnya dengan memandangi foto-nya di laptop miliknya dia tersadar, tepat ketika dia menghentikan untuk menekan next pada track pad. Sebuah imaji digital yang diambil sekitar tiga bulan yang lalu, mungkin kurang, terdapat fotonya didepan sebuah ukiran besar yang dia buat dengan alat seadanya di sebuah batu aneh di puncak gunung tertua di dataran Jawa. Dia mengukir namanya dan nama kekasihnya di sebuah batu besar di puncak gunung tersebut. Dengan bangga ia meminta kawan-kawannya untuk mengabadikan dirinya di depan ukiran nama tersebut. Dia terhenyak sekejap, keringat dingin mulai menetes melalui pelipisnya, tunggu dulu, itu bukan keringat, ketika dia mengusapnya... itu... Diiringi dengan suara gemuruh panjang dan gempa berskala 5 SR, sebuah rumah mewah di kawasan elit Jakarta rata dengan tanah dan diantara puing-puing tersebut seperti ada yang menulis diatas pasir pantai dengan jari, terbaca Mahameru.
- terinspirasi dari lagu berjudul Batu Tua - Tiga Pagi.
Tampilkan postingan dengan label flash fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label flash fiction. Tampilkan semua postingan
Kamis, 04 Juni 2015
Jumat, 16 Mei 2014
chocomaniac
Hai namaku
dinda, aku bekerja sebagai seorang copywriter
di sebuah agensi periklanan yang cukup dikenal di jakarta. Setiap kali aku
bekerja aku selalu diantar jemput oleh pacarku, aku suka aroma pacarku, salah
satu moodbooster setiap kali
menikmati perjalanan panjang menuju tempat kerjaku, salah satu pelepas stress
di kala macet, aku memanggil pacarku dengan panggilan sayang, kakao. Karena
kalian tahu kenapa? Karena aroma cokelat yang selalu saja merasuk di kedua
rongga hidungku ketika menghirupnya. Pernah sesekali dia tak memakai pewangi
itu di tubuhnya, aku ngambek, marah, seharian emosiku tak terarah. Hal lain
yang memberiku semangat dan inspirasi dalam bekerja adalah, segelas cokelat
hangat bermerek Enervaltine. Cokelat
hangat racikanku sendiri yang selalu aku seduh setiap sampai di kantor, tanpa
meminum itu, kinerjaku bisa melorot tak terkendali. Aku tak pernah sarapan, aku
selalu menyiapkan brunch di istirahat
siangku, beberapa butir ferrero rocher yang
kubalut dengan selai nutella. Cukup
mengantarkanku ke ujung gerbang nirwana, dan energiku pun terisi kembali.
Pernah sekali aku tak membawa kotak brunch
ku, aku memilih tidur di mushalla kantor dan tidak melanjutkan pekerjaan
meskipun itu hampir tenggat waktu proyek.
Hai namaku
dinda, kini aku sedang kehabisan cokelat. Aku malas bertemu pacarku dan tidak
mood berangkat bekerja. Apa aku sudah
gila?
Selasa, 30 April 2013
Stellated Heartburning
Terengah-engah, berlumuran darah.
Perisai pusaran masih aktif di kedua tanganku. Air mata belum kering mengalir
sudah tertimpa air mata baru. Sebuah aliran dendam rindu yang tergenggam dan
terpadu, menyeruak di genggaman kepalanku. Di hadapanku berdiri gadis yang
begitu aku cintai. Ya cinta yang tertahan selama sewindu karena tak terbalas. “Twistar
hentikan, aku tak ingin melukaimu...” Violena... dia berteriak serak, memandang
nanar dengan isakan tangis yang bersimpuh memohon ini semua berakhir, atau
lebih kepada ingin menghentikan dendam dalam jiwaku. Ekor beracun berayun lagi.
Kali ini aku memutuskan untuk menerjang. Kibasan dan tusukan ekor Vio tidak ada
yang bisa mengenaiku, ketika aku sepenuhnya menggunakan terjangan angin.
Hentakan besar terjadi. Pukulan uppercut
perisaiku telak mengenainya. Vio melesat jauh ke langit. Aku meloncat
menyusulnya. Seketika itu aku melayang berada di hadapannya. “maaf, mungkin seharusnya
aku tetap jadi sahabatmu”. Aku memeluknya di angkasa dan terjatuh bersama.
Pusaran angin menyelamatkan kami dari hempasan penuh di atas tanah. “aku
memaafkanmu, syukurlah kau bisa menerima keadaan” Vio tersenyum, bersama-sama
kami menuju Gill, kekasih Vio yang kutawan.
Aku melepaskan mantra tornado
pengikatku, Gill melompat turun lalu memeluk Vio. Mereka berdua memandangku
dengan senyum mafhum. Hati kecilku tak terima kebersamaan mereka, akupun
menarik ekor Vio lalu menghujamkannya ke dadaku sendiri. Dalam semenit racun itu
meluruhkan nadiku. Namaku Twistar, ksatria angin rasi libra, terima kasih, aku
pamit.
[inspired by M83 featuring
Susanne Sundfor – Oblivion]
Sabtu, 09 Maret 2013
Bittersweet
“ selamat
malam, mas che ada? “ terlihat siluet seorang
perempuan yang tampak begitu familiar, aku sudah lama tidak pernah
bertemu dengannya. Yah tidak pernah lagi tepatnya setelah kita putus. Aku terdiam
terkejut sejenak “ iya masuk aja nad, ada apa, malam-malam gini datang ke kost?
“. Aku segera membuatkan cokelat panas, karena kondisi suhu di luar begitu
dingin dan hujan rintik kecil sedang bersemangat-semangatnya menetes. “ oh,
gini mas che, aku ini tadi dari dinas malam di rumah sakit deket sini,
kebetulan kalau pulang kejauhan, jadi aku mampir ke sini aja hehehe “. Wah gila,
emang ada apa di pikrannya, sebelumnya di begitu membenci aku pasca putus, tapi
sekarang dia bisa melempar tertawa kecil kepadaku. Nadia tahukah kamu sudah
setahun lebih inni aku selalu gagal untuk move on, atau lebih tepatnya diriku
tidak menginginkan untuk move on, karena semua pemberianmu saat kita masih
memadu kasih terlalu berharga untuk ditinggalkan.
Malam menuju
larut, kami mengobrolkan apa yang kami lakukan selama ini, kemudian kami
semakin mendekat. Perasaan itu muncul lagi, kupu-kupu yang seharusnya sudah
mati, tiba-tiba seperti di hidupkan kembali dan terbang menabraki dinding
perutku. Nafas ini menjadi berat, dan aliran darah berdesir cepat. Berikutnya yang
aku tahu, bibir kami sudah menyatu, dilanjutkan oleh tarian malam yang begitu
syahdu. Temperatur tubuh kami sudah naik, dan kulihat nadia sudah menanggalkan jaket
dan seragamnya, kemudian yang aku tahu dia pun sudah dalam fase yang disebut plain naked. Dengan posisi favoritmu ketika kita berasyik
masyuk di jaman indah itu, namun yang kali ini berbeda adalah keberanianmu
untuk lebih jauh dengan menanggalkan seluruh pakaianmu. Semakin syahdu kami
memadu kasih. Jiwaku sudah tidak ada di bumi lagi.
Namun tidak
lama kami mendengar suara langkah kaki. Aku mengintip keluar kamar sejenak,
ternyata ibu kost sedang melakukan sweeping, aku meminta nadia untuk segera
mengenakan pakainnya dan bersembunyi. Aku memasukkan sandal nadia yang ada di
luar kost, dan tentu saja itu yang membuat kamarku luput dari pengecekan.
Setelah Nadia
selesai mengenakan pakaiannya, aku mencari sebuah buku antologi. Di buku
antologi tersebut beberapa karya nadia terpajang bersama 35 penulis lain. “
Tunggu dulu nad, nanti kamu aku antar pulang, sebelumnya aku masih mencari
coffee shop chronicle, di situ ada tulisanmu kan, yang someone like you… aku
suka membacanya nad, aku sebenarnya ingin meminta tanda tanganmu untuk bukuku..
tapi di mana ya? “ “ nggak usah mas che, aku nggak ikut nulis kok? “ aku
terhenayak “ha?” padahal jelas-jelas namanya tercantum disana dan aku juga
sudah memata-matai beberapa akunnya, someone like you pernah di tulis di
blognya, tapi kenapa dia tidak mau mengakuinya?
Kemudian kami
berdua meninggalkan kamar, di ujung lorong kamar kost, sudah ada ibu kost
dengan memasang wajah seram berteriak-teriak. Aku dan Nadia berlari tanpa
aba-aba, meloncati portal dan menerobos warung kopi. Kemudian kami beristirahat
sejenak di salah satu warung kopi di seberang jalan. “kamu nggak laper nad?”. “
nggak mas che, kita langsung cabut aja, udah malem banget ini, keburu dini hari”.
Aku segera menghabiskan teh hangatku dan segera mengambil sepeda motor di kos. Disitu
tentu saja masih dijaga, tapi aku segera menjelaskan, ah mungkin keberuntungan
atau apa, ibu kost masih memberi kesempatan, tapi kalau lain kali terjadi lagi,
aku langsung di polisikan.
Seperti biasa
perjalanan kutempuh selama 90 menit, dari daerah suburban Surabaya menuju ke
tengah pemukiman kota sidoarjo. Namun kali ini
ada yang tidak biasa. Lingkungan rumah Nadia menjadi tidak familiar. Kali
ini aku disuruh melewati jalan kecil dengan semak hitam di sisi kiri dan kanan.
Ujungnya adalah rumah besar yang sangat gelap dan mencekam, mungkin mansion lebih tepatnya. Setelah melewati pagar luar,
Nadia memintaku untuk terus berjalan di atas motor, bahkan diminta untuk
menabarak pintu kaca depan rumah. *BRANG!!* aku menabrakkan motorku di pintu
kaca mansion itu. Anehnya diikuti dengan pecahnya seluruh bagian depan mansion
itu.
Waktu menunjukkan
pukul setengah tiga malam. Aku menjauhkan kaos hitam penutup mataku. Mengucek-ngucek
mata. “ah…. Mimpi yang indah… namun di satu sisi beitu pahit” aku terduduk diam
begitu lama di atas kasurku.
[ mono - legend ]
Kamis, 01 November 2012
Samudera
SS Invincible kapal penjelajah menuju dunia baru. Kami berada diatasnya mencoba mencari dataran baru untuk menjadi persemakmuran kerajaan kami. Namun alas, kami tersesat. Kompas kami tidak bekerja, peta kami juga tidak terbaca. Sudah delapan hari kurang lebih kami terombang-ambing tanpa ada kejelasan. Dataran belum juga nampak. Seluruh awak kapal tampak lesu, kehilangan semangat, kehilangan harapan, dan kehilangan akal. Aku berusaha menjaga kesadaran. Karena akulah kapten kapal ini. Entah kenapa aku memiliki firasat buruk hari ini. Aku merasa ada yang tidak beres dengan lautan.
Firasat burukku terbukti. Kondisi laut yang tenang berubah drastis, langit melegam, petir menghujam dan gelombang lautan meninggi hingga tiga puluh puluh kaki. Kemudian gelombang itu memecah. Muncul lengan raksasa bersisik merah kasar. Lengan itu menengadah ke langit. Apakah itu Cthulhu? Aku sangat ingat cerita kakekku tentang penguasa bawah laut yang mengerikkan, jauh lebih mengerikkan dari, kraaken bahkan dewa penguasa laut sekalipun, karena dia adalah sang pemusnah dunia, dia tertidur di dasar laut paling dalam, menunggu waktunya tiba, waktu untuknya menghancurkan dunia. Tangan raksasa berukuran seratus kali kapal kami itu menghempas ke laut, menciptakan gelombang luar biasa, kapal kami terlempar. Sesaat aku hanya bisa memandangi lengan itu dengan pikiran kosong. Ajal kami telah tiba.
"Adek, jangan mainan air lama-lama, nanti masuk angin loh"
"Iyaa maa, yaah padahal lagi seru-serunya nih, besok lagi yah kapten James Cordova and crew "
Kami tidak lagi bergerak, kami pasrah, kami dibawa lengan itu, menuju tempat kami pulang, sebuah kardus box mie instant.
[21/10/2012]
Rabu, 24 Oktober 2012
Falling
Hampir setiap hari aku menulis jurnalku disini. Di sebuah Coffe Shop kecil di perempatan Marayana. Suasananya nyaman, dengan wallpaper warna chiffon dan corak kayu mahoni di sepertiga bawahnya. Semerbak aroma kopi, latte dan espresso memenuhi ruangan, benar-benar moodbooster. Nuansa vintage pun sangat kental disini, ada old phone, di meja kecil di dekat tempat kasir, ada kipas angin vintage di langit-langit coffee shop, langit-langitnya pun berupa teakwood yang di furnish secara berkala. Ya nuansa kayu dan cokelat bangunan ini memberi kesan artistik dan sangat isnpiratif.
Menu yang disajikan merupakan menu typical coffee shop, beraneka ragam latte, espresso, iced coffee, macchiato, cappuccino, javanese, arabica, robusta, blended, ..Ah aku jadinya mengabsen menu disini. Sebenarnya ada faktor X lain yang membuatku sering mengunjungi Coffee Shop ini. Baristanya, Marlina, nama yang trecantum di badge dada sebelah kiri, Manis namun sederhana, ah ya, aku selalu terbayang-bayang pesonanya. Aku selalu memesan Heart designed Cappuccino, saking seringnya diapun sampai hafal pesananku, hingga aku tak perlu memesan lagi, cukup tersenyum padanya di meja pesanan, dia sudah tahu apa yang aku inginkan.
Hari ini pun aku berada di coffee shop yang sama, memesan minuman yang sama, dan barista yang sama. Aku sangat mengagumi barista berparas manis dengan rambut terikat seadanya dan selalu mengenakan kacamata frame tipis yang selalu berada di balik meja pesanan setiap pukul delapan pagi. Semakin hari semakin terlihat jelas gambar wajah barista yang kukagumi itu di atas milk foam cappuccinoku. Ah, otakku ini senang sekali menggodaku dengan gambaran imaji-imaji semu di setiap objek yang terhubung dengan perempuan pujaanku.
Kulempar senyum terindahku untuknya setelahku beranjak dari corner seatku. Dia membalas dengan senyum yang jauh lebih indah, bahkan bisa dibilang menyilaukan. Cahaya pesona yang berpendar terlalu kuat. Aku pun meleleh, mencair, dan menghilang di sela-sela saluran air.
[10/19/2012]
Selasa, 23 Oktober 2012
Disconnected
Selesai aku meracik oolong tea hangat untukku bersantai sore ini. Saatnya menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda, namun oops... browser mengajakku berkeliling melupakan tugasku sejenak. Sosial media menawariku imaji-imaji indah para gadis muda belia yang mempesona. Sekadar berfoto narsis amatir, hingga narsis profesional yang mereka sebut sebagai modelling. Ah, bagiku sama saja, sama-sama sarana pencuci mata. Tapi ini semua adalah biang dari hancurnya kisah romansaku denganmu yang terajut selama dua tahun terakhir. Aku berkenalan denganmu di sosial media, berdekatan denganmu, hingga akhirnya kita memberanikan diri menjalin hubungan. Karena itu pranoid dan rasa cemburumu yang bersenyawa itu sangat takut kalau-kalau aku berkenalan dengan gadis lain yang jauh lebih darimu.
Aku mulai melakukan cuci mata sembunyi-sembunyi. Menambah koleksi indah itu secara gerilya. Setiap permintaan pertemanan yang sukses terjawab aku hapus jejaknya dari tembok sosial mediaku. Namun, alas, ada saja jalan utukmu mengetahuinya, padahal kita sudah sepakat untuk tidak membuka akun sosial media kita. Karena sudah berkali-kali hal itu terjadi. Kamupun jengah. Kamu mengecap aku sebagai lelaki yang tidak bisa menjaga komitmen. Pada puncaknya sepekan lalu kau memutuskan aku.
Memori tentangmu itu langsung menarik perhatian makhluk-makhluk rindu yang bersemayam lama di rimba hati yang gelap. Aku coba mencari nama akun facebookmu di kolom search. Ah, masih ada. Lama sekali aku terduduk penuh rasa bimbang sembari menelusurkan kursorku ke arah nama profilmu, lama terdiam... haruskah aku membukanya? sedikit menelisik memori lama yang terekam begitu apik. Serasa baru kemarin berlalu. "ah masa bodoh". Klik! layar berganti tampilan, akupun memasuki sebuah page baru...
This account does not exist or may have been suspended!
Aku meneruskan menyeruput oolong tea hangatku dan tersenyum simpul
[10/18/2012]
Senin, 22 Oktober 2012
Bertemu Denganmu, Sekali Lagi
Perjalanan itu mengingatkan aku akan semuanya, menyadarkanku begitu berharganya kamu untukku. Akhirnya aku bertemu denganmu lagi setelah sekian lama, setelah semua yang terjadi dan memisahkan kita selama ini. Ketidakcocokan kecil disana sini, keegoisanmu, spekulasiku, kecurigaanmu, kecemburuanku. Meskipun begitu, sebenarnya kita berdua selalu saling melengkapi, Kamu adalah storyteller yang hebat. Rentetan deskripsi mendetail di setiap cerita yang kamu buat, akhir yang twisted, kata – kata ilmiah yang selalu kamu sertakan, istilah-istilah budaya pop yang kamu torehkan, cerita-cerita fiksi ilmahmu yang terinspirasi dari karya-karya dewi lestari dan semua ceritamu yang bertema angst, berakhir dengan kesedihan dan keputus-asaan. Setiap kali kutanyakan kenapa ceritamu harus berakhir seperti itu? jawabanmu selalu sama karena realita itu tidak mungkin, tidak akan pernah mungkin berakhir seindah dongeng. Tapi justru itulah yang aku suka dari setiap cerita buatanmu, kamu selalu membuatku begidik di akhir cerita. Kau memang jagonya kalau berhubungan dengan tulis–menulis, aku disini mencoba melengkapimu dengan visualisasi. Ya, aku adalah seorang illustrator, meskipun tidak sehebat teman–temanku anak seni rupa, tapi paling tidak aku lebih baik daripada mereka yang awam, aku selalu teringat proyek kita yang tertunda, proyek kita yang selalu kita agung – agungkan, sebuah novel grafis dimana kita berdua sebagai kreatornya, kamu dengan plot ceritamu, aku dengan ilustrasiku.“Noite” judul yang kamu tawarkan dan aku menyetujuinya. Sebuah karya yang menceritakan keberanian sekelompok pemuda menjelajahi tempat-tempat berhantu hanya untuk mencari kebenaran mitos. Semua karakter yang kamu deskripsikan itu kemudian aku visualisasikan, saat itu kamu begitu riang ketika sketsa tokoh novelmu itu sudah jadi. Kamu memberiku kecupan hangat di dahiku, dan membisikkan kata terima kasih dengan lembut dan merdu terdengar. Ah masa – masa itu, kali ini aku tidak sabar untuk mengangkatnya kembali ke hadapanmu, rencana – rencana kita yang tertunda.
Akhirnya aku sampai di rumahmu, aku lepas jaketku, lalu aku rapikan kemejaku, mengetok pintu dan mengucapkan salam, ibumu yang mempersilakanku masuk dan duduk. Seperti biasa ibumu begitu ramah padaku, sama seperti saat – saat kita awal memadu kasih dulu. Senyum ramah ibumu menghangatkan suasana, tawaran makan siang yang tidak pernah bisa kutolak, siapa yang bisa menolak aroma soto ayam yang menggoda itu, ibumu memang luar biasa. Meskipun begitu aku tahu perasaanmu sesungguhnya terhadap ibumu, betapa bencinya kamu terhadapnya. Karena beliau yang membuatmu tersiksa di jurusan yang salah, dari dulu kamu selalu ingin kuliah di dunia desain arsitektur, namun ibumu memaksamu untuk menjadi tenaga ahli di bidang medis, yah kamu selalu mengangkat hal itu ketika kutanyakan keadaan ibumu. Sudahlah, toh kamu juga sudah lulus dari jurusan salah arah itu, dan mendapatkan nilai yang terbaik pula. Karena memang kecerdasan dan kegigihanmu selama ini yang membuatmu melewati semuanya. kamu memang luar biasa, meskipun kamu sering mengeluhkan kuliahmu yang begitu susah, dosenmu yang luar biasa killer, kuliah praktek dinasmu yang melelahkan, tapi keluhanmu itu tak membuatmu lantas berhenti, menyerah dan meninggalkan semuanya. kamu tetap melangkah maju, terkadang melihat kegigihanmu itulah yang tak pernah berhenti membuatku kagum. Sesulit dan sesusah apapun kuliahmu kamu tetap menyediakan waktumu untuk membaca novel-novel penulis idolamu, dan kamu tetap menulis setiap waktu, mulai dari fan fiction tokoh-tokoh Harry Potter, hingga naskah novel “noite” mu sendiri.
Langganan:
Postingan (Atom)
Galau
: " moving my f**ing ass right now hap hap hap " ~me
Blogroll
: " we were slave of modernization and machine civilization " ~me