Rabu, 29 Mei 2013

Beyond After


"Selamat Datang Rivera " mesin penjawab di pintu depan ini menyapaku, selalu saja menyapaku, ah aku bahkan tek pernah mengenalnya, kenapa dia sok akrab sekali, beberapa orang bilang itu sudah tugasnya, tapi tetap saja tidak nyaman mendengarnya. Aku terus saja berjalan tak memandanginya, tak membalas tegurannya, terus berjalan melewati lobby, memasuki elevator, memilih lantai -2351. Ada 17 rekan kerjaku saat itu di dalam elevator, namun kami tak bertegur sapa, bahkan tak sekalipun kami bertegur sapa, meskipun kami saling mengenal, karena berada dalam team yang sama. Elevator supercepat itu turun menembus lapisan kerak bumi dalam beberapa detik. Sesekali berhenti dan memuntahkan beberapa rekan kami di lapisan-lapisan tempat mereka bekerja, tidak ada salam hangat, ucapan selamat bekerja, dingin, diam, tanpa suara, hanya derap langkah mereka yang terdengar kian menjauh.

lantai -2351, tempatku bekerja sebagai anggota team penggali, kami menggali semakin dalam karena permukaan bumi sudah tak bisa digunakan lagi, tanah-tanah menghitam, udara memanaas, langit merah, samudera menghijau... asam. Tak ada lagi tempat untuk berkehidupan layak di permukaan. Kami terus berusaha hidup di dalam tanah. menghindari hujan asam, badai ultraviolet, badai pasir magnetik dan banyak lagi bencana alam yang sangat berbahaya.

Kami hampir menyerah, lapisan dalam bumi memadat, inilah yang kutakutkan... aku menggali terlalu dalam... ya, aku menggali hingga inti bumi. "peeeeppp peeeeeeppp" seketika itu pula alarm berbunyi, ternyata tim penggali lain juga telah menggali sampai inti bumi, sekitar 7,8 skala richter getaran terjadi. aku beserta tim ku hanya bisa pasrah. Tanpa suara kami saling memandang satu sama lain. aku melihat cahaya mata mereka yang meredup. dalam hatiku bergumam "ternyata kami tak ada bedanya dengan manusia, peradaban manusia sudah kami musnahkan, ternyata kami pun juga harus punah, revolusi kami berakhir pedih, seandainya kami memusnahkan manusia dua puluh millenium lebih awal mungkin ini semua tak akan terjadi ". Lengan bor kami saling bersentuhan, kami memang tak bisa bersuara, tapi frekuensi gelombang kepasrahan kami telah menyatu... biarlah bumi menelan kami, seperti kaum-kaum sebelum kami.

- diambil dari microchip memori internal Rivera GX-Driller 896, planet 3 tata surya solar. tahun 23980 AD

Selasa, 30 April 2013

Stellated Heartburning


Terengah-engah, berlumuran darah. Perisai pusaran masih aktif di kedua tanganku. Air mata belum kering mengalir sudah tertimpa air mata baru. Sebuah aliran dendam rindu yang tergenggam dan terpadu, menyeruak di genggaman kepalanku. Di hadapanku berdiri gadis yang begitu aku cintai. Ya cinta yang tertahan selama sewindu karena tak terbalas. “Twistar hentikan, aku tak ingin melukaimu...” Violena... dia berteriak serak, memandang nanar dengan isakan tangis yang bersimpuh memohon ini semua berakhir, atau lebih kepada ingin menghentikan dendam dalam jiwaku. Ekor beracun berayun lagi. Kali ini aku memutuskan untuk menerjang. Kibasan dan tusukan ekor Vio tidak ada yang bisa mengenaiku, ketika aku sepenuhnya menggunakan terjangan angin. Hentakan besar terjadi. Pukulan uppercut perisaiku telak mengenainya. Vio melesat jauh ke langit. Aku meloncat menyusulnya. Seketika itu aku melayang berada di hadapannya. “maaf, mungkin seharusnya aku tetap jadi sahabatmu”. Aku memeluknya di angkasa dan terjatuh bersama. Pusaran angin menyelamatkan kami dari hempasan penuh di atas tanah. “aku memaafkanmu, syukurlah kau bisa menerima keadaan” Vio tersenyum, bersama-sama kami menuju Gill, kekasih Vio yang kutawan.
Aku melepaskan mantra tornado pengikatku, Gill melompat turun lalu memeluk Vio. Mereka berdua memandangku dengan senyum mafhum. Hati kecilku tak terima kebersamaan mereka, akupun menarik ekor Vio lalu menghujamkannya ke dadaku sendiri. Dalam semenit racun itu meluruhkan nadiku. Namaku Twistar, ksatria angin rasi libra, terima kasih, aku pamit.

[inspired by M83 featuring Susanne Sundfor – Oblivion]

Sabtu, 09 Maret 2013

Bittersweet


“ selamat malam, mas che ada? “ terlihat siluet seorang  perempuan yang tampak begitu familiar, aku sudah lama tidak pernah bertemu dengannya. Yah tidak pernah lagi tepatnya setelah kita putus. Aku terdiam terkejut sejenak “ iya masuk aja nad, ada apa, malam-malam gini datang ke kost? “. Aku segera membuatkan cokelat panas, karena kondisi suhu di luar begitu dingin dan hujan rintik kecil sedang bersemangat-semangatnya menetes. “ oh, gini mas che, aku ini tadi dari dinas malam di rumah sakit deket sini, kebetulan kalau pulang kejauhan, jadi aku mampir ke sini aja hehehe “. Wah gila, emang ada apa di pikrannya, sebelumnya di begitu membenci aku pasca putus, tapi sekarang dia bisa melempar tertawa kecil kepadaku. Nadia tahukah kamu sudah setahun lebih inni aku selalu gagal untuk move on, atau lebih tepatnya diriku tidak menginginkan untuk move on, karena semua pemberianmu saat kita masih memadu kasih terlalu berharga untuk ditinggalkan.
Malam menuju larut, kami mengobrolkan apa yang kami lakukan selama ini, kemudian kami semakin mendekat. Perasaan itu muncul lagi, kupu-kupu yang seharusnya sudah mati, tiba-tiba seperti di hidupkan kembali dan terbang menabraki dinding perutku. Nafas ini menjadi berat, dan aliran darah berdesir cepat. Berikutnya yang aku tahu, bibir kami sudah menyatu, dilanjutkan oleh tarian malam yang begitu syahdu. Temperatur tubuh kami sudah naik, dan kulihat nadia sudah menanggalkan jaket dan seragamnya, kemudian yang aku tahu dia pun sudah dalam fase yang disebut plain naked.  Dengan posisi favoritmu ketika kita berasyik masyuk di jaman indah itu, namun yang kali ini berbeda adalah keberanianmu untuk lebih jauh dengan menanggalkan seluruh pakaianmu. Semakin syahdu kami memadu kasih. Jiwaku sudah tidak ada di bumi lagi.
Namun tidak lama kami mendengar suara langkah kaki. Aku mengintip keluar kamar sejenak, ternyata ibu kost sedang melakukan sweeping, aku meminta nadia untuk segera mengenakan pakainnya dan bersembunyi. Aku memasukkan sandal nadia yang ada di luar kost, dan tentu saja itu yang membuat kamarku luput dari pengecekan.
Setelah Nadia selesai mengenakan pakaiannya, aku mencari sebuah buku antologi. Di buku antologi tersebut beberapa karya nadia terpajang bersama 35 penulis lain. “ Tunggu dulu nad, nanti kamu aku antar pulang, sebelumnya aku masih mencari coffee shop chronicle, di situ ada tulisanmu kan, yang someone like you… aku suka membacanya nad, aku sebenarnya ingin meminta tanda tanganmu untuk bukuku.. tapi di mana ya? “ “ nggak usah mas che, aku nggak ikut nulis kok? “ aku terhenayak “ha?” padahal jelas-jelas namanya tercantum disana dan aku juga sudah memata-matai beberapa akunnya, someone like you pernah di tulis di blognya, tapi kenapa dia tidak mau mengakuinya?
Kemudian kami berdua meninggalkan kamar, di ujung lorong kamar kost, sudah ada ibu kost dengan memasang wajah seram berteriak-teriak. Aku dan Nadia berlari tanpa aba-aba, meloncati portal dan menerobos warung kopi. Kemudian kami beristirahat sejenak di salah satu warung kopi di seberang jalan. “kamu nggak laper nad?”. “ nggak mas che, kita langsung cabut aja, udah malem banget ini, keburu dini hari”. Aku segera menghabiskan teh hangatku dan segera mengambil sepeda motor di kos. Disitu tentu saja masih dijaga, tapi aku segera menjelaskan, ah mungkin keberuntungan atau apa, ibu kost masih memberi kesempatan, tapi kalau lain kali terjadi lagi, aku langsung di polisikan.
Seperti biasa perjalanan kutempuh selama 90 menit, dari daerah suburban Surabaya menuju ke tengah pemukiman kota sidoarjo. Namun kali ini  ada yang tidak biasa. Lingkungan rumah Nadia menjadi tidak familiar. Kali ini aku disuruh melewati jalan kecil dengan semak hitam di sisi kiri dan kanan. Ujungnya adalah rumah besar yang sangat gelap dan mencekam, mungkin mansion  lebih tepatnya. Setelah melewati pagar luar, Nadia memintaku untuk terus berjalan di atas motor, bahkan diminta untuk menabarak pintu kaca depan rumah. *BRANG!!* aku menabrakkan motorku di pintu kaca mansion itu. Anehnya diikuti dengan pecahnya seluruh bagian depan mansion itu.
Waktu menunjukkan pukul setengah tiga malam. Aku menjauhkan kaos hitam penutup mataku. Mengucek-ngucek mata. “ah…. Mimpi yang indah… namun di satu sisi beitu pahit” aku terduduk diam begitu lama di atas kasurku.


[ mono - legend ]

Sabtu, 02 Maret 2013

Semua Begitu Kejam Namun Benderang


“Kamu bilang semuanya akan berakhir sempurna?”. Piring hadiah mie instant itu melayang akurat ke dahiku, untungnya refleksku jauh lebih cepat, kalau tidak bisa dapat sepuluh jahitan di bagian alis, “Bersabarlah, ini semua belum berakhir, lihat jiwa kita masih berada dalam jasadnya belum lepas” aku terengah-engah, kau mulai mengambil piring ketigamu dengan sesenggukan. Lemparan ketiga pun berlangsung kali ini piring mahal Chinese dish yang kau lempar. Aku sudah berlari menjauh dari ruang makan. “apa guna kesakitan ini mas? Apa gunanya? Apa kau tak tahu sebegitu inginnya aku melepas putaran kesengsaraan ini…” kau tertunduk, hanya lesakan nafas yang terdengar, sesekali terdengar raungan lemah, “maafkan aku Nadine, sepertinya kau harus diam sebentar disini, aku harus mengurus sesuatu”. “ tunggu mas, ini belum selesai, mas.. berani sekali kau pergi, tunggu!! “ aku tak melihat ke belakang, aku memantapkan langkahku menuju ruang tamu. “apabila pintu ini terbuka, aku akan terlepas dari semuanya”. aku menekan kenop pintu utama rumah ini. Sebuah rumah dimana aku akan selalu terikat oleh dunia, dimana aku tidak akan pernah tenang, ah… maafkan aku Nadine aku telah berbohong padamu. Tapi kau harus kuat demi janin yang kau kandung, maafkan aku harus berbohong padamu…. Aku tak pernah lagi berada dalam jasadku, ya aku telah terlepas lebih dulu. Sedangkan kau masih memiliki tanggungan membesarkan anak itu. Kau harus tetap hidup. Sampai berjumpa di lingkaran kosmik sayang, aku akan selalu mengawasimu dari sana.
“Maaf mas, kamu benar, aku tahu maksudmu meninggalkanku…. Anak ini tidak boleh tahu siapa dirimu tapi aku yakin, anak ini adalah harapan terakhir bumi…. Kelak, kaulah yang akan menyelamatkan kita dari para raksasa bermata satu itu” Nadine mengelus perutnya dengan penuh kasih sayang, senyumnya terkembang lamat diiring sesekali tetesan air matanya. Sejenak cahaya matahari menyinarinya dari jendela dapur, “ah sinar matahari, sudah berapa lama aku tak merasakan hangatnya”. Nadine menoleh melihat kearah jendela. Ya, hanya puing dan reruntuhan disana, tapi kelak, selama harapan manusia tak berakhir, mereka bisa bngkit kembali.


[30 days 30 song to prose : All is Violent All is Bright by God Is An Astronaut]

Jumat, 01 Maret 2013

Be Mine


Sudah aku pertaruhkan semuanya, aku manjakan dirimu dengan apa yang aku punya, akankah kamu meyakiniku sebagai pasanganmu? Harus, tidak bisakah kamu lihat semua harta yang kuhabiskan untuk membelikanmu sekadar hadiah kecil untuk momen-momen berhargamu? Waktuku untuk setiap peristiwa dukamu? Aku merelakan diriku untukmu, bahkan andai bintang-bintang yang berkilauan dan tergantung di atasku ini adalah milikku, aku mengikhlaskan kau ambil. Tapi satu hal, aku ingin kau jadi milikku.
Aku hanyalah seorang karyawan kantoran biasa yang bahkan seringkali susah mengatur laju keuanganku. Kamu seorang gadis yang mesih menghabiskan waktumu bersenang-senang bersama teman-temanmu dan kuliahmu. Meskipun dengan harta yang pas-pasan aku merelakan penghasilanku untuk mentraktirmu makan, mengajakmu nonton, membelikanmu pulsa, bahkan aku selalu membelikan belanja bulanan untuk persediaanmu di kost. Aku juga selalau ada untukmu, aku mempersilakan dirimu untuk meminta bantuanku tanpa harus ada rasa sungkan. Hampir setiap hari aku mengantar jemput dirimu dari kampus ke rumah kostmu, aku ada di setiap galaumu, memberimu semangat, bahkan  kalau perlu aku juga selalu mengejekmu hamu sekedar untuk becanda, tiap malam tubuhku terasa lelah sekali. Sepulang kerja terkadang kau membutuhkan sesuatu, yah tapi semuamu itu kulakukan dengan sepenuh hati, ya, karena aku menyukaimu.
Rayuanku tak pernah masuk ke dalam dirimu, kenapa denganmu? Aku sudah merelakan diriku sepenuhnya untukmu, tapi responmu terhadap rayuanku selalu saja negatif, kau hanya suka bahan obrolan ringan seolah aku ini seorang teman biasamu. Tapi kadang aku berpikir, ya ini sebuah tahap, dan suatu saat aku pasti bisa menuju tahap berikutmu. Aku tetap berusaha optimis suatu saat kau bersedia untuk jadi milikku.
Malam itu adalah puncaknya, malam itu adalah tanggal dimana aku bertemu denganmu, aku memberanikan diriku untuk mengatakannya padamu, dengan sekotak cincin emas bermata berlian di dalam saku celanaku. Aku sudah memesan tempat di restoran premium yang bahkan kita tak pernah sama sekali kesana. Kamu sudah menghabiskan dessertmu namun ternyata kamu memiliki pertanyaan yang mengganjal semenjak kita berdua memasuki restoran ini. “Katamu ini acara kantor, dimana teman-teman dan bosmu?” kamu bingung sembari celingukan melihat meja-meja lain tanpa seorang pun rekan kerjaku. “ah, aku sudah terlanjur mengenakan gaun prom ku, ternyata kau berbohong, sebenarnya ada apa sih?”
Aku terdiam, menunduk, mengambil nafas dalam-dalam.
Aku mengambil kotak cincin itu dari saku celanaku
“Nay, kita sudah saling mengenal selama sepuluh tahun, kita bersahabat semenjak kita berdua masih remaja, namun kamu mungkin tidak mengetahui bahwa sebenarnya aku menyayangimu lebih dari sekedar sahabat, atau bahkan lebih dari sekedar ‘abang’, karena itu maukah kau menjadi lebih dari sekedar sahabatku, rekanku, kekasihku, …. Istriku, I love you nay, please be mine “
Dia tersenyum, kulihat pula basah di tepi matanya.

[Fiction from a song day 1 : The Heavy - Be Mine]

Rabu, 13 Februari 2013

Nadia dan Supernova


Aku bertemu Nadia lagi dalam mimpiku. Dia datang kepadaku ingin minta bantuanku untuk ikut repot di sebuah pementasan menyambut event... ah lupa, event apa saat itu... Setelah melewati masa putus selama satu setengah tahun. aku hanya bisa canggung. Bingung mau berkata apa. Nadia yang terus mengambil inisiatif pembicaraan, mengenai rencana seperti apa pementasan tersebut. Kami berjalan berdua menyusuri sekolah nadia, saat itu Nadia berseragam osis putih abu-abu. Pertama kami membicarakan pementasan itu di kantin sembari makan siang lalu berpindah ke sebuah pohon besar dekat lapangan basket sekolah. Sesekali aku melihat raut wajahnya yang penuh semangat menyampaikan gagasan-gagaasan kreatifnya. aku hanya bisa berucap dalam hati "hai nad" "apa kabar?" "ngapain aja kamu selama satu setengah tahun ini setelah berpisah denganku?" "apa kamu sekarang punya pacar baru?". Tak fokus aku dengan gagasan yang dia sampaikan aku hanya memandangnya nanar. mencoba mencari jawaban atas pertanyaan dalam bathinku itu. Aku lebih tua dari nadia dua tahun, nadia saat ini kelas tiga SMA sedangkan aku sudah berkuliah semester dua di salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Kita dulu bertemu di facebook, bermula dari curhat kecil Nadia yang sedang di stalking mantannya, aku mencoba membantu sebisaku, dan berakhir dengan berpacaran. Kisah kasih itupun hanya berlangsung selama satu setengah tahun, entah mungkin karena sindrom inferioritas yang aku miliki dan Nadia yang terlalu jenius yang membuatku merasa inferior.

Sekarang kami berdua berada di depan ruang baca sekolah Nadia. tetap saja aku tidak menghiraukan yang dibicarakannya. aku hanya terus memandanginya berceloteh. Memandangi dengan nanar. Pertanyaan dalam hatiku masih tidak terjawab. Entahlah, pada akhirnya aku membantu pementasan itu. Candaan kecil dan tawanya yang khas, sudah lama sekali aku tak mendengarnya, kangen sekali mendengarnya. Aku suka suaranya, ketika dia bersenandung, dia memiliki suara yang renyah namun indah, maklum dia adalah anggota paduan suara di sekolah, selain itu setelah lulus dia juga ingin menjadi seorang penyiar radio. "Gimana mas che?" tanyanya membuyarkan lamunanku tentangnya "ha? ya gitu aja udah bagus" aku terhenyak dan menjawab sebisaku. Ah tersenyum, aku selalu menyukai senyumnya yang lebar, tampak begitu optimis, seolah masa depan cerah menanti kita.


Malam itu aku keluar dari bumi, menuju sebuah panggung raksasa di perbatasan luar tata surya matahari. Aku berada di panggung tersebut, melihat-lihat, sebuah panggung yang begitu besar, dengan screen putih, korden merah besar yang terbuka, dan lantai kayu jati yang kokoh. aku terduduk di ujung panggung. terdiam dalam lamunan melihat perputaran planet tata surya. namun tiba-tiba aku terkejut. Matahari mati, terjadi supernova dahsyat yang membakar permukaan seluruh planet yang ada di tata surya. aku tak kuat menahan silaunya. dan tekanan dari ledakannya mendorongku beberapa mil dari ujung panggung. aku membesarkan ukuran tubuhku, mendekati bumi, berjalan pulang. Ketika aku samapi di dekatnya bumi sudah separuh dihisap oleh black hole sisa ledakan matahari. aku mengecil dan mencoba masuk ke dalam bumi. tidak ada yang tersisa semua musnah jadi abu. Tidak ada lagi udara, aku melayang mengelilingi bumi tapi tak ada siapapun disana. aku memutuskan untuk keluar dari bumi. kembali membesar aku memeluk bumi, dan menitikkan air mata. aku berjalan mundur, membiarkan lubang hitam itu menghisap bumi seluruhnya. setelah semuanya kosong aku berjalan menelusuri berbagai galaksi, hingga pada akhirnya aku terhenti pada tata surya yang mirip sekali dengan tata surya milik matahari, hanya saja yang ini lebih besar dengan susunan planet yang lebih banyak. aku menemukan planet mirip sekali dengan bumi, hanya saja ukuran planetnya lebih besar dua atau empat kali dari bumi. aku masuk kedalam, aku bertemu sebuah keluarga, mereka menerimaku dengan baik, saat makan malam tiba  aku menceritakan asal-usulku dan planet yang aku diami. mereka tampak begitu antusias mendengarkan ceritaku. akupun tak menghentikan ceritaku meskipun sudah empat jam berlalu.

Kamis, 31 Januari 2013

Akhir Bulan di Awal Tahun

Dia masih terkapar di sudut kamarnya yang dipenuhi bau busuk makanan basi, pakaian kotor, dan berbagai macam tumpahan cairan tak jelas yang mulai mengering dan berkerak. "Mau kuambilkan makanan?" sepertinya aku mulai terbiasa bau kamarnya, karena sekarang aku sudah berada di dalamnya dan menawarkan diri mencoba menolong sebisaku. Sepintas ia melirikku dengan lesu, kemudian menggeleng semampunya. Kemudian aku mendekatinya dan duduk di sebelahnya, dia menyandarkan kepalanya ke bahuku. "Januari sudah hampir berakhir... besok aku gajian, ke Mbok Nah yuk.. mungkin nasi pecelnya bisa merecharge semangatmu?" aku mengelus rambut maroonnya yang acak-acakan. Dia hanya mendesis. "Kamu benar-benar ingin pulang sekarang?" aku mulai memberanikan diri menanyakannya langsung. Jeda diam yang lama. Sudah sepuluh menit berlalu pertanyaanku tak terjawab. Kulirik sejenak dia sudah terlelap di bahuku. Tak lama kemudian aku menyusulnya.


Pintu apartemenku terbuka, sebuah cahaya benderang menyilaukan menelusup masuk dan sebentuk siluet sudah berada di depanku. "Kenapa kau lama sekali... apa yang menahanmu.... " Aku menahan haruku, setetes airmata melaju pelan dari sudut mataku. "Aeon... ibumu sudah datang menjemputmu, ayo bangun" Aku mencoba membangunkan makhluk cantik yang melelehkan salivanya di bahuku itu. Sosok siluet itu kemudian mendekat "Etherion, lihatlah anakmu ini, dia begitu merindukanmu, sudah berhari-hari ini semangatnya hilang". Mata berbinar itu melirik ke arahku kemudian sepotong senyum sangat indah kuterima darinya. "Terima Kasih Chintya, telah merawat anakku selama ini" Suara Etherion yang indah itu, lama sekali tak mendengarnya, "Kapan aku bisa bertemu denganmu dan Aeon lagi Etherion?" Aku mengangkat sedikit tubuh Aeon dan menyerahkannya ke pelukan Etherion. Etherion hanya tersenyum penuh makna, kemudian dia menaruh telunjuknya ke dahiku.

...

31 Januari 2213
"Ah pertemuan itu seperti mimpi... " sembari kulihat lagi foto itu. Tak terasa sudah dua ratus tahun aku berada disini. Seberkas aroma manis menelisik dari arah belakang. "Jadi hari ini kita sarapan energi kosmik supernova lagi ya". Etherion kembali menaruh telunjuknya di dahiku... Damai sekali rasanya.

[che,31113]

Galau

: " moving my f**ing ass right now hap hap hap " ~me

Blogroll

: " we were slave of modernization and machine civilization " ~me