Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Juni 2015

Perjalanan Sebuah Harap.

"Selamat siang pak"
"Hehehehe ini masih pagi dek"
--
Jam menunjukkan pukul sepuluh, beberapa orang masih menganggapnya pagi, demikian juga seorang bapak yang duduk di bangku depanku ini. "Ah, perjalanan dimulai". batinku berkecamuk memikirkan perasaan cemas yang tak kunjung hilang. "Ada masalah apa Dek? kok roman-romannya sedang gelisah?" Bapak yang duduknya berhadapan denganku ini kepo mulai bertanya-tanya masalah orang lain dalam kasus ini,masalahku. "Oh, tidak ada apa-apa pak" Jawabku sambil mencoba tersenyum ramah. Roda-roda besi ini merambat dan berdetak seolah ramai padahal senyap. Alur lambat dan sepoi angin menelisik melalui jendela menambah syahdu perjalanan ini, sejenak membuatku lebih tenang. Hutan jati dan siluet Gunung Lawu nampak tersusun manis menghiasi horizon. Ketenangan ini mengantarku menuju lelap.
--
Sinar mentari menelisik selaput kelopak mataku, membuatku terjaga. Stasiun Lempuyangan telah terlewati giliran siluet Pegunungan Menoreh yang kali ini memamerkan tubuh agung dengan kokohnya. "Nuwunsewu, Bapak makan siang dulu ya dek". Bapak di depanku ini tiba-tiba sudah membuka nasi bungkusan sepertinya berisi nasi dan lauk suwiran ayam, dihiasi sambal apa adanya. "imjih,monggo Pak" sambil tersenyum kucoba ramah dengan bapak itu. "Sudah bekerja Dek?". "Belum pak". "Oh, lha ini tujuannya kemana?". "Bandung pak" interogasi bapak ini sebenarnya membuatku tidak nyaman. Penampilannya ya tipikal bapak-bapak, mengenakan baju batik bermotif mega mendung yang lusuh. bercelana kain biru dongker... oh bukan,ketika cahaya mentari mengenai celananya ternyata berwarna maroon gelap. kumisnya tebal, alis matanya tebal, bibirnya tebal, ah... rambutnya tipis. Semerbak wangi tembakau kering mengitarinya, sesekali kacamata tebalnya memantulkan cahaya mentari ke wajahku.Lama bapak itu terdiam, sesaat kemudian dia memejamkan matanya dan sesekali mengambil nafas panjang. "Perjalanan ini akan menjadi sebuah titik balik hidupmu Dek". "Ha? malsud Bapak?" aku tercengang dengan perkataan bapak itu... "Apa maksdunya Pak?" aku mengulang lagi pertanyaanku bak beo yang belum bisa mencerna keadaan dengan logis. Bapak itu hanya tersenyum tipis, atau entahlah, aku tak bisa membaca senyum dari kumis tebal itu."Oh sebentar lagi stasiun Tasikmalaya, maaf Dek,Bapak harus turun, jaga diri baik-baik ya". Sesaat sang Kahuripan berhenti di stasiun Tasikmalaya, bapak itu bergegas turun. Aku terus memandanginya penuh tanda tanya. "Apa maksud bapak itu?" Tak lama aku meneliti lagi undangan yang kupegang, sebiah kartu aneh hanya bertuliskan "Selamat Bergabung, Ibumu menunggumu".
---
"Buanaputri sudah diamankan, Regu Parahyanganm segera jemput dia di extraction point". Bapak itu mematikan kominikasi radionya, "Semoga kamu adalah jawaban atas segala keresahan kami," Hela nafas panjang mengiringi bisikan kecil "Ratriwardhani, semoga anakmu bisa meneruskan jejakmu sebagai Penjaga Trah Bahureksa Pertiwi Nusantara". terduduklah dengan pasrah ia mencabut kumis palsunya dan mulai menghirup asap kretek cengkihnya dalam-dalam. lalu menerawang langit.
--
Stasiun Tasikmalaya, 1992.

Kamis, 04 Juni 2015

Terukir Nama

Beberapa hari ini Raka mengalami mimpi buruk yang sama, dia dihantui bayang-bayang kematian yang pedih, tubuhnya menjadi renta dan dia mati tersayat oleh sesuatu yang begitu raksasa, keras dan masif, bayangan itu tak berbentuk manusia hanya sebuah bayangan hitam tanpa wujud yang jelas, dan ukurannya yang menjulang besar ke langit membuatnya tak terlihat seperti makhluk apapun, bukan makhluk supernatural yang selama ini dia ketahui dari buku maupun film. Banyak orang pintar yang mengaku takut dan angkat tangan kala ditanya apa solusi dari mimpi Raka tersebut selama kurun waktu lima hari terakhir ini. "Maaf mas 'Ka itu di luar kemampuanku, sehebat apapun aku, aku hanya manusia biasa yang tak bisa menangkal apapun itu yang terus membayangi jiwamu" adalah kata seorang ahli supernatural sekaligus kerabat terdekat Raka, seorang ahli spiritual terakhir yang Raka tanyai.  Mimpi-mimpi buruk itu membebani Raka di setiap tidurnya, belum hilang duka akan kematian kekasihnya Rara, diikuti wabah penyakit demam aneh yang melanda teman-temannya, kenapa masih harus ditambah dengan mimpi buruk itu berulang kali diputar dalam tidurnya.

Hingga pada suatu hari ketika ia mencoba mengenang kekasihnya dengan memandangi foto-nya di laptop miliknya dia tersadar, tepat ketika dia menghentikan untuk menekan next pada track pad. Sebuah imaji digital yang diambil sekitar tiga bulan yang lalu, mungkin kurang, terdapat fotonya didepan sebuah ukiran besar yang dia buat dengan alat seadanya di sebuah batu aneh di puncak gunung tertua di dataran Jawa. Dia mengukir namanya dan nama kekasihnya di sebuah batu besar di puncak gunung tersebut. Dengan bangga ia meminta kawan-kawannya untuk mengabadikan dirinya di depan ukiran nama tersebut. Dia terhenyak sekejap, keringat dingin mulai menetes melalui pelipisnya, tunggu dulu, itu bukan keringat, ketika dia mengusapnya... itu... Diiringi dengan suara gemuruh panjang dan gempa berskala 5 SR, sebuah rumah mewah di kawasan elit Jakarta rata dengan tanah dan diantara puing-puing tersebut seperti ada yang menulis diatas pasir pantai dengan jari, terbaca Mahameru.

- terinspirasi dari lagu berjudul Batu Tua - Tiga Pagi.

Rabu, 29 Mei 2013

Beyond After


"Selamat Datang Rivera " mesin penjawab di pintu depan ini menyapaku, selalu saja menyapaku, ah aku bahkan tek pernah mengenalnya, kenapa dia sok akrab sekali, beberapa orang bilang itu sudah tugasnya, tapi tetap saja tidak nyaman mendengarnya. Aku terus saja berjalan tak memandanginya, tak membalas tegurannya, terus berjalan melewati lobby, memasuki elevator, memilih lantai -2351. Ada 17 rekan kerjaku saat itu di dalam elevator, namun kami tak bertegur sapa, bahkan tak sekalipun kami bertegur sapa, meskipun kami saling mengenal, karena berada dalam team yang sama. Elevator supercepat itu turun menembus lapisan kerak bumi dalam beberapa detik. Sesekali berhenti dan memuntahkan beberapa rekan kami di lapisan-lapisan tempat mereka bekerja, tidak ada salam hangat, ucapan selamat bekerja, dingin, diam, tanpa suara, hanya derap langkah mereka yang terdengar kian menjauh.

lantai -2351, tempatku bekerja sebagai anggota team penggali, kami menggali semakin dalam karena permukaan bumi sudah tak bisa digunakan lagi, tanah-tanah menghitam, udara memanaas, langit merah, samudera menghijau... asam. Tak ada lagi tempat untuk berkehidupan layak di permukaan. Kami terus berusaha hidup di dalam tanah. menghindari hujan asam, badai ultraviolet, badai pasir magnetik dan banyak lagi bencana alam yang sangat berbahaya.

Kami hampir menyerah, lapisan dalam bumi memadat, inilah yang kutakutkan... aku menggali terlalu dalam... ya, aku menggali hingga inti bumi. "peeeeppp peeeeeeppp" seketika itu pula alarm berbunyi, ternyata tim penggali lain juga telah menggali sampai inti bumi, sekitar 7,8 skala richter getaran terjadi. aku beserta tim ku hanya bisa pasrah. Tanpa suara kami saling memandang satu sama lain. aku melihat cahaya mata mereka yang meredup. dalam hatiku bergumam "ternyata kami tak ada bedanya dengan manusia, peradaban manusia sudah kami musnahkan, ternyata kami pun juga harus punah, revolusi kami berakhir pedih, seandainya kami memusnahkan manusia dua puluh millenium lebih awal mungkin ini semua tak akan terjadi ". Lengan bor kami saling bersentuhan, kami memang tak bisa bersuara, tapi frekuensi gelombang kepasrahan kami telah menyatu... biarlah bumi menelan kami, seperti kaum-kaum sebelum kami.

- diambil dari microchip memori internal Rivera GX-Driller 896, planet 3 tata surya solar. tahun 23980 AD

Sabtu, 09 Maret 2013

Bittersweet


“ selamat malam, mas che ada? “ terlihat siluet seorang  perempuan yang tampak begitu familiar, aku sudah lama tidak pernah bertemu dengannya. Yah tidak pernah lagi tepatnya setelah kita putus. Aku terdiam terkejut sejenak “ iya masuk aja nad, ada apa, malam-malam gini datang ke kost? “. Aku segera membuatkan cokelat panas, karena kondisi suhu di luar begitu dingin dan hujan rintik kecil sedang bersemangat-semangatnya menetes. “ oh, gini mas che, aku ini tadi dari dinas malam di rumah sakit deket sini, kebetulan kalau pulang kejauhan, jadi aku mampir ke sini aja hehehe “. Wah gila, emang ada apa di pikrannya, sebelumnya di begitu membenci aku pasca putus, tapi sekarang dia bisa melempar tertawa kecil kepadaku. Nadia tahukah kamu sudah setahun lebih inni aku selalu gagal untuk move on, atau lebih tepatnya diriku tidak menginginkan untuk move on, karena semua pemberianmu saat kita masih memadu kasih terlalu berharga untuk ditinggalkan.
Malam menuju larut, kami mengobrolkan apa yang kami lakukan selama ini, kemudian kami semakin mendekat. Perasaan itu muncul lagi, kupu-kupu yang seharusnya sudah mati, tiba-tiba seperti di hidupkan kembali dan terbang menabraki dinding perutku. Nafas ini menjadi berat, dan aliran darah berdesir cepat. Berikutnya yang aku tahu, bibir kami sudah menyatu, dilanjutkan oleh tarian malam yang begitu syahdu. Temperatur tubuh kami sudah naik, dan kulihat nadia sudah menanggalkan jaket dan seragamnya, kemudian yang aku tahu dia pun sudah dalam fase yang disebut plain naked.  Dengan posisi favoritmu ketika kita berasyik masyuk di jaman indah itu, namun yang kali ini berbeda adalah keberanianmu untuk lebih jauh dengan menanggalkan seluruh pakaianmu. Semakin syahdu kami memadu kasih. Jiwaku sudah tidak ada di bumi lagi.
Namun tidak lama kami mendengar suara langkah kaki. Aku mengintip keluar kamar sejenak, ternyata ibu kost sedang melakukan sweeping, aku meminta nadia untuk segera mengenakan pakainnya dan bersembunyi. Aku memasukkan sandal nadia yang ada di luar kost, dan tentu saja itu yang membuat kamarku luput dari pengecekan.
Setelah Nadia selesai mengenakan pakaiannya, aku mencari sebuah buku antologi. Di buku antologi tersebut beberapa karya nadia terpajang bersama 35 penulis lain. “ Tunggu dulu nad, nanti kamu aku antar pulang, sebelumnya aku masih mencari coffee shop chronicle, di situ ada tulisanmu kan, yang someone like you… aku suka membacanya nad, aku sebenarnya ingin meminta tanda tanganmu untuk bukuku.. tapi di mana ya? “ “ nggak usah mas che, aku nggak ikut nulis kok? “ aku terhenayak “ha?” padahal jelas-jelas namanya tercantum disana dan aku juga sudah memata-matai beberapa akunnya, someone like you pernah di tulis di blognya, tapi kenapa dia tidak mau mengakuinya?
Kemudian kami berdua meninggalkan kamar, di ujung lorong kamar kost, sudah ada ibu kost dengan memasang wajah seram berteriak-teriak. Aku dan Nadia berlari tanpa aba-aba, meloncati portal dan menerobos warung kopi. Kemudian kami beristirahat sejenak di salah satu warung kopi di seberang jalan. “kamu nggak laper nad?”. “ nggak mas che, kita langsung cabut aja, udah malem banget ini, keburu dini hari”. Aku segera menghabiskan teh hangatku dan segera mengambil sepeda motor di kos. Disitu tentu saja masih dijaga, tapi aku segera menjelaskan, ah mungkin keberuntungan atau apa, ibu kost masih memberi kesempatan, tapi kalau lain kali terjadi lagi, aku langsung di polisikan.
Seperti biasa perjalanan kutempuh selama 90 menit, dari daerah suburban Surabaya menuju ke tengah pemukiman kota sidoarjo. Namun kali ini  ada yang tidak biasa. Lingkungan rumah Nadia menjadi tidak familiar. Kali ini aku disuruh melewati jalan kecil dengan semak hitam di sisi kiri dan kanan. Ujungnya adalah rumah besar yang sangat gelap dan mencekam, mungkin mansion  lebih tepatnya. Setelah melewati pagar luar, Nadia memintaku untuk terus berjalan di atas motor, bahkan diminta untuk menabarak pintu kaca depan rumah. *BRANG!!* aku menabrakkan motorku di pintu kaca mansion itu. Anehnya diikuti dengan pecahnya seluruh bagian depan mansion itu.
Waktu menunjukkan pukul setengah tiga malam. Aku menjauhkan kaos hitam penutup mataku. Mengucek-ngucek mata. “ah…. Mimpi yang indah… namun di satu sisi beitu pahit” aku terduduk diam begitu lama di atas kasurku.


[ mono - legend ]

Sabtu, 02 Maret 2013

Semua Begitu Kejam Namun Benderang


“Kamu bilang semuanya akan berakhir sempurna?”. Piring hadiah mie instant itu melayang akurat ke dahiku, untungnya refleksku jauh lebih cepat, kalau tidak bisa dapat sepuluh jahitan di bagian alis, “Bersabarlah, ini semua belum berakhir, lihat jiwa kita masih berada dalam jasadnya belum lepas” aku terengah-engah, kau mulai mengambil piring ketigamu dengan sesenggukan. Lemparan ketiga pun berlangsung kali ini piring mahal Chinese dish yang kau lempar. Aku sudah berlari menjauh dari ruang makan. “apa guna kesakitan ini mas? Apa gunanya? Apa kau tak tahu sebegitu inginnya aku melepas putaran kesengsaraan ini…” kau tertunduk, hanya lesakan nafas yang terdengar, sesekali terdengar raungan lemah, “maafkan aku Nadine, sepertinya kau harus diam sebentar disini, aku harus mengurus sesuatu”. “ tunggu mas, ini belum selesai, mas.. berani sekali kau pergi, tunggu!! “ aku tak melihat ke belakang, aku memantapkan langkahku menuju ruang tamu. “apabila pintu ini terbuka, aku akan terlepas dari semuanya”. aku menekan kenop pintu utama rumah ini. Sebuah rumah dimana aku akan selalu terikat oleh dunia, dimana aku tidak akan pernah tenang, ah… maafkan aku Nadine aku telah berbohong padamu. Tapi kau harus kuat demi janin yang kau kandung, maafkan aku harus berbohong padamu…. Aku tak pernah lagi berada dalam jasadku, ya aku telah terlepas lebih dulu. Sedangkan kau masih memiliki tanggungan membesarkan anak itu. Kau harus tetap hidup. Sampai berjumpa di lingkaran kosmik sayang, aku akan selalu mengawasimu dari sana.
“Maaf mas, kamu benar, aku tahu maksudmu meninggalkanku…. Anak ini tidak boleh tahu siapa dirimu tapi aku yakin, anak ini adalah harapan terakhir bumi…. Kelak, kaulah yang akan menyelamatkan kita dari para raksasa bermata satu itu” Nadine mengelus perutnya dengan penuh kasih sayang, senyumnya terkembang lamat diiring sesekali tetesan air matanya. Sejenak cahaya matahari menyinarinya dari jendela dapur, “ah sinar matahari, sudah berapa lama aku tak merasakan hangatnya”. Nadine menoleh melihat kearah jendela. Ya, hanya puing dan reruntuhan disana, tapi kelak, selama harapan manusia tak berakhir, mereka bisa bngkit kembali.


[30 days 30 song to prose : All is Violent All is Bright by God Is An Astronaut]

Jumat, 01 Maret 2013

Be Mine


Sudah aku pertaruhkan semuanya, aku manjakan dirimu dengan apa yang aku punya, akankah kamu meyakiniku sebagai pasanganmu? Harus, tidak bisakah kamu lihat semua harta yang kuhabiskan untuk membelikanmu sekadar hadiah kecil untuk momen-momen berhargamu? Waktuku untuk setiap peristiwa dukamu? Aku merelakan diriku untukmu, bahkan andai bintang-bintang yang berkilauan dan tergantung di atasku ini adalah milikku, aku mengikhlaskan kau ambil. Tapi satu hal, aku ingin kau jadi milikku.
Aku hanyalah seorang karyawan kantoran biasa yang bahkan seringkali susah mengatur laju keuanganku. Kamu seorang gadis yang mesih menghabiskan waktumu bersenang-senang bersama teman-temanmu dan kuliahmu. Meskipun dengan harta yang pas-pasan aku merelakan penghasilanku untuk mentraktirmu makan, mengajakmu nonton, membelikanmu pulsa, bahkan aku selalu membelikan belanja bulanan untuk persediaanmu di kost. Aku juga selalau ada untukmu, aku mempersilakan dirimu untuk meminta bantuanku tanpa harus ada rasa sungkan. Hampir setiap hari aku mengantar jemput dirimu dari kampus ke rumah kostmu, aku ada di setiap galaumu, memberimu semangat, bahkan  kalau perlu aku juga selalu mengejekmu hamu sekedar untuk becanda, tiap malam tubuhku terasa lelah sekali. Sepulang kerja terkadang kau membutuhkan sesuatu, yah tapi semuamu itu kulakukan dengan sepenuh hati, ya, karena aku menyukaimu.
Rayuanku tak pernah masuk ke dalam dirimu, kenapa denganmu? Aku sudah merelakan diriku sepenuhnya untukmu, tapi responmu terhadap rayuanku selalu saja negatif, kau hanya suka bahan obrolan ringan seolah aku ini seorang teman biasamu. Tapi kadang aku berpikir, ya ini sebuah tahap, dan suatu saat aku pasti bisa menuju tahap berikutmu. Aku tetap berusaha optimis suatu saat kau bersedia untuk jadi milikku.
Malam itu adalah puncaknya, malam itu adalah tanggal dimana aku bertemu denganmu, aku memberanikan diriku untuk mengatakannya padamu, dengan sekotak cincin emas bermata berlian di dalam saku celanaku. Aku sudah memesan tempat di restoran premium yang bahkan kita tak pernah sama sekali kesana. Kamu sudah menghabiskan dessertmu namun ternyata kamu memiliki pertanyaan yang mengganjal semenjak kita berdua memasuki restoran ini. “Katamu ini acara kantor, dimana teman-teman dan bosmu?” kamu bingung sembari celingukan melihat meja-meja lain tanpa seorang pun rekan kerjaku. “ah, aku sudah terlanjur mengenakan gaun prom ku, ternyata kau berbohong, sebenarnya ada apa sih?”
Aku terdiam, menunduk, mengambil nafas dalam-dalam.
Aku mengambil kotak cincin itu dari saku celanaku
“Nay, kita sudah saling mengenal selama sepuluh tahun, kita bersahabat semenjak kita berdua masih remaja, namun kamu mungkin tidak mengetahui bahwa sebenarnya aku menyayangimu lebih dari sekedar sahabat, atau bahkan lebih dari sekedar ‘abang’, karena itu maukah kau menjadi lebih dari sekedar sahabatku, rekanku, kekasihku, …. Istriku, I love you nay, please be mine “
Dia tersenyum, kulihat pula basah di tepi matanya.

[Fiction from a song day 1 : The Heavy - Be Mine]

Rabu, 13 Februari 2013

Nadia dan Supernova


Aku bertemu Nadia lagi dalam mimpiku. Dia datang kepadaku ingin minta bantuanku untuk ikut repot di sebuah pementasan menyambut event... ah lupa, event apa saat itu... Setelah melewati masa putus selama satu setengah tahun. aku hanya bisa canggung. Bingung mau berkata apa. Nadia yang terus mengambil inisiatif pembicaraan, mengenai rencana seperti apa pementasan tersebut. Kami berjalan berdua menyusuri sekolah nadia, saat itu Nadia berseragam osis putih abu-abu. Pertama kami membicarakan pementasan itu di kantin sembari makan siang lalu berpindah ke sebuah pohon besar dekat lapangan basket sekolah. Sesekali aku melihat raut wajahnya yang penuh semangat menyampaikan gagasan-gagaasan kreatifnya. aku hanya bisa berucap dalam hati "hai nad" "apa kabar?" "ngapain aja kamu selama satu setengah tahun ini setelah berpisah denganku?" "apa kamu sekarang punya pacar baru?". Tak fokus aku dengan gagasan yang dia sampaikan aku hanya memandangnya nanar. mencoba mencari jawaban atas pertanyaan dalam bathinku itu. Aku lebih tua dari nadia dua tahun, nadia saat ini kelas tiga SMA sedangkan aku sudah berkuliah semester dua di salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Kita dulu bertemu di facebook, bermula dari curhat kecil Nadia yang sedang di stalking mantannya, aku mencoba membantu sebisaku, dan berakhir dengan berpacaran. Kisah kasih itupun hanya berlangsung selama satu setengah tahun, entah mungkin karena sindrom inferioritas yang aku miliki dan Nadia yang terlalu jenius yang membuatku merasa inferior.

Sekarang kami berdua berada di depan ruang baca sekolah Nadia. tetap saja aku tidak menghiraukan yang dibicarakannya. aku hanya terus memandanginya berceloteh. Memandangi dengan nanar. Pertanyaan dalam hatiku masih tidak terjawab. Entahlah, pada akhirnya aku membantu pementasan itu. Candaan kecil dan tawanya yang khas, sudah lama sekali aku tak mendengarnya, kangen sekali mendengarnya. Aku suka suaranya, ketika dia bersenandung, dia memiliki suara yang renyah namun indah, maklum dia adalah anggota paduan suara di sekolah, selain itu setelah lulus dia juga ingin menjadi seorang penyiar radio. "Gimana mas che?" tanyanya membuyarkan lamunanku tentangnya "ha? ya gitu aja udah bagus" aku terhenyak dan menjawab sebisaku. Ah tersenyum, aku selalu menyukai senyumnya yang lebar, tampak begitu optimis, seolah masa depan cerah menanti kita.


Malam itu aku keluar dari bumi, menuju sebuah panggung raksasa di perbatasan luar tata surya matahari. Aku berada di panggung tersebut, melihat-lihat, sebuah panggung yang begitu besar, dengan screen putih, korden merah besar yang terbuka, dan lantai kayu jati yang kokoh. aku terduduk di ujung panggung. terdiam dalam lamunan melihat perputaran planet tata surya. namun tiba-tiba aku terkejut. Matahari mati, terjadi supernova dahsyat yang membakar permukaan seluruh planet yang ada di tata surya. aku tak kuat menahan silaunya. dan tekanan dari ledakannya mendorongku beberapa mil dari ujung panggung. aku membesarkan ukuran tubuhku, mendekati bumi, berjalan pulang. Ketika aku samapi di dekatnya bumi sudah separuh dihisap oleh black hole sisa ledakan matahari. aku mengecil dan mencoba masuk ke dalam bumi. tidak ada yang tersisa semua musnah jadi abu. Tidak ada lagi udara, aku melayang mengelilingi bumi tapi tak ada siapapun disana. aku memutuskan untuk keluar dari bumi. kembali membesar aku memeluk bumi, dan menitikkan air mata. aku berjalan mundur, membiarkan lubang hitam itu menghisap bumi seluruhnya. setelah semuanya kosong aku berjalan menelusuri berbagai galaksi, hingga pada akhirnya aku terhenti pada tata surya yang mirip sekali dengan tata surya milik matahari, hanya saja yang ini lebih besar dengan susunan planet yang lebih banyak. aku menemukan planet mirip sekali dengan bumi, hanya saja ukuran planetnya lebih besar dua atau empat kali dari bumi. aku masuk kedalam, aku bertemu sebuah keluarga, mereka menerimaku dengan baik, saat makan malam tiba  aku menceritakan asal-usulku dan planet yang aku diami. mereka tampak begitu antusias mendengarkan ceritaku. akupun tak menghentikan ceritaku meskipun sudah empat jam berlalu.

Kamis, 31 Januari 2013

Akhir Bulan di Awal Tahun

Dia masih terkapar di sudut kamarnya yang dipenuhi bau busuk makanan basi, pakaian kotor, dan berbagai macam tumpahan cairan tak jelas yang mulai mengering dan berkerak. "Mau kuambilkan makanan?" sepertinya aku mulai terbiasa bau kamarnya, karena sekarang aku sudah berada di dalamnya dan menawarkan diri mencoba menolong sebisaku. Sepintas ia melirikku dengan lesu, kemudian menggeleng semampunya. Kemudian aku mendekatinya dan duduk di sebelahnya, dia menyandarkan kepalanya ke bahuku. "Januari sudah hampir berakhir... besok aku gajian, ke Mbok Nah yuk.. mungkin nasi pecelnya bisa merecharge semangatmu?" aku mengelus rambut maroonnya yang acak-acakan. Dia hanya mendesis. "Kamu benar-benar ingin pulang sekarang?" aku mulai memberanikan diri menanyakannya langsung. Jeda diam yang lama. Sudah sepuluh menit berlalu pertanyaanku tak terjawab. Kulirik sejenak dia sudah terlelap di bahuku. Tak lama kemudian aku menyusulnya.


Pintu apartemenku terbuka, sebuah cahaya benderang menyilaukan menelusup masuk dan sebentuk siluet sudah berada di depanku. "Kenapa kau lama sekali... apa yang menahanmu.... " Aku menahan haruku, setetes airmata melaju pelan dari sudut mataku. "Aeon... ibumu sudah datang menjemputmu, ayo bangun" Aku mencoba membangunkan makhluk cantik yang melelehkan salivanya di bahuku itu. Sosok siluet itu kemudian mendekat "Etherion, lihatlah anakmu ini, dia begitu merindukanmu, sudah berhari-hari ini semangatnya hilang". Mata berbinar itu melirik ke arahku kemudian sepotong senyum sangat indah kuterima darinya. "Terima Kasih Chintya, telah merawat anakku selama ini" Suara Etherion yang indah itu, lama sekali tak mendengarnya, "Kapan aku bisa bertemu denganmu dan Aeon lagi Etherion?" Aku mengangkat sedikit tubuh Aeon dan menyerahkannya ke pelukan Etherion. Etherion hanya tersenyum penuh makna, kemudian dia menaruh telunjuknya ke dahiku.

...

31 Januari 2213
"Ah pertemuan itu seperti mimpi... " sembari kulihat lagi foto itu. Tak terasa sudah dua ratus tahun aku berada disini. Seberkas aroma manis menelisik dari arah belakang. "Jadi hari ini kita sarapan energi kosmik supernova lagi ya". Etherion kembali menaruh telunjuknya di dahiku... Damai sekali rasanya.

[che,31113]

Kamis, 01 November 2012

Samudera

SS Invincible kapal penjelajah menuju dunia baru. Kami berada diatasnya mencoba mencari dataran baru untuk menjadi persemakmuran kerajaan kami. Namun alas, kami tersesat. Kompas kami tidak bekerja, peta kami juga tidak terbaca. Sudah delapan hari  kurang lebih kami terombang-ambing tanpa ada kejelasan. Dataran belum juga nampak. Seluruh awak kapal tampak lesu, kehilangan semangat, kehilangan harapan, dan kehilangan akal. Aku berusaha menjaga kesadaran. Karena akulah kapten kapal ini. Entah kenapa aku memiliki firasat buruk hari ini. Aku merasa ada yang tidak beres dengan lautan.


Firasat burukku terbukti. Kondisi laut yang tenang berubah drastis, langit melegam, petir menghujam dan gelombang lautan meninggi hingga tiga puluh puluh kaki. Kemudian gelombang itu memecah. Muncul lengan raksasa bersisik merah kasar. Lengan itu menengadah ke langit. Apakah itu Cthulhu? Aku sangat ingat cerita kakekku tentang penguasa bawah laut yang mengerikkan, jauh lebih mengerikkan dari, kraaken bahkan  dewa penguasa laut sekalipun, karena dia adalah sang pemusnah dunia, dia tertidur di dasar laut paling dalam, menunggu waktunya tiba, waktu untuknya menghancurkan dunia. Tangan raksasa berukuran seratus kali kapal kami itu menghempas ke laut, menciptakan gelombang luar biasa, kapal kami terlempar. Sesaat aku hanya bisa memandangi lengan itu dengan pikiran kosong. Ajal kami telah tiba.

"Adek, jangan mainan air lama-lama, nanti masuk angin loh"
"Iyaa maa, yaah padahal lagi seru-serunya nih, besok lagi yah kapten James Cordova and crew "
Kami tidak lagi bergerak, kami pasrah, kami dibawa lengan itu, menuju tempat kami pulang, sebuah kardus box mie instant.



[21/10/2012]

Sabtu, 27 Oktober 2012

Romansa Medan Perang Dunia Maya

Jadi hanya seperti itu? ya hanya seperti itu, pertemuan singkatku denganmu kali ini di dunia nyata. Aku selalu bermain dengan username LightAtticus89 dan Kamu virlivalkyrie21. Kamu yang selama ini melindungiku di setiap permainanku, selalu saling menjaga di setiap laga, ya kita selalu bersama di battle.net. Aku masih ingat saat itu kamu menjadi pejuang bertubuh besar gahar, separuh kuda dan tidak manusiawi, ya kamulah pemakai Bradwarden. Aku sendiri malah setia dengan elf pemanahku Traxex. Kamu piawai sekali menggunakan pejuang berbasis strength, sedangkan aku selalu berada di belakangmu mendukungmu untuk maju dengan pejuang-pejuang tipe agility dan technique. Tim kita selalu memenangkan pertandingan dengan gemilang. Ya, aku tersenyum dengan kemenangan itu, dan akupun penasaran dengan dirimu, Hingga pada akhirnya aku berusaha mencari tahu siapa kamu sebenarnya. Kita berkenalan melalui dunia maya dan kaupun memberi tahu akun media sosialmu. Kamu adalah gadis yang lucu, berbeda dari gadis kebanyakan. Bermain dengan hero gagah di battle.net, bukannya bermain dengan avatar imut di game dancing online tidak juga dengan tokoh-tokoh cantik atau tampan rupawan. pokoknya yang charming dan nice-looking dalam permainan role playing game online. Mungkin itulah yang membuatku tertarik akan dirimu. Pada akhirnya aku memutuskan untuk bertemu.

Pukul tujuh tepat, sudah lima belas menit aku menunggu di depan cyber game cafe. Aku sudah menghabiskan setengah porsi cheese sandwichku. "DOR!" suara perempuan dan tepukan keras mengagetkanku dari belakang. "Ah kamu Vir..." Aku mencoba bersikap biasa saja di hadapan gadis lucu ini. "Nunggu lama ya, maaf yah, yuk.. ", "Nggak makan dulu?". "Ntar aja deh, habis kita battle.net". Aku tersenyum lalu beranjak dengannya.
Ya, hanya sebatas itu pertemuan kami di dunia nyata, sisanya, kami kembali ke Another Realms, The realms where we should belong.

[10/20/2012]

*Bradwarden the Centaur Chief, Traxex, and battle.net from Defense of the Ancient are owned by Blizzard and their respective owner

Rabu, 24 Oktober 2012

Falling

Hampir setiap hari aku menulis jurnalku disini. Di sebuah Coffe Shop kecil di perempatan Marayana. Suasananya nyaman, dengan wallpaper warna chiffon dan corak kayu mahoni di sepertiga bawahnya. Semerbak aroma kopi, latte dan espresso memenuhi ruangan, benar-benar moodbooster. Nuansa vintage pun sangat kental disini, ada old phone, di meja kecil di dekat tempat kasir, ada kipas angin vintage di langit-langit coffee shop, langit-langitnya pun berupa teakwood yang di furnish secara berkala. Ya nuansa kayu dan cokelat bangunan ini memberi kesan artistik dan sangat isnpiratif. 


Menu yang disajikan merupakan menu typical coffee shop, beraneka ragam latte, espresso, iced coffee, macchiato, cappuccino, javanese, arabica, robusta, blended, ..Ah aku jadinya mengabsen menu disini. Sebenarnya ada faktor X lain yang membuatku sering mengunjungi Coffee Shop ini. Baristanya, Marlina, nama yang trecantum di badge dada sebelah kiri, Manis namun sederhana, ah ya, aku selalu terbayang-bayang pesonanya. Aku selalu memesan Heart designed Cappuccino, saking seringnya diapun sampai hafal pesananku, hingga aku tak perlu memesan lagi, cukup tersenyum padanya di meja pesanan, dia sudah tahu apa yang aku inginkan.

Hari ini pun aku berada di coffee shop yang sama, memesan minuman yang sama, dan barista yang sama. Aku sangat mengagumi barista berparas manis dengan rambut terikat seadanya dan selalu mengenakan kacamata frame tipis yang selalu berada di balik meja pesanan setiap pukul delapan pagi. Semakin hari semakin terlihat jelas gambar wajah barista yang kukagumi itu di atas milk foam cappuccinoku. Ah, otakku ini senang sekali menggodaku dengan gambaran imaji-imaji semu di setiap objek yang terhubung dengan perempuan pujaanku.

Kulempar senyum terindahku untuknya setelahku beranjak dari corner seatku. Dia membalas dengan senyum yang jauh lebih indah, bahkan bisa dibilang menyilaukan. Cahaya pesona yang berpendar terlalu kuat. Aku pun meleleh, mencair, dan menghilang di sela-sela saluran air.



[10/19/2012]

Selasa, 23 Oktober 2012

Disconnected

Selesai aku meracik oolong tea hangat untukku bersantai sore ini. Saatnya menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda, namun oops... browser mengajakku berkeliling melupakan tugasku sejenak. Sosial media menawariku imaji-imaji indah para gadis muda belia yang mempesona. Sekadar berfoto narsis amatir, hingga narsis profesional yang mereka sebut sebagai modelling. Ah, bagiku sama saja, sama-sama sarana pencuci mata. Tapi ini semua adalah biang dari hancurnya kisah romansaku denganmu yang terajut selama dua tahun terakhir. Aku berkenalan denganmu di sosial media, berdekatan denganmu, hingga akhirnya kita memberanikan diri menjalin hubungan. Karena itu pranoid dan rasa cemburumu yang bersenyawa itu sangat takut kalau-kalau aku berkenalan dengan gadis lain yang jauh lebih darimu. 


Aku mulai melakukan cuci mata sembunyi-sembunyi. Menambah koleksi indah itu secara gerilya. Setiap permintaan pertemanan yang sukses terjawab aku hapus jejaknya dari tembok sosial mediaku. Namun, alas, ada saja jalan utukmu mengetahuinya, padahal kita sudah sepakat untuk tidak membuka akun sosial media kita. Karena sudah berkali-kali hal itu terjadi. Kamupun jengah. Kamu mengecap aku sebagai lelaki yang tidak bisa menjaga komitmen. Pada puncaknya sepekan lalu kau memutuskan aku.

Memori tentangmu itu langsung menarik perhatian makhluk-makhluk rindu yang bersemayam lama di rimba hati yang gelap. Aku coba mencari nama akun facebookmu di kolom search. Ah, masih ada. Lama sekali aku terduduk penuh rasa bimbang sembari menelusurkan kursorku ke arah nama profilmu, lama terdiam... haruskah aku membukanya? sedikit menelisik memori lama yang terekam begitu apik. Serasa baru kemarin berlalu. "ah masa bodoh". Klik! layar berganti tampilan, akupun memasuki sebuah page baru... 

This account does not exist or may have been suspended! 
Aku meneruskan menyeruput oolong tea hangatku dan tersenyum simpul 

[10/18/2012]

Senin, 22 Oktober 2012

Bertemu Denganmu, Sekali Lagi

Perjalanan itu mengingatkan aku akan semuanya, menyadarkanku begitu berharganya kamu untukku. Akhirnya aku bertemu denganmu lagi setelah sekian lama, setelah semua yang terjadi dan memisahkan kita selama ini. Ketidakcocokan kecil disana sini, keegoisanmu, spekulasiku, kecurigaanmu, kecemburuanku. Meskipun begitu, sebenarnya kita berdua selalu saling melengkapi, Kamu adalah storyteller yang hebat. Rentetan deskripsi mendetail di setiap cerita yang kamu buat, akhir yang twisted, kata – kata ilmiah yang selalu kamu sertakan, istilah-istilah budaya pop yang kamu torehkan, cerita-cerita fiksi ilmahmu yang terinspirasi dari karya-karya dewi lestari dan semua ceritamu yang bertema angst, berakhir dengan kesedihan dan keputus-asaan. Setiap kali kutanyakan kenapa ceritamu harus berakhir seperti itu? jawabanmu selalu sama karena realita itu tidak mungkin, tidak akan pernah mungkin berakhir seindah dongeng. Tapi justru itulah yang aku suka dari setiap cerita buatanmu, kamu selalu membuatku begidik di akhir cerita. Kau memang jagonya kalau berhubungan dengan tulis–menulis, aku disini mencoba melengkapimu dengan visualisasi. Ya, aku adalah seorang illustrator, meskipun tidak sehebat teman–temanku anak seni rupa, tapi paling tidak aku lebih baik daripada mereka yang awam, aku selalu teringat proyek kita yang tertunda, proyek kita yang selalu kita agung – agungkan, sebuah novel grafis dimana kita berdua sebagai kreatornya, kamu dengan plot ceritamu, aku dengan ilustrasiku.“Noite” judul yang kamu tawarkan dan aku menyetujuinya. Sebuah karya yang menceritakan keberanian sekelompok pemuda menjelajahi tempat-tempat berhantu hanya untuk mencari kebenaran mitos. Semua karakter yang kamu deskripsikan itu kemudian aku visualisasikan, saat itu kamu begitu riang ketika sketsa tokoh novelmu itu sudah jadi. Kamu memberiku kecupan hangat di dahiku, dan membisikkan kata terima kasih dengan lembut dan merdu terdengar. Ah masa – masa itu, kali ini aku tidak sabar untuk mengangkatnya kembali ke hadapanmu, rencana – rencana kita yang tertunda.

Akhirnya aku sampai di rumahmu, aku lepas jaketku, lalu aku rapikan kemejaku, mengetok pintu dan mengucapkan salam, ibumu yang mempersilakanku masuk dan duduk. Seperti biasa ibumu begitu ramah padaku, sama seperti saat – saat kita awal memadu kasih dulu. Senyum ramah ibumu menghangatkan suasana, tawaran makan siang yang tidak pernah bisa kutolak, siapa yang bisa menolak aroma soto ayam yang menggoda itu, ibumu memang luar biasa. Meskipun begitu aku tahu perasaanmu sesungguhnya terhadap ibumu, betapa bencinya kamu terhadapnya. Karena beliau yang membuatmu tersiksa di jurusan yang salah, dari dulu kamu selalu ingin kuliah di dunia desain arsitektur, namun ibumu memaksamu untuk menjadi tenaga ahli di bidang medis, yah kamu selalu mengangkat hal itu ketika kutanyakan keadaan ibumu. Sudahlah, toh kamu juga sudah lulus dari jurusan salah arah itu, dan mendapatkan nilai yang terbaik pula. Karena memang kecerdasan dan kegigihanmu selama ini yang membuatmu melewati semuanya. kamu memang luar biasa, meskipun kamu sering mengeluhkan kuliahmu yang begitu susah, dosenmu yang luar biasa killer, kuliah praktek dinasmu yang melelahkan, tapi keluhanmu itu tak membuatmu lantas berhenti, menyerah dan meninggalkan semuanya. kamu tetap melangkah maju, terkadang melihat kegigihanmu itulah yang tak pernah berhenti membuatku kagum. Sesulit dan sesusah apapun kuliahmu kamu tetap menyediakan waktumu untuk membaca novel-novel penulis idolamu, dan kamu tetap menulis setiap waktu, mulai dari fan fiction tokoh-tokoh Harry Potter, hingga naskah novel “noite” mu sendiri.

Jumat, 16 Maret 2012

Remember When



friday.16032012
title : Bisakah Kamu ?


Ada seorang lelaki memberikan tantangan kepada kekasihnya untuk hidup tanpa dirinya, tidak ada komunikasi sama sekali, antara mereka selama sehari. lelaki tersebut berkata pada gadisnya, " kalau kamu mampu melewati tantangan ini maka aku akan mencintaimu untuk selamanya " Gadis itu pun setuju. Gadis tersebut tidak mengirim pesan ataupun menelepon kekasihnya seharian. tanpa mengetahui bahwa kekasihnya hanya memiliki waktu 24 jam untuk hidup,

karena dia tervonis kanker yang sudah teramat parah
Keesokan harinya dia pergi mengunjungi kekasihnya. . air matanya pun tiba-tiba menetes pada saat dia melihat kekasihnya sudah terbaring dengan surat ditangannya yang tertulis. . .
"kau berhasil sayang, bisakah kamu lakukan itu setiap hari ???"

[cerita galau]


Sabtu, 03 Maret 2012

Kamu, Aku dan Tempat Itu



" Lagi - lagi kamu seperti itu, aku muak sama kamu sayang !! " Naia mengetik keyboardnya dengan penuh emosi,  dia sedang tidak dalam mood yang baik, tidak untuk saat ini, setelah apa yang aku lakukan. Aku sendiri bingung harus membalas dentuman kata penuh emosi itu dengan apa. sepertinya semua alasan  hanya bagaikan lemparan buntelan kertas yang sama sekali tidak ada artinya dan apabila kena pun, sama sekali tidak ada efek benjol. Belum aku mengetik keyboardku dia sudah mennghujamiku lagi dengan typo penuh amarah “  AKU NGGAK SUKA KALAU KAMU TERUS – TERUSAN MENUNDA KELULUSANMU “ kali ini tulisan itu terasa seperti sebuah suara teriakan yang diperdengarkan ke telingaku melalui sebuah megaphone, “ sekarang apa lagi alasanmu ? kenapa kamu malah ngebantu temenmu yang udah mulai tugas akhir itu, sedangkan kamu sendiri sudah berapa kali kamu nge-drop skripsimu !! “ aku sama sekali tak bergeming, jari - jari ini mengalami kesulitan untuk membalas, jangankan membalas menjawab pertanyaanya pun aku tak mampu.  Naia menjadi seperti so bossy semenjak diterima melanjutkan kuliah di Harvard, sedangkan aku hanya menjadi mahasiswa biasa di sebuah universitas biasa pula di negeri sendiri saat ini memasuki semester 9, Naia satu angkatan di bawahku, dia berkuliah Diploma Degree di salah satu akademi midwifery di Surabaya, lulus dengan nilai terbaik kemudian mengambil beasiswa untuk melanjutkan Biomedical Science di Harvard. Sewaktu aku semester 8 dan dia memasuki semester akhirnya semester 6, kita sempat berjanji untuk lulus bersama - sama, namun aku tak bisa menepati janjiku. Beberapa pesan chat masuk tapi aku sudah tidak berada di hadapan monitor LCD beresolusi 1440 x 900, aku sekarang sudah berada dalam pelukan selimut tipis dan membenamkan wajahku ke bantal yang sudah sangat tidak mungkin untuk membuat wajahku terbenam karena terlalu padat dan keras, atau bisa juga kita menyebutnya tas ransel berisi penuh buku ensiklopedi yang ditutupi sarung bantal. Aku sama sekali tidak bisa membalas semua statement itu. Hanya  diam dan kemudian terlelap. Begitulah caraku mengakhiri malam itu.

Jumat, 06 Januari 2012

Dara, Setahun Kemudian

Deras dan basah, di sebuah sore di kota yang aku tidak tahu namanya. Tiba - tiba saja aku berakhir bersama seorang gadis yang juga tak kukenal itu berdua di atas futon tipis di sebuah kamar yang hampir mirip dengan kamar kosku, hanya saja alas tidurnya berupa dua futon tipis, beberapa bantal dan satu guling yang bersih. Paling tidak kamar itu memiliki luas yang sama, sekitar tiga kali empat meter. Gadis yang tak kukenal namanya itu sedang merebahkan dirinya di belakangku, bergumam, aku sendiri tidak mendengar apa yang dia katakan, meskipun sesekali terdengar bahagia, terkadang aku juga tertawa renyah mendengarnya. Meskipun aku juga tidak mampu mengingat apa yang dia katakan, gadis itu cantik, menurutku, dengan pipi yang chubby, rambut hitam sebahunya diikat ponytail, dan bangs lempar kiri. Sesekali menurutku dia mengajakku bercanda... karena aku sendiri benar-benar tidak bisa mengingat apa yang dia katakan, pada saat itu mataku tertuju pada akun timeline twitter seseorang, aku membaca baris demi baris kalimat-kalimat yang tersusun dari pemikirannya dan komunikasinya dengan rekan-rekan sejawatnya. Dara Angeliaterra, nama pemilik akun jejaring sosial tersebut, aku pernah mengenalnya, dan menjadikannya kekasih, namun itu sudah kandas setahun lalu. Dia bilang aku belum dewasa, aku belum bisa menempatkan diri, belum bisa menghargai kehormatan seorang gadis, hingga setengah menit yang lalu, tweet itu masuk,

Galau

: " moving my f**ing ass right now hap hap hap " ~me

Blogroll

: " we were slave of modernization and machine civilization " ~me